
"kau!" Angeline menatap tidak percaya sosok pria bertubuh tinggi atletis di depannya. Berwajah tampan khas Eropa barat, kedua iris mata berwarna biru, kulit putih bersih dengan kedua garis wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus.
Angeline menatap sosok jangkung di hadapannya dengan tidak percaya, hingga kedua bola matanya itu berubah penuh kemarahan juga dendam.
Dadanya terasa sesak dengan kedua tangannya kini mengepal erat di bawah sana. Sosok pria di hadapannya sungguh begitu mirip dengan suaminya di kehidupan sebelumnya. Yang membuat Angeline tidak tahan untuk melayangkan pukulan di wajah pria itu.
"Excuse me, ma'am, are you okay?" Ucap pria di depannya dengan suara lembut juga senyum bersahaja.
Namun Angeline semakin membenci pria itu dan tidak bisa menahan diri untuk memberikan sebuah pukulan.
"Bugh, bugh." Angeline memberikan pria itu pukulan di kedua sisi wajah tampan si pria. Setalah itu Angeline juga menendang perut pria itu setelah itu pergi dengan keadaan begini marah, seandainya ia tidak menjadi pusat perhatian, Angeline pastikan akan membuat wajah pria itu hancur.
Sementara sosok pria rupawan itu, hanya bisa terpaku dengan wajah melongo, melihat seorang wanita cantik tiba-tiba memukul wajah tampannya. Pria itu terus menatap punggung ramping Angeline dengan pandangan lekat juga wajah aneh. Namun senyum pria itu segera terlihat, saat baru pertama ia mendapatkan perlakuan kasar dari seorang wanita.
Biasanya ia akan sangat mudah meluluhkan hati seorang wanita manapun dengan sikap lembut juga wajah tampannya.
"Menarik, dia wanita yang pertama menolak ketampananku dan berani memberikan tatapan tajam. Sungguh wanita unik dan menantang." Pria itu terus menatap jejak Angeline dengan senyum tampan yang terlihat.
Ia begitu tertarik dengan sosok wanita seperti Angeline, yang tidak terpukau dengan ketampanannya.
"Dylan, kau di sini?" Pria itu tersentak, saat mendengar suara lembut menegurnya. Ia membalikkan tubuhnya dan senyum itu semakin lebar, saat melihat wanita cantik di depannya.
"Oh, honey, kau begitu cantik hari ini," serunya dengan senyuman menawan dan ucapan gombalan khas seorang Casanova handal.
"Astaga, apa yang terjadi dengan wajah tampanmu, darling!" Pekik wanita bertubuh seksi dengan penampilan menarik yang seketika membuat pikiran mesum Dylan dalam mode on.
"Oh, honey. Entahlah, tadi seorang wanita asing menyerangku dan memukuli wajah tampan ini," Dylan mengadu sambil memasang wajah sedih.
Wanita berkaki jenjang itu mendekat kepada Dylan, mengusap wajah tampan pria itu dan memeluknya.
"Tenanglah, darling, aku akan mengobatinya," ucap wanita cantik tersebut sambil memainkan jari-jarinya di dada Dylan yang dibalut setelan jas rapi.
"Oh, kau memang sangat pengertian, tapi sepertinya kita butuh asupan makanan terlebih dahulu, sebelum kau mengobatiku, honey," Dylan berbisik tepat di samping telinga wanitanya dan salah satu tangannya kini meremas bokong wanita itu dan memasang wajah mesum.
Dylan pun membawa wanitanya memasuki restoran dengan merangkul pinggang ramping wanita itu, namun pikirannya kini tertuju kepada sosok wanita yang tadi.
Sungguh Dylan paling membenci rasa penasaran yang akan mengganggu konsentrasinya.
Baru kali ini ia begitu penasaran pada wanita, selama ini wanitalah yang datang kepadanya dan menyerahkan segalanya padanya.
Namun ia terkenal dengan sikapnya yang buruk, yaitu sering menggonta-ganti pasangan setiap harinya. Dylan adalah pria Casanova profesional dan begitu handal dalam meluluhkan seorang wanita agar mau menemaninya di atas ranjang.
Angeline sendiri menatap Dylan dari dalam mobil dengan wajah begitu dendam. Ia tidak memahami, kenapa di kehidupan sekarang ia harus melihat wajah itu.
"Kenapa aku harus bertemu dia lagi," gumam Angeline, kedua telapak tangan kuat tas di tangannya.
"Cih, di kehidupan sekarang pun dia tetap menjadi seorang pria brengsek," kembali wanita itu berkata pelan, mengumpat pria yang sedang merangkul seorang wanita di depan sana.
"Kembali ke Mansion!" Pintanya kepada sopir pribadinya.
Mobil mewah itu pun bergerak meninggalkan area restoran. Dylan menatap mobil yang melintas di sampingnya.
Ia merasa seseorang sedang menatapnya, entah mengapa perasaan Dylan begitu aneh setelah bertemu dengan wanita aneh tadi.
Pria itu terus merenung, tanpa memperhatikan ucapan manja salah satu wanitanya.
Ponselnya pun tidak hentinya bergetar, Dylan hanya memeriksa nama di layarnya, setelah mengetahui si pemanggil, ia hanya berdecak lidah.
"Sayang, kau tahu …."
"Tidak, aku tidak tahu," sela pria itu dengan pikirannya yang hanya tertuju kepada Angeline.
Wanita di depannya kebingungan, mendengar juga melihat raut wajah Dylan yang sedang tidak bergairah.
"Sayang, aku belum selesai berbicara, kau sudah menyelanya," ucap si wanita, nada manja dan rengekannya membuat Dylan semakin jengah.
Dylan menatap teman wanitanya itu dengan pandangan jenuh.
"Kenapa? Wajahmu terlihat mendung, bagaimana kalau aku mencoba mencerahkan wajahmu," ujar si wanita sambil memasang wajah menggoda, juga salah satu kakinya kini bermain di bawah sana.
Dylan menghela nafas berat, ia menggeser kursi ke belakang. Menghindari kaki nakal wanitanya.
"Tidak sekarang, Jessi. Aku sedang tidak ingin. Ambil ini dan berhenti menemuiku!" Pinta pria tinggi itu, setelahnya melangkah meninggalkan wanitanya yang tercengang di kursi. Namun ia tetap mengambil amplop coklat yang berisi uang banyak.
"Tidak mengapa, nanti aku masih bisa mendekatinya, dia sosok pria yang tidak tahan dengan keindahan tubuh wanita, aku yakin dia pasti akan jatuh ke pelukanku lagi."