Strong Woman

Strong Woman
bab 10



Angeline memeriksa suhu tubuh bayi di pangkuannya, meski terlihat kaku dalam menggendong bayi yang baru berusia beberapa Minggu.


Angeline memeriksa sekujur tubuh bayi yang tampak menguning, suhu tubuh meningkat drastis dan perut bayinya tampak membengkak.


Angeline menangkap keadaan darurat, bayi dalam genggamannya ini membutuhkan pengobatan secepat mungkin.


Angeline bahkan menjadi panik saat merasakan denyut nadi dan detak jantung bayi mungil itu.


Angeline mengangkat pandangannya, ia memerintahkan kepada pengawal untuk menyiapkan mobil segera.


"Cepatlah, kita harus segera menyelamatkannya!" Sentak wanita itu yang berlari tergesa saat menuruni anak tangga.


Wanita itu bahkan melemparkan sepatu berhak tinggi, yang menghalangi langkahnya. Angeline melewati dua anak tangga begitu saja.


Pelayan juga pengawal di belakangnya, hanya bisa terdiam, melihat kelincahan nona muda mereka.


"Aku merasa nona muda begitu banyak perubahan," gumam pengawal yang masih terdiam.


Siapapun yang melihat berubah Angeline, pasti tidak akan percaya, nona muda yang dulu, setiap melangkah akan terlihat anggun dan elegan.


"Cepatlah bergerak, kalau kau masih menyayangi kepalamu." Seru pelayan wanita yang segera berlari tergesa menuju mobil.


"Cepat jalan!" Bentak Angeline sambil menendang belakang kursi kemudi.


Membuat pria di balik kemudi terkejut dan kepala terbentur di setir mobil.


Angeline begitu panik, saat nafas bayi mungil itu semakin itu lemah, tidak terdengar lagi tangisan bayi. Percayalah, Angeline ingin sekali memiliki kekuatan berpindah tempat sekarang ini.


Tidak butuh waktu lama, mobil mewah yang Angeline tumpangi sudah berada di depan rumah sakit kota.


Angeline turun dari mobil dan berlari menuju pintu lobby, wanita itu berteriak kencang di lobby rumah sakit, membuat pengunjung disana mengalihkan perhatian.


"Apa yang kalian lihat, hah! Apa, kalian menunggu aku menghancurkan bangunan ini!" Bentak Angeline dengan ekspresi marah.


Mendengar teriakan Angeline, barulah beberapa perawat mendekat, di susul seorang dokter wanita.


Bayi berjenis laki-laki itu pun mendapatkan pertolongan di ruangan NICU. Angeline dan ketiga bawahnya setia menunggu di luar.


Angeline bahkan terlihat mondar-mandir, meskipun di zaman sebelumnya ia belum mendapat keturunan, namun ia memiliki jiwa keibuan yang besar.


Ia bahkan sangat senang melihat seorang anak kecil, walaupun ia di kenal kejam, namun di mata anak kecil, ia bagaikan seorang peri cantik.


"Bagiamana, apa yang terjadi padanya?" Angeline segera melayangkan pertanyaan dengan tatapan lekat ke arah sang dokter khusus anak.


Dokter wanita itu hanya diam, ia menghela nafas untuk sesaat, dokter itu juga hampir menyerah untuk menyelamatkan nyawa sang bayi.


"Kenapa kau diam, katakan!" Bentak Angeline, wajahnya tampak merah, ia sangat membenci seorang yang lambat dan terbata saat berbicara.


Dokter wanita itu terloncat, mendengar bentakan Angeline yang seketika membuatnya menciut.


"Dia mengalami kekurangan sel darah, yang mana membuat kondisi si bayi sangat lemah. Ini sangat berbahaya, kami akan menyiapkan perawatan khusus untuknya, kami juga harus melakukan observasi setiap saat. Jadi anda harap tenang dan jangan panik." Jelas sang dokter, dengan raut tenang.


Mendengar penjelasan sang dokter, Angeline terlihat berpikir sejenak. Tatapan kini terlihat dalam pada dokter di hadapannya.


"Jangan katakan di membutuhkan seorang pendonor," tebak wanita itu dengan selidik tajamnya ia lemparkan kepada sang dokter.


Dokter tersebut terlihat terkejut, namun memang benar, mereka harus memerlukan banyak darah untuk si bayi.


"Itu benar, nona muda. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih dalam lagi soal itu. Mungkin nona bisa menjadi pendonor untuknya, bisa juga dengan …."


"Daddynya," sela Angeline yang aura penakut terlihat jelas di dalam dirinya.


Dokter itu refleks menunduk kepala, ia mengangguk samar.


Mengetahui tentang itu, Angeline terdiam dengan sesuatu rencana kedepannya yang akan ia lakukan.


Wanita itu mengizinkan dokter tersebut, untuk merawat bayinya.


Angeline hanya bisa terus menemani bayi mungil itu, sesuai dengan kesepakatannya bersama sang pemilik tubuh, agar ia menjadi sosok ibu yang baik.


Angeline memandangi sosok mungil di dalam sana. Karena kondisi dan daya tahan tubuh si bayi sangat menurun drastis, membuatnya lebih sensitif dengan ruangan terbuka.


Bayi mungil itu terpaksa harus berada di indikator khusus bayi akibat kondisinya yang sangat lemah.


Angeline terus memantau para tenaga medis bekerja keras untuk menyembuhkan bayinya. Angeline tidak mengenal kata lelah, ia terus berada di posisinya, menatap bayi mungil yang terpasang berbagai alat medis.


Naluri keibuannya, begitu bersedih melihat sosok mungil harus merasakan sakit dan berada di antara dua pilihan.


Dan baru kali ini, jiwa yang berada dalam tubuh Angeline meneteskan air mata, melihat sosok bayi lemah tak berdaya harus mengalami penyakit mematikan.


"Kau harus sembuh, aku berjanji akan melakukan apapun untuk membuatmu membaik. Bahkan aku akan mengurus habis cairan darah pria itu untuk, penebusan dosa dan kesalahannya padamu." Angeline bermonolog sambil mengusap kaca yang seakan sedang menyentuh kulit keriput bayi tersebut.