
"Kau staf baru di sini?" Seorang pria yang merupakan staf senior di perusahaan Angeline, kini menelisik penampilan Dylan dan memojokkan pria itu di dinding.
Tatapan mereka sangat terlihat tidak menyukai keberadaan Dylan di sana.
Mereka iri dengan Dylan yang setiap waktu berada di samping nona muda mereka.
Apalagi Dylan hanya karyawan baru dan tidak memiliki banyak pengalaman.
"Iya," sahut Dylan dengan santai. Mengabaikan tatapan menyelidik ketiga pria di depannya.
"Wow, kau melakukan apa dengan nona Angeline. Apa kau memberikan dia kenikmatan? Katakan pada kami, bro. Agar kami bisa melakukan hal yang sama supaya bisa dekat dengan, nona muda Angeline." Pungkas salah satu pria di sana, tersenyum sinis dan memandang Dylan sinis.
"Omong kosong apa yang kalian katakan, aku tidak melakukan hal seperti itu, juga nona muda bukanlah wanita yang kalian pikirkan," sergah Dylan, yang tidak menyukai ucapan pria tinggi kurus DJ depannya ini.
Ketiga pria itu tidak percaya, mereka bahkan terkekeh sinis. Menatap wajah Dylan.
"Lalu bagaimana pria payah sepertimu bisa menjadi asisten pribadi wanita itu? Secara ia sudah memiliki asisten sebelumnya. Katakan, apa kami salah apabila menaruh curiga?" Sela salah satu pria di depannya, yang masih menuding, Dylan dan Angeline memiliki hubungan spesial.
"Itu bukan urusan kalian, yang jelas aku dan nona muda Angeline, hanya sekedar pekerjaan, juga nona Angeline ada sosok kaku yang bukan kretrial wanita impian. Kalau kalian mau, silahkan, ambil saja." Dylan meninggalkan ketiga pria itu dengan wajah kesal. Ia merasa di remehkan disini, menganggap dirinya hanya benalu.
"Satu lagi, kalian pasti tahu bagaimana kejamnya wanita itu saat mendengar hal sensitif yang kalian katakan. Berdoalah, agar dia tidak mendengarnya." Ujar Dylan dan setelah itu benar-benar pergi meninggalkan ketiga pria itu.
"Bagiamana? Apa kau sudah yakin? Kalau aku adalah seorang pria kaya raya?" Dylan kini memperlihatkan identitas asli dirinya pada Angeline, yang ditanggapi dengan diam.
"Seharusnya kau bangga memiliki suami sepertiku, yang merupakan putra tunggal dari perusahaan ternama," seloroh pria tampan dengan wajah pongah.
Angeline hanya bisa terdiam, membaca berkas yang di berikan oleh suaminya yang merupakan identitas aslinya.
Wanita itu menutup map coklat di atas meja. Menatap wajah suaminya dengan sangat lekat.
"Apa yang harus aku bangga darimu? Kau hanya penikmat dari hasil kerja keras orang tuamu. Kau hanya putra benalu yang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan pelacurmu," ujar Angeline, yang berhasil membungkam mulut Dylan.
"Kau!" Dylan bereaksi sambil menunjuk ke arah wajah Angeline.
"Semua fakta suami. Kau hanya memiliki kehidupan beruntung terlahir di dunia dengan keadaan orang tuamu yang sudah kaya," tandas Angeline. Sungguh Dylan di buat emosi dengan istrinya ini.
Angeline tersenyum tipis, melihat wajah jengah Dylan yang kembali melangkah menuju pintu keluar. Sia-sia kepercayaan diri untuk memamerkan status asli pada istrinya ini.
"Wanita itu, selalu saja bisa membuatku bungkam. Apa perlu aku membungkam mulutnya dengan ciuman liarku." Dylan berjalan menuju lift sambil bersungut-sungut kesal.
Angeline kini hanya bisa terdiam, pikirannya masih tertuju pada Barack dan kekasihnya yang begitu mudah lepas dari tahanan.
Ia berpikir pria itu sudah tiada dengan dieksekusi mati, namun ternyata mantan suaminya masih berani menampakkan diri.
"Apa semua ini rencana si tua bangka itu?" Gumam Angeline, mengetuk ujung jarinya di atas meja.
Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya yang sedang direncanakan oleh tuan James dan ketiga pengkhianat itu.
"Seharusnya, aku memenggal saja batang leher pria tua itu. Membuat aku kesusahan pada akhirnya," ucap Angeline dengan suara pelan, menggenggam kuat pena yang ada di telapak tangannya.
Karena mood-nya yang sangat buruk, Angeline berniat untuk kembali ke Mansion saja.
Ia tidak ingin membuang-buang waktu terlalu lama dengan berdiam diri di sini. Ia butuh pencerahan tentang apa yang sedang tuan James rencanakan sekarang.
"Hey, kau mau ke mana?" Dylan mengejar langkah panjang Angeline, saat melihat wanita itu melintas di depannya, saat sedang mencoba menggoda para wanita cantik yang ada di lobby.
Angeline hanya menampilkan wajah datar, melihat pria yang berstatus suamiku sedang bersama dengan Seorang wanita seksi.
Wanita itu terus berjalan, tanpa memperdulikan Dylan.
Dylan ikut memasuki mobil, saat Angeline sudah duduk tenang di kursi penumpang bagian belakang, tanpa menjawab pertanyaannya.
Dylan hanya bisa menghela nafas panjang, menghadapi istri kakunya ini. Melihat mimik suram istrinya, membuat Dylan memutar kedua bola mata.
Sungguh istrinya ini sangat membosankan, dan tidak memiliki aura menarik sedikitpun menurut Dylan.
"Kau harus menemaniku kembali besok," seru Dylan, berhasil mengalihkan perhatian Angeline.
"Mommy menyuruhku kembali dan memaksa untuk segera menikahi wanita pilihannya," lanjut Dylan kembali, saat melihat tatapan heran Angelin.
"Aku tidak bisa, waktuku terlalu berharga untuk disia-siakan," sahut Angeline, yang kembali fokus pada tabletnya.
Wajah Dylan terlihat geram, mendengar penolakan Angeline. Dylan Bahkan sangat muak dengan sikap egois Angeline.
"Aku tidak mau tahu, kau harus ikut denganku dan mengatakan pada semua seluruh keluargaku, kalau aku sudah menikah dan kau, adalah istriku!" Sentaknya dengan nafas memburu, juga tatapan nyalang yang ditujukan pada Angeline.
"Kalau kau menolak, maka aku tidak akan berada di sisimu lagi!" Setelah mengatakan hal demikian, Dylan pun terdiam. Menahan gejolak emosi yang sejak tadi ia tahan.