Strong Woman

Strong Woman
bab 30



Angeline kini berada di dalam mobil menuju kediaman mewah Dylan. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan melalui udara.


Angeline dengan terpaksa mengikuti keinginan Dylan untuk bertemu keluarga pria itu.


Dylan mengancam akan kembali ke negara asalnya dan tidak akan kembali lagi. Angeline pun terpaksa menurutinya, wanita itu tidak ingin mengambil resiko, apabila kejadian sewaktu James menyerangnya dengan menggunakan ilmu sihir.


"Kita sudah tiba. Bersikap baiklah, mommyku wanita yang memiliki tatapan tajam," ujar Dylan, sengaja mengatakan hal itu, agar Angeline tidak melakukan sesuatu yang akan membuat keluarga besarnya tercengang.


Angeline hanya diam, mengamati bangunan mewah dan megah di hadapan. Raut wajahnya terlihat sangat biasa, tidak ada mimik antusias, yang ada hanya tatapan datar saja.


Membuat Dylan menarik nafas panjang, melihat ekspresi wajah Angeline.


"Please, tampilkan wajah ramah pada mereka!" Pinta Dylan, yang menatap Angeline dengan tajam.


Mereka yang sedang berjalan menuju ruangan khusus keluarga, harus berhenti, saat Angeline mendengar perintah suaminya.


Wanita itu menatap lekat wajah rupawan Dylan sambil memiringkan kepala juga tersenyum sinis.


"Aku bukan boneka atau robot yang harus mengikuti apapun yang kau perintahkan," sahut Angeline, meninggalkan Dylan yang hanya bisa melongo mendengar jawaban istri kakunya.


Pria jangkung itu kini menyusul langkah Angeline dengan perasaan yang tidak karuan. Antara khawatir, istrinya akan membuat masalah.


"Tuan muda Roberts, anda sudah kembali?" Dylan menghentikan langkah, begitupun dengan Angeline, saat di sambut sapaan hangat dari seorang wanita paruh baya dengan penampilan sederhana namun terlihat bijaksana juga kelembutan dari karakter wanita ini.


"Bibi Sofia!" Seru Dylan, tersenyum lebar membalas sapaan hangat wanita di depan mereka.


Dylan segera memeluk wanita yang rambutnya sebagian sudah memutih itu juga mengecup kedua pipinya.


Angeline terdiam, mengamati gerak dan bahasa tubuh wanita itu. Tidak mungkin dia keluarga Dylan. Soalnya ia memanggil dengan sebutan tuan.


Angeline tersedak, saat mendengar suara Dylan yang memperkenalkan dirinya pada wanita tersebut.


"Sayang, kemarilah!" Pinta Dylan dengan panggilan yang membuat Angeline begitu jijik. Menatap pria itu dengan tajam, namun di balas dengan senyum lebar oleh Dylan.


Pria itu juga dengan beraninya, merengkuh pinggang rampingnya sambil memperkenalkannya pada semua orang yang ada di depan mereka.


"Bibi Sofia, kenal, di Angeline istriku," pungkas Dylan dengan raut bangga.


Wanita setengah baya di depan mereka yang sebelumnya tersenyum, kini mengganti raut wajahnya dengan teliti. Ia memindai wanita yang berada di pelukan tuan mudanya.


Ia seakan mencari sesuatu yang sangat rahasia pada Angeline, membuat wajah wanita itu tidak suka.


"Harap perhatikan sikap anda, nyonya. Sangat tidak sopan memperhatikan seorang seperti itu dengan detail. Aku kesini untuk memperkenalkan diri, bukan untuk mencuri." Ucap Angeline dengan tegas juga wajah dingin.


Membalas tatapan bibi Sofia yang terang-terangan tidak menyukainya.


"Maaf, nona. Aku hanya ingin yang terbaik untuk tuan muda Roberts. Sebagai orang yang mengasuhnya dari kecil dan menganggap dia putra sendiri, aku hanya ingin ia menemukan wanita terbaik." Wanita itu menjawab dengan ucapan lemah lembut namun Angeline bisa melihat sorotan tidak suka di mata wanita ini.


Angeline tersenyum miring, mendengar ucapan bibi Sofia yang ternyata hanya seorang pengasuh. Namun sikapnya begitu tinggi, seakan-akan ia adalah nyonya di kediaman ini.


