Strong Woman

Strong Woman
bab 33



"Aku hanya ingin menyampaikan, kalau istriku bukanlah wanita lemah, jadi … jangan membuat masalah dengannya," ucap Dylan sekali lagi, membuat wajah mommynya terlihat marah.


"Apa sekarang kau lebih mementingkan dia daripada, mommy! Ingat, dia hanya seorang wanita miskin yang tidak pantas berada di sekitar keluarga kita. Seharusnya, kau berpikir seratus kali sebelum menikahi wanita itu, yang begitu terlihat arogan dan sombong. Lihat, calon istri yang pantas untukmu hanya dia, Stefany Aston, yang derajatnya sama dengan kita." Nyonya Cindy murka sambil menunjuk putranya sendiri. Membandingkan Stefany dan Angeline yang menurutnya, calon menantu pilihannya lah, yang lebih unggul.


Dylan menghela nafas panjang, ia bingung harus bagaimana lagi harus memberitahukan pada mommynya, agar tidak mempersulit istrinya, atau menyinggung wanita itu.


"Mom, Dylan mohon, terima dia dengan baik dan perlakukan dia dengan tulus," pinta Dylan dengan raut wajah memohon. Meraih telapak tangan mommynya dengan menampilkan wajah permohonan.


Stefany begitu geram, melihat ekspresi wajah Dylan yang begitu mendukung istrinya. Seakan-akan pria ini sangat menyayangi istrinya itu.


Nyonya Cindy menarik kedua telapak tangannya, melipat di depan dada dan membuang pandangannya ke arah samping.


Ia sungguh begitu kecewa dengan keputusan putranya yang menikahi wanita lain daripada pilihannya.


Dylan bangkit dan meninggalkan taman, nyonya Cindy terus menatap punggung lebar putranya dengan begitu tajam. Garis wajahnya bahkan terlihat sangat murka.


"Mommy bersumpah, akan membuat wanita itu menderita berada di sini," gumam nyonya Cindy.


Pagi hari pun menyapa, meninggalkan suasana malam penuh ketenangan bagi jiwa-jiwa yang meringkuk dibawah selimut.


Angeline terbangun dengan wajah tampak puas dan segar. Jauh dari pekerjaan, membuat tidurnya begitu terlelap.


Angeline merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menarik tubuhnya.


Menyibakkan selimut yang membungkus tubuh ramping yang terbalut dengan pakaian tidur tipis. Angeline meraih kimono tidurnya. Meneguk air putih yang tersedia di atas nakes.


Wanita itu berjalan menuju pintu balkon dengan kedua kaki tanpa alas.


Angeline tidak memikirkan suaminya yang entah berada di mana. Ia kini menikmati pemandangan hijau yang ada di sekitar Mansion. Menghirup udara segar yang begitu menenangkan jiwanya.


Terpaan sinar matahari di wajah cantiknya, membuat wanita itu menutup kedua mata. Menikmati hangatnya sinar matahari di pagi hari.


Dylan yang baru saja keluar dari kamar mandi, begitu terpukau dengan wajah cantik sang istri yang berada di bawah sinar matahari.


Kecantikan istrinya sungguh begitu alami dan terawat. Berseri diterpa sinar matahari langsung.


Pria itu tertegun dengan kedua mata terpesona. Namun segera ia sadar, saat ponselnya berdering. Membuat Angeline pun membuka kedua kelopak mata lalu menolehkan kepala ke arah kamar.


Wanita itu melihat suaminya sedang menerima telepon dengan keadaan segar. Dengan penampilan bagian atas yang tidak ditutupi apapun, hingga memamerkan pahatan bidang tubuh suaminya.


Angeline terus menatap suaminya yang kini memunggunginya, mengamati punggung lebar Dylan yang begitu terlihat menggoda.


Angeline tidak asing dengan pemandangan di depannya ini. Di kehidupan sebelumnya, ia bisa menyentuh setiap inci tubuh suaminya.


Angeline mengernyit saat melihat seorang wanita masuk ke dalam kamar tanpa permisi.


Membuat suaminya terlihat terkejut dan tidak nyaman dengan kedatangan wanita yang kini berpenampilan rapi dan modis.


"Stefany? Se-sedang apa kau di sini?" Tanya Dylan, pria itu segera meraih kaos yang berada di sofa, memakainya dengan terburu-buru, sungguh Dylan sangat tidak nyaman dengan tatapan, Stefany.


