Strong Woman

Strong Woman
bab 6



"Apa begini rasanya menghadiri peringatan kematian sendiri?" Angeline kini berjalan menaiki satu persatu anak tangga untuk tiba di panggung.


Angeline tersenyum, melihat wajah para pengkhianat itu tampak begitu terkejut.


Kilatan kamera kini menerpa wajah mereka di atas sana, terlebih keluarga Barack dan Patricia.


"Perintahkan mereka untuk pergi!" Titah nyonya Maria dengan nada bergetar namun masih terdengar arogan.


Angeline mengangkat sebelah tangannya, saat melihat beberapa pengawal ingin melakukan perintah ibu mertuanya itu.


"Apa kalian lupa siapa tuan kalian?" Ujar Angeline dengan nada tegas juga tatapan dingin.


Para pengawal itu terdiam, bagaimanapun mereka masih patuh kepada majikannya.


Nyonya Maria terlihat tidak terima, ia melotot mata ke arah pengawal tersebut.


"Biarkan mereka disini, agar tahu berita sebenarnya tentang keadaanku." Tandas Angeline dengan senyum miring ke arah Barack dan keluarganya.


"Anda seharusnya tahu di mana posisi anda nyonya. Bukan mengambil posisi seseorang dengan licik. Bukankah anda hanya seorang ibu mertua dari menantu bangsawan kaya? Jadi … untuk apa anda berada di sini?" Angeline kini menatap nyonya Maria, mengucapkan kata-kata yang membuat wanita itu merasa malu. Apalagi desas-desus para tamu kian terdengar.


Nyonya Maria dengan wajah menahan amarah kepada menantunya ini, segera berjalan turun, ia bahkan mendelik tajam ke arah Angeline, wanita itu mengira, menantunya masih wanita lemah.


"Awas kau, aku akan memberikan pelajaran kepadamu," bisik nyonya Maria saat berada tepat di samping, Angeline.


"Jangan lupa bawa mereka juga, aku tidak ingin para pengemis dan perampok berada di sini dan mengotori milikku," timpal Angeline dengan wajah tenang, senyum sinis terlihat di sudut bibirnya.


Kini tersisa Angeline, Barack dan Patricia diatas panggung. Dengan pria rupawan itu yang masih menatap lekat wajah istrinya. Sedangkan Patricia mencoba untuk tetap tenang, ia juga terlihat memasang wajah biasa saja seakan tidak terjadi apapun.


"Hai, honey! Apa kau bahagia melihatku?" Angeline semakin mendekati Barack dan kekasih gelapnya.


"Stt, tanpa menjawab pun aku bisa melihat raut bahagia kalian. Pasti kalian sungguh bahagia merayakan kematianku, bukan?" Angeline mendekatkan wajahnya, ke arah wajah Barack sambil berbisik.


Pria itu terlihat melorotkan kedua matanya, mimik wajah Barack begitu datar dan dingin.


Tatapan tajam kini ia hunus kepada istrinya yang ternyata masih hidup.


"Why, apa kalian terkejut? Merasa gagal karena aku masih hidup? Apa kalian pikir bisa menyingkirkanku begitu saja?" Angeline terkekeh lirih tepat di depan wajah Barack.


"Sungguh permainan kalian sangatlah payah, tidak berhasil menyingkirkanku," lanjutnya yang kini suara kekehan Angeline terdengar nyaring.


Angeline kini beralih menatap Patricia yang membalas tatapannya dengan angkuh.


"Hey, kau! Siapa yang memberikanmu izin mengenakan gaun ini. Apa kau tidak tahu? Harga gaun ini seharga dirimu!" Pekik Angeline mulai memerankan drama.


Kedua kelopak mata Patricia mendadak terbuka sempurna. Mendengar ucapan Angeline.


"Plak, jangan berani menggertak ku. Ingat posisimu di sini hanya pelayan rendahan. Jangan dengan pengakuan juga surat wasiat palsu yang kau buat, membuat aku menyetujui hubungan kalian!" Sentak Angeline seng suara nyaring. Membuat wajah Patricia dan Barack tidak nyaman.


