
Angeline tampak kebingungan, saat kembali berada di sebuah tempat asing di mana ia pertama kali bertemu dengan jiwa sang pemilik tubuh.
Angeline berjalan menuju ke sebuah lapangan subur yang ditumbuhi rerumputan hijau yang memiliki bunga berwarna-warni.
Pemandangan yang sukses membuat Angeline terbuai akan keindahan tempat tersebut yang begitu luas, sejauh mata memandang, hanya disajikan tanaman hijau juga berbagai macam bunga berwarna-warni.
Telaga jernih terdapat di tengah lapangan dengan gemercik air jernih yang mengalir di sepanjang perbatuan.
Angeline terus melangkahkan kedua kakinya, menuju sebuah bangku. Di mana ia melihat sosok wanita berambut panjang duduk dengan posisi memunggunginya.
"Kau sudah tiba?" Sosok di hadapan tiba berseru juga membalikkan badan.
Angeline menatap lekat wajah cantik dan bersinar di depannya, wajah yang begitu sama dengannya.
"Kau?! Angeline bereaksi kaget melihat sosok itu kembali mendatanginya.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, jadi … mendekatlah!" Pinta sosok di depannya dengan wajah berseri dan senyum bersahaja.
Angeline bergerak mendekat dengan langkah perlahan, menelisik sekitar yang semakin terlihat begitu indah.
"Duduklah! Aku sudah menunggumu sejak tadi," ujarnya dengan tersenyum cerah.
Angeline refleks duduk di sebelah wanita itu dengan wajah yang begitu penasaran.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. berkatmu, aku bisa lebih tenang di sini dan juga kau sudah merawat putraku. Sungguh aku sangat bahagia dan bisa tenang sekarang. Namun aku baru teringat sesuatu yang sangat penting." Jiwa Angeline menyatakan rasa terima kasihnya pada jiwa Berliza yang sejak tadi terdiam.
"Apa itu?" Tanya Berliza dengan raut yang sangat penasaran, tatapannya pun kian melekat pada jiwa Angeline.
"Aku masih memiliki seorang paman dari saudara tiri daddy. Kau seharusnya berhati-hati kepadanya, dia sangat berbahaya dan peka dengan sesuatu yang asing." Wanita itu menjelaskan kepada jiwa Berliza yang masih terdiam, sambil mencoba mengartikan maksud ucapan wanita di depannya.
"Dia pria licik, dia bernama paman James. Dia merupakan anggota keluarga yang di asingkan dan di coret dari buku keluarga. Hingga ia menghabiskan hari-harinya selama puluhan tahun di Villa pengasingan. Aku hanya meminta padamu, untuk berhati-hati dengannya." Jiwa asli Angeline memberikan peringatan kepada Berliza untuk tidak meremehkan sosok bernama, James.
"Apa dia begitu berbahaya?" Tanya Angeline dengan wajah mengkerut.
"Hum, dia sangat berbahaya juga licik. Aku hanya mengingatkanmu saja untuk berhati-hati kepadanya." Sekali lagi jiwa Angeline mengingatnya, agar terus berhati-hati pada satu sosok tersebut.
"Kau ingin aku terlihat lemah di hadapannya?" Berliza tersenyum miring, merasa tidak terima dengan ucapan jiwa Angeline.
"Aku tahu kau wanita begitu amat tangguh, oleh sebab itu aku sangat berterima kasih, tuhan mengutus jiwamu di dalam tubuhku, agar membalas semua perbuatan mereka padaku, namun ada kalanya kekuatan kita tidak berguna saat sebuah kelicikan membuat kita tidak berdaya." Jiwa Angeline berkata yang membuat Berliza terdiam
Dan saat itu juga, jiwa Angeline pun menghilang dari hadapan Berliza saat sebuah kabut lebat mendekat.
Berliza yang sedang menundukkan kepala, tiba-tiba terkejut dan bersamaan wanita itu kembali ke alam sadarnya.
Berliza kembali pada kenyataan hidup yang akan ia lalui setelah ini. Ia bangkit dari tidurnya, duduk dengan pikiran menerawang jauh. Berliza mengingat peringatan jiwa Angeline untuk menjauhi sosok bernama, James.
Berliza menatap pintu kamar mewahnya, saat mendengar ketukan pintu berkali kali.
Seorang pelayan pribadi kini memasuki kamarnya, setelah mendapat izin darinya.
"Katakan!" Pinta Angeline yang bangkit sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Seseorang menunggu anda, nona," ucap pelayan pribadinya
Tiba-tiba tatapan mata Angeline kini menajam, menghunus pengawalnya.
"Bukankah, aku sudah membuat peraturan? Untuk tidak membawa seorang asing?" Sentak Angeline dengan wajah yang begitu dingin.
"T-tapi nona, kali ini tamu anda sangat nekat, ia bahkan melukai beberapa pengawal," pengawal itu pun akhirnya mengatakan kepada Angeline.
