Strong Woman

Strong Woman
bab 31



"Mom, dia Angeline, istriku." Orang-orang yang ada di dalam ruangan luas itu terperangah mendengar perkataan Dylan. Apalagi sang mommy yang hanya bisa tercekat sambil menatap putranya.


Pandangan mereka kini tertuju pada wanita di samping Dylan. Sosok wanita berwajah cantik, membuat mereka terpukau dengan kecantikan Angeline. Namun kini tatapan mereka mulai menelisik penampilan Angeline yang hanya mengenakan pakaian serba sederhana.


Membuat kedua mata mommy Dyan begitu sakit, melihat penampilan buruk menantunya.


Sementara wanita muda di samping wanita setengah abad itu, terus melirik Angeline dengan sinis dan remeh.


"Apa yang kau katakan, son. Jangan coba-coba menipu mommy kali ini dengan membawa seorang wanita …." Mommy Dylan tidak dapat melanjutkan perkataannya, yang kini sibuk memindai penampilan, Angeline.


"Setidaknya kau membawa seorang wanita yang lebih baik dari ini," wanita yang akan dijodohkan dengan Dylan, menimpali ucapan nyonya Roberts.


Mereka pikir Dylan dan Angeline hanyalah pasangan setingan, jadi mereka begitu santai sambil memandang remeh ke arah Angeline.


Nyonya Roberts membenarkan ucapan calon menantunya dengan tatapan jijik ke arah Angeline.


"Stefany, jaga ucapanmu. Dia adalah …." Dylan menghentikan ucapannya sambil melirik ke istrinya. Saat merasakan cubitan, Angeline.


"Why, honey. Katakan di bagian mana dari kesempurnaanku ini kau tidak sukai. Seharusnya akan yang harus menjadi istrimu, bukan dia yang tercium bau kemiskinan," ujar wanita itu dengan wajah sombong, sikapnya yang arogan dan wajah garang.


Sedang Angeline masih terlihat tenang, mengamati satu persatu wajah wanita di depannya.


"Lihat, dia bahkan tidak menyapa mommy," sela mommy Dylan sambil mencebik bibir.


Dylan menatap Angeline, menyenggol lengan istrinya. Pria itu memohon pada Angeline agar menyapa sang mommy dengan sikap lemah lembut.


"Untuk apa aku menyapa anda, mommy mertua. Setelah menyambutku dengan sikap anda ini," sahut Angeline, membuat kedua mata Dylan melebar, menatap sang istri sambil memberikan peringatan.


"Hey, wanita desa dan miskin! Jaga ucapanmu! Wanita sepertimu tidak berhak berkata seperti itu padanya!" Stefany, menyela dengan wajah nyalang, mencoba mengintimidasi seorang Angeline.


"Kenapa aku harus menjaga mulut, bukankah sejak tadi kalian yang terus berbicara? Lagian ini mulut aku, dan ini hak aku untuk mengeluarkan kata-kata yang aku inginkan," jawab Angeline dengan wajah tenang.


Ia juga melipat kedua tangannya di depan dada, memiringkan kepala untuk menelisik wajah ibu mertua.


"Dylan Roberts! Darimana kau menemukan wanita kasar dan kurang etika ini, hah!" Sentak nyonya Roberts sambil melemparkan tatapan sengit ke arah Angeline.


"Yang jelas bukan di tempat murahan," sahut Angeline, berhasil membuat ibu mertuanya semakin menahan kekesalan.


"Mommy mertua, anda seharusnya menyambut menantumu ini, bukan malah memperkenalkan seperti dia," ujar Angeline sambil melirik wanita modis d samping ibu mertua.


"Kau …."


"Ayo sayang, aku akan mengajakmu ke kamar kita," sela Dylan, segera menarik tangan istrinya, pria itu tidak ingin keluarga syok melihat sifat asli istrinya lebih jauh.


Dylan sangat khawatir, sebuah belati atau senjata api yang akan menghentikan perdebatan itu dan membungkam mulut mommynya.


"Bibi Cindy, lihatlah! Dylan sudah menikah," Stefany kini merengek di lengan mommy Dylan.


Ia bahkan memperlihatkan wajah sedih dan air mata palsu.


"Tenanglah, sayang. Bibi tidak akan membiarkan wanita itu hidup bahagia bersama putraku, aku akan melakukan apapun untuk membuat wanita itu pergi jauh dari sini." Ucap mommy Dylan dengan wajah penuh kelicikan.


Ia tidak akan menerima seorang menantu dari kalangan bawah. Nyonya Cindy sangat menghindari sosok rakyat jelata.