"Ck, aku pikir dia keluargamu, ternyata hanya seorang pelayan," gumam Angeline lirih, menatap Dylan yang membeku di tempatnya. Memohon pada Angeline untuk berhenti mengeluarkan kata-kata pedas yang menyinggung.


"Saya memang hanya pelayan, namun status saya di sini sangat di cintai semua orang," sela bibi Sofia yang masih mempertahankan sikap lemah lembutnya juga senyum palsu.


"Ingat juga kau memiliki batas di sini. Bedakan mana sesama pelayan juga majikan, agar bibi Sofia tidak terlalu dalam mengurusi pribadi tuanmu." Angeline berhasil membuat wanita itu bungkam dengan wajah menahan amarah. Melirik tuan mudanya yang hanya terdiam dengan wajah tegang.


"Tapi di—"


"Aku tidak ingin menghabiskan waktu berhargaku hanya ingin mengetahui seluruh nama pelayanmu di sini," Angeline memotong ucapan suaminya, membuat Dylan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya tersenyum tidak nyaman pada pengasuhnya.


Dylan pun melewati bibi Sofia begitu saja, dengan Angeline mengikuti dari belakang. Wanita itu tersenyum sinis, melihat wajah asli bibi Sofia yang diperlihatkan padanya.


"Dasar wanita desa. Dia begitu berani menantangku. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan padanya." Bibi Sofia berkata dalam hati, menyoroti punggung Angeline dengan tajam dengan kedua tangan terkepal kuat.


Angeline memasuki kediaman suaminya dengan penampilan sederhana, celana jeans yang sengaja ia robek di bagian paha dan lututnya. Di padukan dengan kaos hitam dan jaket denim. Membuat penampilan Angeline terlihat lebih fresh dan jauh dari kesan formal dan kaku.


Angeline menelisik setiap ruangan yang ia lewati menuju satu ruangan yang ada di depan sana.


Meskipun Mansion milik suaminya begitu megah, wajah Angeline terlihat biasa saja. Ia hanya tertarik dengan pajangan lukisan di dinding juga beberapa guci-guci antik.


Bibi Sofia yang melihat tatapan Angeline, tersenyum remeh, ia pikir Angeline adalah seorang wanita kampungan yang baru memasuki kediaman mewah.


Dylan membuka pintu kokoh di depannya, seketika terdengar suara ramai di dalam sana.


Angeline mengalihkan perhatian dengan wajah mengkerut dalam.


"Aku mohon, bersikap manislah!" Pinta Dylan sengaja merapikan rambut Angeline dan berbisik.


Angeline hanya diam, dan kembali melangkah. Saat telapak tangannya digenggam oleh Dylan.


____


Angeline dan Dylan di sambut oleh keramaian di dalam ruangan itu, di mana semua orang kini berkumpul dalam satu di sebuah meja bundar besar. Terlihat beberapa menu masakan tersaji di atas meja.


Mereka yang sedang menikmati makan malam sambil bercakap-cakap dan bercanda ria tidak mengetahui kehadiran Dylan dan Angeline.


Angeline dan Dylan masih terdiam di depan pintu dengan pandangan lekat ke arah meja makan yang diisi sekitar 10 orang dewasa.


"Putraku!" Seru seorang wanita anggun yang Usain sekitar 50 tahun, tidak sengaja melirik ke arah pintu dan melihat putranya berada di sana.


Semua orang yang ada di meja makan kini mengalihkan perhatian pada Angeline dan Dylan.


"Putraku, akhirnya kau kembali," ucap wanita yang berpenampilan anggun dan modis mendekati Dylan.


Angeline hanya terdiam mengamati interaksi wanita ini dan suaminya.


"Mom," sahut Dylan, membalas pelukan sang mommy dengan hangat, meskipun wajah pria itu terlihat sedikit muak.


Apalagi ia melihat sosok wanita liar dan licik yang akan dijodohkan dengannya.


"Bagaimana kabarmu, son. Lihat, Liza juga berada di …."


"Mom, kenalkan, dia istriku. Angeline." Dylan segera menyela ucapan sang mommy dengan memperkenalkan Angeline.


Wanita yang rambutnya dibiarkan terurai kini memusatkan perhatian pada wanita di samping putranya. Ia terlihat memindai penampilan juga wajah Angeline.


Jujur ia sangat kagum dengan kecantikan Angeline, namun tidak menerima saat melihat penampilan Angeline yang sangat sederhana. Tanpa ia perhatikan lebih jauh outfit yang Angeline pakai, memiliki harga mahal yang merupakan milik branded ternama.