"Aku hanya keluar negeri untuk memperbaiki kulit berhargaku ini, dan aku menitipkan bayiku karena kau pelayanku, siapa yang mengatakan aku memerintahkan untuk mengganti posisiku, hah! Plak." Angeline kembali menampar wajah Patricia dan memaki wanita itu.


Patricia dan keluarganya terkejut, melihat Angeline begitu berani menentangnya.


"Apa, hah! Kau menolak aku melakukan ini kepadamu! Aku bahkan ingin mencabik-cabik seluruh tubuh murahanmu ini. Jangan pikir selama ini kau sudah berani menentangku dan aku akan tetap diam! Jangan terlalu bermimpi nona, kau akan tetap menjadi rendahan." Ucapan Angeline kali ini berhasil membuat Patricia tidak bisa menahan amarahnya.


Ia lupa sedang berada di mana, hingga berani mengangkat tangan untuk memukul pemilik kerajaan bisnis tersebut.


"Plak, plak," Angeline balik menampar wanita itu, bahkan kini melemparkan tubuh pelayanannya itu ke bawah sana. Menjadi bahan gunjingan dan cacian para tamu. Dengan statusnya sebagai simpanan dari suami pemimpin QW group.


"Dasar, ternyata mereka semua adalah penjahat, berani-beraninya membuat pemberitaan palsu juga pengakuan murahan, dasar kalian semua benalu menjijikan!" Teriak salah satu tamu yang begitu murka, mengetahui watak buruk keluarga Patricia yang ingin menyingkirkan — Angeline.


"Benar! Aku rasa suami nona muda juga terlibat. Mereka sengaja membuat pemberitaan ini untuk menguasai seluruh harta keluarga Will!" Sambung tamu lainnya yang sejak tadi sudah menaruh curiga.


Mendengar makian juga umpatan terhadap keluarganya, dan melihat kekasihnya terluka parah. Barack hanya bisa terdiam dengan tatapan lekat ia tujukan kepada Angeline.


Wanita itu pun dengan berani membalas tatapan suaminya yang selalu melakukan perbuatan kejam terhadapnya.


"Kau puas sayang. Melihat semua ini. Aku baru memulainya dan sebentar lagi aku bahkan akan menghancurkanmu dan seluruh keluargamu" Angeline berbisik dengan suara tajam.


Angeline yang dahulu begitu patuh dan penurut dengan segala kemauan suaminya kini berubah menjadi berani untuk membantah dan menentangnya.


Sosok Angeline yang selalu menatapnya penuh cinta dan puja, kini hanya ada tatapan benci dan dendam.


Membuat Barack hanya terdiam sejak tadi memindai perubahan istrinya dengan begitu cepat.


"Kemarilah!" Angeline menepuk tangan untuk memanggil para pengawalnya.


"Usir para sampah ini dari kediamanku. Aku tidak ingin terkenal musibah dengan menampung benalu tidak tahu malu ini!" Titah Angeline kepada pengawalnya untuk mengusir seluruh keluarga besar Barack.


Nyonya Maria terlihat semakin geram di permalukan, ia ingin mendekati Angeline, namun wanita itu dicegah oleh pengawal.


"Kau tidak bisa mengusir kami, aku berhak berada di sini, karena aku ibu kandung Barack!" Teriak nyonya Maria yang mendapat tatapan aneh para tamu.


"Tenanglah, kau bisa membawa putramu ini. Karena aku sudah bosan hidup dengannya yang tak lain adalah seorang pria payah menjijikkan." Tandas Angeline dengan wajah datar, ia bahkan tidak terprovokasi oleh tatapan menakutkan suaminya.


Barack hanya bisa menahan emosinya, saat mendapat hinaan dari sosok yang ia kenal begitu lemah lembut dan selalu menatapnya kagum.


"Aku akan kembali membunuhmu."


"Maka, aku akan lebih dulu melenyapkanmu."