
Angeline telah tiba di kediaman mewahnya. Kediaman yang memiliki lantai 5. Mansion yang berada di kawasan pribadi dengan tanaman hijau mengelilingi kediaman mewah itu.
Angeline berjalan dengan penuh kharisma menuju pintu utama Mansion, disambut oleh para pelayan dengan tubuh setengah membungkuk.
Dengan sigap dan penuh etika, kepala pelayan melepas baju hangat Angeline, salah satu pelayan lain mengambil alih tas mahal wanita itu.
Angeline kembali melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas di mana kamarnya berada sekarang.
Kepala pelayan dan pelayan pribadi Angeline setia mengikuti di belakangnya.
Wanita itu sungguh terlihat beraura pemimpin yang tegas dan penuh wibawa.
"Nona muda!" Seru salah satu pelayan dengan tubuh membungkuk.
Angeline tidak menjawab, namun tatapan tajam yang ia berikan kepada pelayannya itu.
"Makan siang sudah kami siapkan, nona," pelayan itu berkata dengan tubuh wajah yang ketakutan.
"Aku lelah, kalian saja yang memakannya!" Pinta Angeline, kembali melanjutkan langkahnya.
Pertemuan dengan sosok pria yang wajahnya begitu sama dengan suami di kehidupan sebelumnya, membuat Angeline begitu jengah dan lelah.
Sebelum membaringkan sejenak tubuhnya, Angeline mendatangi kamar putranya.
Menanyakan kondisi putranya itu kepada dokter yang menjaga dan memeriksa kondisi bayinya satu jam sekali.
"Kondisi tuan muda, sudah lebih membaik, nona. Kami hanya perlu terus mengawasinya," ujar sang dokter menjelaskan.
Angeline kembali diam, namun tatapannya begitu lekat menatap bayi mungil di depan sana.
"Kalian keluarlah, akan akan menjaganya!" Titah Angeline yang akan menemani putranya.
Wanita itu berjalan menuju ranjang bayi. Masih terlihat beberapa alat medis yang terpasang juga detak jantung yang setiap saat baru di periksa.
Angeline mengusap salah satu wajah putranya yang terlihat lebih membaik daripada sebelumnya.
Lama ia menatap bayi mungil itu, Angeline di serang rasa ngantuk.
Ia berjalan mendekati ranjang, lalu membaringkan tubuh lelahnya di sana.
Tidak membutuhkan waktu lama, Angeline akhirnya dapat tertidur lelap, tanpa gangguan siapapun. Ia juga tidak mengetahui keributan yang terjadi di kediaman.
Keduanya merupakan orang licik yang selalu memeras Angeline sebelumnya.
Mengetahui wnqita itu masih hidup, di saat mereka baru akan merayakan kematian wanita itu, namun tiba-tiba sebuah kabar mereka dengar tentang kabar munculnya kembali Angeline.
Tapi mereka juga begitu bahagia, karena hari ini keduanya akan meminta hak mereka yang merupakan bagian dari keluarga Will.
"Lepaskan kami! Biarkan kami masuk. Kalian semua menjijikkan, berani memegang kami!" Pekik seorang wanita yang usianya sekitar 45 tahun. masih cantik dengan penampilan elegannya. Namun siapa yang tahu dia hanya seorang wanita benalu di keluarga Will.
"Maafkan kami, tapi kami tidak ingin membiarkan seorang asing memasuki kediaman ini," tukas kepala pengawal dengan suara tegas.
"Apa! Orang asing kalian katakan! Hey, manusia rendah! Apa kau tidak mengenalku sebagai salah satu istri tuan William Will? Aku wanita yang paling dicintainya dan dia, putriku yang seharusnya menjadi pewaris ini semua, karena dia merupakan putri tertua." Wanita itu begitu lantang mengatakan pada semua pengawal yang berani mencegahnya, kalau keduanya adalah anggota keluarga Will yang lain.
Para pengawal tetap tidak memberikan izin untuk masuk, sesuai dengan peraturan baru yang sang nona berikan, tidak ad yang bisa memasuki Mansion selain perintahnya.
"Kalian tetap tidak boleh berada di dalam, sampai nona muda sendiri yang menyetujuinya," pungkas sang pelayan dengan wajah tegas.
Membuat kedua wanita itu meradang dan mencoba menerobos masuk ke dalam, akan tetapi para pengawal Angeline begitu tangguh untuk melancarkan niat mereka.
Lelah mencoba, wanita setengah baya itu pun memaki para pelayan sambil menunjuk satu persatu wajah mereka.
Wanita itu bahkan berkata penuh ancaman, sambil menahan geramannya.
Wanita muda pun terlihat sangat kesal, karena tidak bisa menikmati fasilitas di Mansion mewah tersebut.
"Akh, dasar kalian semua manusia tidak memiliki etika dan sampah!" Gertak wanita tersebut yang semakin membuatnya meradang.
"Lihat saja, kami akan memanggil orang yang akan membuat kalian semua terkejut!" Ancam wanita itu dengan wajah marah.
Keduanya menolak diperlakukan buruk dan tidak terhormat dari seorang pelayanan rendahan.
"Kami juga akan membuat, wanita sialan itu menyesal. Atas perlakuannya kepada kami!" Sela wanita muda yang wajahnya begitu merah menahan amarah.
Tidak mendapat respon, keduanya pun meninggalkan kediaman mewah itu dengan perasaan kesal.
"Aku berjanji, akan membuat wanita sialan itu menyesal, sudah membuatku malu," ucap wanita muda kepada ibunya.
"Tenanglah, kita pasti akan memberikannya pelajaran dan kali ini kita harus memaksanya menandatangani surat kuasa itu," timpal wanita yang lebih tua. Menampilkan wajah penuh kelicikan dan meremehkan Angeline, tanpa memperdulikan perubahan pribadi Angeline.