Strong Woman

Strong Woman
bab 26



"Apa-apaan ini! Aku tidak mau, aku tidak akan pernah menandatanganinya!" Dylan memekik di dalam ruangan pribadi Angeline.


Pria berwajah tampan itu menolak menerima perintah Angeline dengan menandatangani sebuah berkas pernikahan juga sebuah berkas kontrak pernikahan.


Yang membuat Dylan semakin geram, Angeline hanya menjadikannya sebagai pria payah yang akan terus berada di sisi wanita ini. Begitulah yang tertulis di kontrak pernikahan.


"Aku tidak terima dengan sikap anda! Aku memiliki hak untuk menolak semua ini!" Lanjut Dylan dengan wajah merah karena menahan amarahnya.


Ia membalas tatapan Angeline dengan sengit dan menantang, meskipun ia merasa tertekan dengan tatapan intimidasi wanita di depannya.


"Tandatangan, kau hanya menjadi suamiku dalam masa percobaan 1 tahun. Dalam satu tahun kau tidak bisa membuatku hamil, maka kau bisa pergi, aku akan mengantarmu dengan ini," Angeline berkata sambil mengarahkan sebuah senjata api.


Wajah melongo Dylan kini berubah ketakutan, mana ada sebuah pernikahan memiliki masa percobaan.


"Omong kosong, apa yang sedang anda bicarakan, nona. Aku tetap tidak ingin menandatangani ini!" Sentak Dylan dengan dada membusung, menantang wanita di depannya ini.


"Kau hanya memiliki dua pilihan, menandatangani ini atau kau akan merasakan panas peluru ini di kepalamu," ucap Angeline yang memajukan wajah mendekati pria di depannya yang tampak gugup juga ketakutan.


"Jangan khawatir, aku akan memberikan imbalan padamu selama kau menjadi suamiku, bahkan kau mampu memiliki ratusan wanita ****** dengan imbalan uang aku berikan." Angeline tersenyum miring dan memandangi Dylan dengan remeh.


Menjadikan pria itu semakin geram, amarahnya kini semakin bertambah hingga ke ubun-ubun. Bisa-bisanya, ia diremehkan dan direndahkan harga dirinya dengan seorang wanita licik.


Padahal dia adalah seorang pria berpengaruh, di negaranya. Akan tetapi sebuah kesalahan besar bisa mengunjungi negara sang daddy, hingga ia harus terjebak dengan wanita gila di depannya ini.


"Tanda tangani, sebelum aku masih memiliki kesabaran. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Jadi berhentilah merencanakan sesuatu yang sia-sia!" Sentak Angeline sambil terkekeh. Ia juga kini mengarahkan senjata api tepat di kening, Dylan.


Sementara pria itu hanya bisa terdiam dengan kondisi tubuh panas dingin, harus menghadapi situasi rumit dan menegangkan ini.


Tidak memiliki pilihan lain, akhirnya Dylan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas berkas pernikahan juga kontrak pernikahan, ia akan menjadi suami dari wanita mengerikan sementara waktu dan dalam masa percobaan.


Dengan wajah penuh benci dan dendam, Dylan menatap wanita di depannya yang mulai saat ini menjadi pasangan seumur hidupnya.


Namun malam ini nasibnya begitu sial, harus menjadi suami masa percobaan dalam satu tahun, setelah itu ia akan dilemparkan bagian mainan tak layak pakai.


"Apa ini karma untukku? Di mana setiap wanita yang sakit hati akan mengutuk hidupku akan sial." Gumam Dylan lesu, duduk di kursi dengan wajah sendu juga seluruh tubuh begitu lemas.


Angeline begitu puas melihat tanda tangan Dylan di atas lembaran yang akan mengikat pria di hadapan ini.


Angeline bangkit dari kursi, berjalan meninggalkan ruangannya, membiarkan Dylan yang terus termenung, yang meratapi nasib.


"Kau akan tidur mulai sekarang disini. Ingat, kau tidak boleh melakukan apapun terhadapku tanpa perintah." Angeline membawa Dylan memasuki kamar pribadinya dan memberikan perintah mutlak.


Dylan hanya bisa diam dengan wajah tidak bergairah. Pria itu berjalan menuju ranjang dan bermaksud ingin segera membaringkan tubuh.


"Stop!" Terdengar seruan yang berasal dari sosok wanita penyihir di sana.


"Kau wajib mematuhi peraturan di sini. Kau dilarang keras menyentuh apapun yang ada di sini. Dan kau harus membersihkan tubuh terlebih dahulu, aku tidak ingin kamar mewahku dicemari oleh aromamu," titah Angeline sambil menatap Dylan sinis.


"Kau pikir aku robot dan patung! Hanya diam berdiri sambil mengawasimu! Sebaiknya kau membeli boneka penghangat ranjang saja, daripada kau harus menguji coba aku yang pasti akan membuatmu kewalahan dan menjerit!" Dylan berkata dengan emosi yang membuncah, ia juga berani berkata kasar di depan Angeline.


Memasuki kamar mandi dengan cara menghempaskan pintu dengan kuat.


Tubuh pria itu seketika lemas, ia sejak tadi menahan rasa takut, apalagi menantang tatapan tajam, Angeline.


"Oh sial. Kenapa aku harus terperangkap bersama wanita aneh itu?" Ucap Dylan sambil mengacak rambutnya, yang kini sedang bercermin.


"Ini tidak boleh terus terjadi, membiarkan harga diriku terus di injak-injak oleh wanita ini. Tidak, aku harus melakukan sesuatu," gumam Dylan yang menengadah kepada ke atas, kedua tangan kini berpegang di pinggiran wastafel.


"Aku harus melakukan sesuatu, tapi aku harus mengikuti semua perintahnya, untuk membaca keadaan dan setelah itu aku akan pergi jauh."