Strong Woman

Strong Woman
bab 11



Angeline kini terlihat berjalan menuju pintu utama Mansion. Wanita itu meminta bayinya untuk dirawat di Mansion mewahnya saja.


Tidak ada yang bisa membantah wanita itu, yang pada akhirnya, pihak rumah sakit mengeluarkan izin, meski kondisi sang bayi masih dalam masa kritis.


"Terus perketat penjagaan di kamar putraku, jangan sampai kalian lengah, pasti kalian tahu akibatnya seperti apa." Angeline berhenti di hadapan para pengawal juga puluhan pelayan yang baru. Semua pelayan yang terdahulu sudah ia singkirkan.


Sekarang waktunya Angeline memberikan peraturan kepada para pelayannya, agar kelak tidak melakukan kesalahan seperti sebelumnya.


Para pengawal juga pelayan hanya menunduk kepala dengan tubuh sedikit membungkuk. Tidak boleh ada yang mengangkat kepala, selama sang nona muda masih berada di hadapan.


"Jangan biarkan satu orang asing pun, memasuki Mansion ini. Periksa dengan teliti setiap ada yang memasuki Mansion." Kembali Angeline memberikan titah kepada kepala pengawal juga kepala pelayan yang baru.


"Semua tanggung jawab di sini aku serahkan kepada kalian. Ingat, aku paling menolak kesalahan sekecil apapun. Dan aku tidak akan memberikan kesempatan kedua, mungkin saja aku langsung membuatnya berpindah alam," pungkas Angeline, yang seketika membuat seluruh tubuh pelayan dan pengawalnya gemetar.


Angeline tersenyum, seharusnya sang pemilik tubuh memiliki ketegasan juga sikap bengis, agar tidak terlalu disepelekan dan akhirnya di injak-injak oleh kaum rendahan seperti pelayan.


"Kembalilah, bekerja. Ingat, aku tidak menyukai kesalahan juga kelalaian. Lakukan pekerjaan kalian sesuai tugas yang diberikan!" Pinta Angeline, setelah itu, ia pun melanjutkan langkah menuju mobil mewah yang sudah terparkir di depannya.


"Kita ke perusahaan. Aku juga perlu menata kembali aturan di sana. Pasti lebih banyak lagi kesalahan di sana." Wanita itu memberikan arahan kepada sopir pribadi agar membawanya ke perusahaan.


Angeline yakin, begitu banyak para penjilat juga sampah koruptor di sana.


Beberapa menit kemudian, Angeline sudah tiba di depan bangunan tertinggi di kota itu. Bangunan megah yang terlihat paling mencolok, dari bangunan-bangunan lainnya.


Angeline keluar dari mobil setelah seorang penjaga membuka pintu untuknya.


Raut tegas juga serius yang tergambarkan di wajah cantik wanita itu.


Tatapan tajamnya kini menghunus sekitar lingkungan perusahaan yang begitu buruk menurutnya.


Ia memberikan kode kepada pengawal setia untuk mengumpulkan para karyawan bawah bawah atas untuk berkumpul di aula perusahaan.


Angeline pun mulai melangkah menuju pintu lobby perusahaan, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil sport super mewah melintas di depannya.


Angeline menatap penuh serius ke arah mobil itu dengan diikuti empat orang pengawal juga satu orang pelayan pribadi.


Tatapan Angeline menyoroti mobil mewah dengan harga selangit itu. Hanya seorang yang memiliki harta berlimpah yang mampu membelinya.


Alis mata Angeline terangkat sebelah, saat melihat seorang wanita cantik dengan berpenampilan menarik juga modis keluar dari mobil mewah itu.


Tampak wanita bertubuh seksi dan berambut pirang itu, begitu sombong saat melihat tatapan para karyawan lainnya.


Angeline tersenyum sinis, tebakannya benar, begitu banyak maling di perusahaannya dan kali ini waktunya untuk membersihkannya.


"Tebakanku memang benar dan target pertama adalah dia. Cih, mana ada mobil karyawan, yang menjabat sebagai manajer biasa, memiliki mobil super mewah mengalahkan mobil milik bos-nya sendiri, sungguh ini begitu menggelikan." Angeline berkata sambil terus menatap wanita di depannya yang sibuk berselfie ria.


"Masukkan dia ke daftar buku hitam, mungkin kita akan mendapat petunjuk darinya," perintah Angeline kepada pengawal yang bertugas untuk menjadi tangan kanannya.


Wanita berwajah cantik itu berjalan dengan elegan menuju pintu masuk lobby yang sudah disambut para karyawan.


Mereka semua menundukkan kepala dengan tubuh setengah membungkuk, memberikan penghormatan kepada atasan mereka yang kini kembali ke perusahaan.


Angeline terus melangkah, tanpa menghiraukan karyawannya, tatapan dingin juga raut tegas, membuat nyali para karyawan menciut.


Namun tidak dengan seorang karyawan wanita yang menempati kedudukan sekretaris dari direktur keuangan di perusahaan besar itu.


Angeline yang menangkap sikap wanita itu dari ekor matanya, menghentikan langkahnya.