Wanita itu melangkah lebih dekat pada Dylan dengan tatapan nakal.


"Kenapa kau menutupinya? Aku begitu terpukau dengan tubuh …."


"Jauhkan, tangan anda dari tubuh suamiku, nona!" Sentak Angeline, mengurung niat Stefany yang akan membelai tubuh Dylan.


Sementara Dylan hanya bisa tertegun di tempatnya, berusaha menghindari keagresifan wanita di depannya ini.


Dylan melongo melihat istrinya kini berjalan dengan tampilan yang begitu seksi, kimono tidur ia biarkan terbuka hingga memperlihatkan baju tidur tipis terekspos di hadapannya.


Dylan meneguk ludahnya sendiri, jiwa cassanovanya memberontak melihat dengan jelas tubuh istrinya.


Stefany membalikkan badan, menatap Angeline dengan senyum tipis. Niat hati ingin menaklukkan Dylan pagi ini harus gagal. Padahal ia sangat yakin mampu menaklukkan Dylan yang notabene-nya seorang Casanova. Memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan pria ini, Stefany pasti dengan mudah menjerat, Dylan Roberts.


"Apakah, begini perlakuan seorang wanita terhormat? Memasuki kamar pribadi sepasang suami-istri dan berusaha menggoda pria yang memiliki istri. Apa nona memiliki bakat seorang wanita pengganggu?" Angeline mendekati suaminya, ia mengucapkan kata-kata tajam kepada Stefany, sambil membantu suaminya itu mengenakan pakaian.


Angeline juga sengaja meninggalkan kecupan di leher dan dada bidang Dylan, hingga meninggal bekas merah.


Jangan tanyakan respon Dylan yang terlihat kacau, menarik pinggang ramping Angeline dan menempelkan tubuh mereka.


"Apa nona tahu, bercinta di pagi hari begitu nikmat. Jadi … sebelum memasuki kamar seseorang, anda harus mengetuk terlebih dahulu. Aku hanya takut, nona melihat kami sedang bercinta." Angeline menjauhkan tubuhnya dan berbisik ke arah Stefany.


Tentu saja wanita itu begitu amat geram. Dan menahan amarahnya. Melihat pria yang ia sukai sedang bercumbu di depan kedua matanya.


Angeline kembali mendekatkan tubuh di pelukan suaminya, sengaja mengecup bibir Dylan dengan sensual. Membuat Dylan kembali terpancing gairah, hingga ia ******* bibir istrinya dengan penuh nafsu, tanpa memikirkan Stefany yang masih berada di sana.


"Apa anda ingin menyaksikan kami bercinta, nona? Kau pasti penasaran bagaimana suamiku ini memberikan kenikmatan." Angeline kembali berbisik, saat Dylan memiliki kesempatan menikmati area leher jenjang sang istri.


Angeline tersenyum sinis ke arah Stefany yang begitu menahan rasa marah, hingga wajahnya terlihat merah dan mengeras.


Kedua tangannya terkepal erat sampai menggenggam kuat kedua sisi gaunnya.


Tatapannya begitu membenci pemandangan di depannya juga sangat membenci Angeline.


Tidak tahan dengan pemandangan menurutnya sangat menjijikkan, Stefany pun akhirnya keluar dari kamar Dylan.


Mengetahui Stefany sudah keluar, Dylan berniat menarik tubuh dari rangkulan istrinya.


Namun Angeline segera melompat di atas tubuh suaminya sambil berbisik sesuatu sensual.


"Kau ingin menyudahinya? Setelah kau berhasil memancingnya? Dasar pengecut! Tentu saja kau harus melakukannya untukku," bisik Angeline, menarik belakang kepala Dylan, membuat wajah pria itu mendongak ke atas. Angeline dengan leluasa mengekspor bagian leher suaminya.


"Kau ingin aku melakukannya? Sungguh? Kalau kau ingin aku melakukannya, maka bersiaplah, baby. Aku pastikan kau akan tergila-gila dengan permainan ini," balas Dylan, saat jarak wajah keduanya begitu dekat.


Pria itu lantas berjalan menuju ranjang dengan Angeline di atas gendongannya, sambil kedua bibir mereka saling berciuman penuh gairah liar.