Sementara Angeline menanggapi dengan tersenyum miring. Melanjutkan langkah menuju kamar mandi.
🌹🌹🌹
Angeline kini berjalan menuju ruangan makan, ia melangkah dengan wajah tegas dan begitu berani.
Tidak ada rasa takut sedikitpun di wajah, ia bahkan begitu penasaran dengan sosok yang berani melawannya.
Kini wanita itu sudah berada di ambang pintu masuk ruangan makan, ia bisa mendengar suara wanita di dalam sana juga kekehan remeh yang ditujukan padanya.
Kepala pelayan mengumumkan pada semua orang yang berada di meja makan akan kesayangannya dengan suara lantang dan tegas.
Semua pasang mata kini tertuju padanya yang terlihat begitu penuh kewibawaan.
Angeline terdiam sesaat, saat melihat keberadaan dua sosok wanita asing yang berani menatapnya remeh.
Juga seorang pria yang memakai topeng di sebagian wajahnya. Angeline dan pria itu saling menatap, namun tiba-tiba Angeline merasa sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Ia merasa sesuatu mahknetik ingin menarik jiwanya keluar.
Angeline dan pria di depan sana seakan sedang saling bertarung melalui tatapan mata.
"Keluarlah! Jangan mengotori apapun yang ada di sini dengan tingkah serakah kalian." Setelah memutuskan tatapan sengit dengan pria di depannya, kini Angeline mengalihkan pandangannya pada kedua sosok wanita di hadapannya.
"Kau!" Nyonya Selena bereaksi tidak terima dengan perkataan Angeline.
"Apa kau lupa siapa kami? Aku dan putriku bahkan berhak dengan apa yang kau nikmati! Bahkan, putriku lebih berhak atas warisan ini daripada kau yang hanya anak kedua!" Nyonya Selena berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Angeline yang terlihat begitu tenang.
"Aku tidak akan pernah melupakan siapa dirimu, nyonya. Karena sejarah tentang anda sudah tertulis di daftar hitam keluarga Will. Anda juga jangan lupa, posisi wanita sepertimu hanya ada seorang wanita murahan yang tidak diinginkan. Dan putrimu tidak tercatat di kartu keluarga Will, apalagi di daftar warisan. Apa kalian sedang bermimpi?" Angeline mengungkapkan semuanya yang ia ketahui di depan nyonya Selena sambil menampilkan senyum miring.
"Hey, beraninya kau mengatai mommy-ku! Dasar wanita payah!" Pekik Joy, yang ikut bangkit dan kini berdiri di hadapan Angeline, berniat menampar wajah wanita bengis itu. Akan tetapi, niatnya gagal saat ia merasakan tangannya tertahan di udara.
"Jangan berani menyentuh wajahku, karena biaya perawatan wajahku lebih mahal daripada harga diri kalian," bisik Angeline di depan wajah Joy, wanita itu melepaskan genggamannya di tangan Joy, bahkan Angeline mendorong Joy.
"Kau, sungguh tidak memiliki etika baik sebagai keturunan bangsawan Will!" Gertak nyonya Selena sambil membantu putrinya.
"Apa, menurut kalian yang lebih pantas? Wanita serakah yang tidak tahu diri," ucap Angeline sambil terkekeh.
"Kurang ajar!" Pekik nyonya Selena yang semakin murka.
Nyonya Selena ingin melayangkan tamparan di wajah Angeline, namun gerakan gesit Angeline membuat nyonya Selena terdiam dengan wajah tegang.
Saat merasakan sebuah ujung garpu kini berada tepat di rongga lehernya.
"Stt, sakit sialan," ucap nyonya Selena sambil mendesis. Saat Angeline menggores lehernya.
"Lepaskan, mommy ku!" Teriak Joy yang ingin menyerang Angeline. Lagi-lagi Angeline lebih gesit dan berpengalaman soal bahaya yang mendekat. Ia meraih belakang kepala Joy, menghempaskan kepala wanita itu di atas meja.
"Joy!" Teriak nyonya Selena saat melihat putrinya terkapar di lantai dengan kepala yang mengalir cairan merah.
"Lepaskan! Dasar wanita kasar dan liar! Akh!" Nyonya Selena berteriak histeris, saat salah satu telapak tangannya yang ingin menampar wajah Angeline, berada di atas meja dan Angeline dengan gaya santai, menancapkan garpu di sana.
Kebengisan Angeline tidak lepas dari pandangan para pelayan di sana yang hanya diam dengan seluruh tubuh gemetar ketakutan.
Juga sosok pria bertopeng sebelah yang menampilkan senyum miring.
"Kau siapa?" Pria itu bertanya kepada Angeline dengan tatapan lekat.
"Angeline Queen Will," sahut Angeline dengan tatapan sinis.
"Bohong, kau bukan keponakanku, tapi seorang wanita bengis," sela pria itu yang bisa merasakan energi negatif berada di sekitarnya yang ingin menyatu dengan energi positif.
"Hanya orang tidak waras seperti anda yang tidak percaya."