
"Kau serius ingin melepaskan mereka semua?" Dylan bertanya pada Angeline, mengenai para pemegang saham di perusahaannya yang diusir dengan begitu hina.
Pria itu sungguh tidak percaya dengan pikiran istrinya yang mengambil keputusan begitu gamblang, tanpa memikirkan konsekuensinya kelak untuk perusahaan WQ group.
"Kau tidak takut dengan perlakuanmu pada mereka akan mempengaruhi perusahaanmu ini," seru Dylan, menatap wanita yang kini tampak begitu santai dan tenang.
"Tidak, untuk apa aku memberikan ruang pada mereka. Yang jelas-jelas melakukan kecurangan. Mengambil keuntungan lebih dari kesepakatan kerja. Bukankah, orang seperti mereka seharusnya di bumi hanguskan? Agar ketentraman dan kepercayaan di perusahaan ini terus terjaga." Angeline berkata dengan intonasi suara yang rendah, namun terlihat sangat tenang. Seakan tidak memiliki sedikitpun masalah.
Dylan hanya bisa menatap heran, baru kali ini melihat seorang pengusaha yang lebih mementingkan harga diri dan egonya.
"Perusahaan ini sudah lebih baik, sebelum mereka semua datang dan mengemis pada kakek. Jadi … untuk apa aku harus mempertahankan mereka?" Angeline melanjutkan ucapannya sambil menatap Dylan.
Wanita itu memperlihatkan wajah biasa saja dan tidak ada raut khawatir di wajahnya.
"Kalau begitu, biarkan aku ikut bergabung dengan perusahaan ini," sentak Dylan dengan sangat yakin. Sungguh menemukan klien seperti istrinya akan memberikan suasana berbeda.
Angeline mengernyit keheranan, mendengar ucapan Dylan. Wanita itu masih menganggap suaminya ini hanyalah seorang pria miskin dan bekerja sebagai buruh lepas.
"Apa yang kau katakan? Bekerja sama denganku? Bro, jangan terlalu bermimpi, lebih baik kau membuatkan aku minuman dingin," sergah Angeline, menggelengkan kepala mendengar ucapan nyeleneh suaminya.
Dylan merasa tersinggung dengan perkataan Angeline, bagaimanapun ia harus menjelaskan pada istrinya, kalau dia bukanlah seorang pelayan, melainkan seorang tuan muda.
"Aku tidak sedang bercanda, aku benar-benar serius," ucap Dylan yang kini berdiri tepat di hadapan sang istri.
"Yah, aku juga sedang tidak bercanda. Cepat lakukan yang aku perintahkan, kalau tidak …." Angeline melirik jendela kaca besar di samping meja kerjanya.
"Tidak masalah, kalau kau tidak percaya. Aku akan membuktikan kepadamu, kalau aku adalah seorang tuan muda." Cetus Dylan, merasa jengah dengan ucapan istrinya yang selalu meragukannya.
Angeline hanya bisa mengangkat kedua bahu, mengabaikan ucapan suaminya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
🌹🌹🌹
"Sial. Wanita itu tidak percaya denganku. Aku harus memberikan pemahaman pada wanita kaku itu, kalau aku bukanlah pria payah dan pecundang." Dylan kini berada di pantry khusus di lantai paling atas di mana ruangan pemimpin perusahaan berada.
Pria itu terlihat menghubungi seseorang di seberang sana, ia juga tampak sangat serius membicarakan sesuatu.
Dylan melupakan tentang perintah yang diberikan oleh, Angeline.
Pria berwajah tampan dan bertubuh ideal itu, terus berbicara serius, tanpa menyadari beberapa karyawan kini menatapnya dengan heran dan tidak suka.
Ketiga pegawai magang di perusahaan tersebut, sangat membenci Dylan yang mereka kenal dengan karyawan baru, namun memiliki kedekatan begitu intens.
Membuat rasa iri terbesit di pikiran dan hati mereka. Apalagi mereka sudah bergabung dengan perusahaan WQ group, namun tidak memiliki hubungan terlihat sangat intens.
"Wow, lihatlah bro! Ternyata ada anak baru nih," seru salah satu staf magang di sana. Merupakan seorang pria muda yang berasal dari keluarga sederhana.
Dylan masih asyik bertelepon, tanpa pria itu sadari kini ia sedang dikelilingi beberapa staf dengan pandangan tidak suka.