
"Kau memanggilku?" Angeline terkejut saat suara yang berasal dari balik tubuhnya. Wanita itu membalikkan badan, melihat sosok jiwa Angeline yang asli tersenyum ke arahnya.
Lagi-lagi ia berada di tempat yang sama. Sepanjang malam Angeline merasakan keanehan pada tubuhnya. Dan wanita itu berharap bisa menemui kembali jiwa asil sang pemilik tubuh.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu, kenapa aku begitu aneh setia pria itu menatapku?" Jiwa Berliza bertanya dengan kedua mata terus tertuju pada sosok berpakaian serba putih di depannya.
"Mungkin ia pernah mengalami hal yang sama, bisa juga ia memiliki seorang rekan yang memiliki kekuatan khusus untuk mengetahuinya," sahut Angeline dengan nada lembut.
Berluza tampak memikirkan sesuatu, setelah itu ia memandangi wajah Angeline dengan sangat lekat.
"Apa yang terjadi apabila di melakukan sesuatu padaku?" Tanyanya dengan penasaran. Kedua matanya memicing tajam ke arah Angeline.
"Kau akan menjadi sepertiku, menjadi roh. Dan ragaku benar-benar akan terlupakan," ucap Angeline yang tatapan kedua matanya begitu sendu.
"Kenapa aku belum bisa benar-benar menyatu dengan tubuhmu? Apa ada sesuatu yang harus aku lakukan? Agar aku tetap berada di dalam tubuhmu." Berliza menjadi sedikit panik mendengar ucapan Angeline. Mungkinkah jiwanya akan mati sia-sia begitu saja.
Angeline terdiam, wanita itu melangkah menuju tepi telaga dengan menyeret gaun yang ia kenakan.
Tatapan wanita itu menerawang ke depan, ia mengingat sebuah permintaan yang diucapkannya sebelum meninggalkan raganya.
"Mungkin aku hanya meminta jiwa perantara untuk membalas dendamku," ucapnya lirih.
Berliza terdiam, ia mengikuti langkah Angeline dan berdiri tepat di sampingnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menunggu waktu itu akan datang?" Sergah Berliza yang tatapannya sangat tajam lurus ke depan.
"Jangan khawatir, mungkin seseorang akan menyelamatkanmu dan membuatmu kekal di dalam tubuhku," sahut Angeline sambil tersenyum.
Berliza menatap wajah wanita di depannya dengan kening mengkerut.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan raut penasaran.
Angeline hanya tersenyum, sambil sedikit demi sedikit menjauh dari Berliza dan akhirnya sosoknya kini menghilang dari hadapan Berliza.
Berliza sendiri masih terdiam dengan pikiran yang sangat kacau, tiba-tiba indera pendengarannya samar-samar mendengar suara pukulan keras.
Berliza mengikuti arah suara itu hingga akhirnya ia terbangun dari tidurnya.
Angeline membuka kedua kelopak matanya, ia mengusap wajah sambil bangkit dari sofa. Setelah kembali dari galeri, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu.
Angeline menyugar rambut panjangnya ke belakang dan kembali mengusap wajahnya.
Ia menajamkan pendengaran, saat suara yang tadi ia dengar kini kembali terdengar samar.
Wanita itu berdiri, berjalan menuju pintu kamar. Suara itu semakin kuat terdengar saat ia berada di ujung tangga paling atas.
Angeline terus mengikuti arah suara yang terdengar begitu membengkak telinga. Wanita itu menahan emosinya. Siapa yang sudah mengganggunya saat sedang beristirahat.
"Apa-apaan ini!" Sentaknya saat melihat kekacauan yang terlihat di ruangan keluarga.
Dengan dada yang terlihat naik-turun begitu kencang dan raut wajah emosi, Angeline mendekati ujung kabel mesin bor, ia mencabutnya yang otomatis membuat mesin itu terdiam.
Dylan yang sedang membuat menyangkah buat lukisan, menatap aneh pada mesin di tangannya.
"Apa ini rusak?" Tanya dengan suara pelan.
Sementara kedua pelayan kini terlihat saling menatap dengan wajah ketakutan, melihat tatapan nona muda mereka yang begitu sangat marah.
"Apa yang terjadi di sini, huh!" Bentak Angeline, yang membuat Dylan terkejut dan hampir saja benda di tangannya terlepas.
Dylan menolehkan kepala ke belakang, ia bisa melihat wajah Angeline yang terlihat sangat cantik menurutnya.
"Hai, nona," sapa Dylan saat turun dari tangga dan mencoba menyapa Angeline.
"Kau!? Sentak Angeline dengan ekspresi terkejut melihat Dylan berada di Mansionnya.
"Dia mengantar lukisan anda Nona, dan mencoba memasangnya," seorang pelayan menjelaskan kepada Angeline.
Wanita berkuasa itu menatap sinis ke arah Dylan, Angeline bahkan menilai penampilan Dylan sangat tidak pantas memakai setelan rapi yang hanya bekerja sebagai pelayan.
"Cih, kau pantas menjadi seperti ini. Ternyata kehidupan sekarang mengutuk dirimu menjadi rendah." Angeline berkata sambil mencibir.
Dylan terlihat bingung dengan ucapan Angeline, pria itu menatap kepada para pelayan yang hanya di balas gelengan kepala.
"Jadi kau seorang pelayan rendah?" Sentak Angeline, yang berhasil membuat Dylan melongo.
"B-bukan, aku hanya berniat membantu seseorang, sebenarnya aku …."
"Cih, sudahlah, pria pembohong sepertimu tidak mudah untuk menipuku. Lanjutkan pekerjaanmu, setelah itu temui aku di taman belakang!" Perintah Angeline, melangkah pergi meninggalkan Dylan yang hanya bisa terdiam dengan wajah tidak percaya.
"Hei, kalian!" Seru Dylan kepada kedua pelayan di dekatnya.
"Apa aku tidak seperti seorang pelayan? Apa wajahku begitu culun?" Tanya Dylan, sambil menelisik kekurangan pada wajah rupawannya.
Kembali kedua pelayan itu hanya menggelengkan kepala, membuat Dylan menjadi geram.
Dylan sendiri mencebikkan bibir, merasa kedua pelayan di dekatnya sangat aneh, seperti majikannya yang selalu berkata tanpa filter.
"Dia wanita yang pertama memandangi sebagai seorang pelayan. Biasanya para gadis akan menilaiku, sebagai cetakan wajah dewa Yunani." Gerutu Dylan yang tersinggung dengan ucapan, Angeline.
🌹🌹🌹🌹
"Apa kita menemui wanita itu sekarang? Waktu yang sangat tepat untuk mengeluarkan jiwa asing di dalam tubuh keponakanmu." Teman tuan James mengajaknya untuk menemui Angeline sekarang.
"Tapi …."
"Waktu bulan purnama sangat baik untuk menyingkirkan jiwa bengis di dalam tubuhnya. Aku yakin, saat ini dia sedang lengah dan hanya sendiri." Sela pria itu yang menampilkan senyum miring.