Tersenyum sinis saat mendapat santapan pembukaan sebelum melakukan pembersihan di perusahaan miliknya.


Sementara wanita yang menjadi sasaran pertama Angeline, sibuk memainkan ponselnya.


Ia berani bersikap seperti itu, karena sudah tahu kehidupan malang sang pemilik perusahaan. Ia mengetahuinya dari atasannya yang menjadi kaki tangan Barack Jhonson.


Wanita bertubuh langsing itu pun memiliki keberanian juga sikap semena-mena, tanpa mengetahui perubahan sang nona muda.


"Kau," sentak Angeline tanpa membalikkan badan.


Membuat semua staf perusahaan saling memandang untuk mencari tahu yang di maksud oleh sang nona muda.


Kini tatapan semua staf tertuju kepada wanita yang bergaya santai dan meremehkan masih sibuk dengan ponselnya. Tanpa menghiraukan teguran sang pemilik perusahaan.


"Why?" Tanya santai, saat merasakan semua tatapan terarah padanya.


Ia bahkan menampilkan wajah mencemooh, saat Angeline ada di sana.


"Cih, dasar wanita menyedihkan," gumammya pelan saat melihat Angeline berhenti tepat di hadapannya.


Dengan wajah mencibir, ia ingin melangkah lebih dulu daripada Angeline. Membuat wanita berdarah bengis itu semakin tersenyum miring.


Tidak ada yang berani membuka suara saat dengan sengaja wanita berpakaian sedikit terbuka itu menyenggol pundak Angeline.


"Nona Yumna Steven, apa kau tidak memiliki atitude tehadap pemilik perusahaan ini?" Angeline berhasil menghentikan kedua kaki jenjangnya wanita itu untuk melangkah, membalikkan badan dengan wajah dan bergaya pongah.


"Kenapa aku harus tunduk kepada wanita lemah dan pecundang sepertimu, kau bahkan lebih pantas menjadi seorang pelayan busuk, cih," Yumna, begitu berani berkata sarkas di hadapan Angeline yang kini memberikan tatapan buas.


"Hey, kalian. Kenapa harus menyambut dan merendahkan harga diri kalian padanya, kalau harga dirinya saja sangat begitu rendah," kembali Yumna mengelaurkan kata-kata sarkas dengan wajah sinis, ia bahkan berani berdecak lidah.


Angeline sudah mengingatkan perbuatan wanita di depannya ini kepada jiwa asli sang pemilik tubuh yang selalu mendapatkan sikap semena-mena.


"Apa jabatanmu di sini, dan seberapa pengaruhnya kau di perusahaan, nona Yumna. Apa kau pemilik perusahaan ini, kau yang menggaji semua staf di sini? Sungguh sikapmu begitu arongan daripada pemilik perusahaan ini sendiri." Angeline melangkah dua langkah ke hadapan Yumna.


Memberikan tatapan mematikan yang membuat nyali Yumna seketika menciut. Rumor yang sempat ia dengar tentang perubahan sikap nona mudanya tidak ia percaya.


"Apa, apa yang akan kau lakukan padaku? Apa kau berani memecatku, cih, lakukan saja karena aku yakin tuan Barack dan Tyson tidak akan membiarkan itu," Yumna berani menantang Angeline sambil melipat kedua tangannya dengan membusung dada.


"Aku memang tidak akan memecatmu," sahut Angeline.


Yumna semakin pongah mendengar ucapan Angeline.


Angeline memajukan wajah lebih dekat pada wajah Yumna dan membisikkan sesuatu.


"Aku akan melenyapkan nyawa," bisik Angeline dengan suara pelan namun tegas diikuti suara kekekahan yang menakutkan.


Tubuh Yumna seketika menegangkan dan lemas, saat merasakan sesuatu tajam melukai permukaan perutnya.


Wajah sombong dan arogan Yumna seketika berubah pucat, dada yang tadi membusung kini terkulai lemas.


Tubuh wanita itu pun meluruh di atas lantai dengan cairan merah membasihi pakaian ketatnya.


Para staf lain yang menyaksikan kekejaman Angeline hanya bisa terdiam dengan tubuh bergetar hebat.


"Bawa dia ke ruangan belakang dan sampah lainnya, aku akan membersihkan perusahaanku dari sampah seperti mereka. Lihat dan jadikan ini sebagai pelajaran buat kalian, mulai sekarang harus ada yang menaati peraturanku dan jangan melakukan kesalahan walaupun itu secuil garam pun. Karena aku paling membenci sebuah kesalahan." Titah Angeline dengan raut wajah tegas dan penuh keseriusan juga kebengisan di sana.


Yumna hanya bisa menahan rasa sakit juga penyesalan karena tidak memercayai rumor tersebut.


Angeline menginjakkan kakinya di atas telapak tangan wanita itu dengan memasang wajah kejamnya.


"Katakan sebentarnya, kalau kau masih menyayangi nyawamu, nona Yumna," ucap Angeline pelan dengan senyum miring.


"Bawa dia!" Sentak Angeline, lalu melangkah menuju lift khusus.