
Dylan membawa istrinya ke dalam kamar pribadi miliknya. Pria itu berusaha untuk memberikan pengertian pada sang istri untuk tidak melawan segala ucapan mommynya.
Dylan khawatir, mommynya akan membuat istrinya ini kesulitan selama berada di Mansion kedua orang tuanya.
Angeline mengamati seluruh ruangan kamar suaminya yang terlihat mewah. Ia juga menelisik setiap pajangan yang ada di dalam sana. Kedua kaki jenjangnya melangkah menuju jendela, menyibakkan gorden dengan kedua tangan. Melihat pemandangan yang ada di sekitar kawasan Mansion suaminya.
Dylan meletakkan koper milik mereka, berjalan mendekati sang istri dengan degupan jantung. Pria itu berusaha menarik diri untuk memberanikan berbicara pada istri kakunya ini.
"Ehem." Dylan berdehem, untuk membuang rasa ragunya. Kini pria berkulit kecoklatan itu berdiri di samping, Angeline.
Angeline hanya menoleh sejenak, setelah itu kembali memusatkan perhatian ke arah depan.
"Bisakah, kau tetap tenang dan diam saat mommy berbicara? Aku memerintahkan padamu, untuk tidak melawan mommy. Bagaimanapun, dia tertua di keluarga besar ini." Dylan berusaha mengatakan semua dengan wajah tegang juga suara terbata. Percayalah, adrenalin Dylan berpacu untuk mengatakan semuanya.
Angeline menoleh segera, mendengar ungkapan suaminya. Tatapan wanita itu kini menghunus ke arah suaminya.
Dylan mengepalkan kedua tangannya, untuk menekan rasa gugup dan ketakutan.
"Ak-aku hanya ingin kau lebih menghargai dan menghormati, mommy!" Pinta Dylan dengan nada terbata juga ekspresi tegang.
Angeline mengubah posisi, berdiri tepat di depan suaminya yang semakin tegang. Angeline melipat kedua tangan di depan dada. Pandangan tajam nan dingin menghunus suaminya.
Dylan meneguk ludahnya susah, menunduk wajah dengan tubuh yang semakin membeku. Pria itu merasa terintimidasi oleh pandangan istrinya.
"Kau ingin aku diam saat wanita tua itu menindasku?"
"Wanita tua itu, mommyku," sela Dylan tanpa sadar, saat Angeline menyebut mommynya tua.
"Yah, wanita tua yang sebentar lagi akan bercampur tanah, dan akan semakin cepat bertemu dengan tanah, apabila dia terus menggangguku. Lebih baik, saranmu ini kau berikan pada wanita tua itu. Karena aku bukan wanita lemah dan menyukai kesombongan. Jiwa bengis ini sungguh meronta, saat melihat sifat arogannya." Angeline melangkah menuju kamar mandi, setelah mengatakan hal itu pada suaminya.
Membuat Dylan tidak mampu mengatakan apapun. Ia hanya bisa diam dengan wajah pias.
Pria itu menatap punggung istri yang memasuki kamar mandi. Ternyata niatnya untuk menasehati sang istri begitu salah.
Dylan pun segera berjalan menuju pintu kamar, ia akan menemui mommynya dan menasehati agar tidak membuat masalah dengan Angeline.
"Nyonya besar sedang berada di taman belakang, tuan," sahut pelayan tersebut sambil membungkukkan badan.
Dylan segera bergerak menuju taman belakang. Ia harus memberitahukan pada mommynya, agar lebih waspada terhadap istrinya sendiri.
"Mom!" Serunya saat tiba di sebuah taman luas yang terawat dan memiliki berbagai jenis tanaman hijau. Mommy Dylan dan seorang wanita muda cantik, sedang menghabiskan waktu bersama di bawah pohon yang terawat, pohon yang diberi hiasan lampu warna-warni. Membuat suasana terlihat begitu indah dan tenang.
"Putraku, kemarilah!" Pinta wanita yang kini berusia 55 tahun. Seminggu lagi ia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 56 tahun.
Wanita yang duduk di depan mommy Dylan, tampak merapikan penampilannya. Ia juga mengubah posisi duduk lebih terlihat anggun dan berkelas.
Dylan menghampiri sang mommy, mencium kedua pipi wanita yang sudah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kau mencari mommy, son?" Nyonya Cindy, bertanya sambil meneguk teh hangat yang ada di tangannya dengan gerakan elegan.
Wanita berambut pendek itu, memerintahkan putranya duduk di samping, Stefany. Putri sahabat baiknya.
Dylan hanya menurut, meski harus merasa tidak nyaman dengan tatapan Stefany.
"Ada apa kau mencari, mommy?" Tanya nyonya Cindy. Memerintahkan pada kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di sisinya untuk menuangkan teh hangat di cangkir putranya.
"Tidak, terimakasih," Dylan menolak untuk merasakan teh hangat yang ditawarkan mommynya.
Stefany yang ingin mengambil alih tugas kepala pelayan untuk menuangkan teh di cangkir kosong yang berada di hadapan Dylan. Harus merasakan malu.
Baru saja ia ingin menunjukkan sikap lemah lembut sebagai calon istri yang baik untuk pria tampan di sebelahnya.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada mommy. Dylan, mohon, jangan melakukan tindakan ceroboh pada istriku mom. Dia bukanlah, wanita yang ada di pikiran mommy. Dia wanita berbeda. Jadi … please, jangan membuat masalah dengannya." Dylan pun sukses mengatakan tujuannya pada sang mommy.
Nyonya Cindy dan Stefany merasa sangat geram, mendengar ungkapan Dylan dan tujuan putranya mencarinya.
Nyonya Cindy berpikir, putra satu-satunya ini, akan mengubah pikiran dan menceraikan istrinya yang kaku.
"Apa maksudmu, Dylan. Kau menuduh mommy melakukan hal menjijikkan itu! Di mana akal sehatmu! Menuduh mommy, seakan-akan mommy adalah seorang wanita kejam!"