Strong Woman

Strong Woman
Inem



Namaku Nasya tapi sebut saja Inem,  gak ada nama keluarga atau marga karena keluargaku tidak memiliki marga, aku berasal dari kota I tapi saat ini menetap di kota S, Aku di besarkan oleh seorang ibu yang sangat baik hati tanpa adanya sosok lelaki didalam hidupku,  hal ini yang melatar belakangi ibu nekat menjadi imigran di kota S,  katanya dahulu beliau hidup dengan sangat layak (kaya)  dikarenakan orang tuanya (kakek+nenek)  keduanya merupakan pebisnis tersohor di kota I,  beliau hidup berkecukupan dengan semua kubutuhannya yang terpenuhi,  namun yang tidak dimilikinya adalah kasih sayang orang tua,  hal itu yang membuat beliau mencari kesenangan lain di dunia luar,  hingga pada saat iya bertemu dengan seorang pemuda(ayah)  yang mampu memberikan apa yang  diimpikannya yaitu kasih sayang,  singkat cerita mereka menjalin hubungan terlarang dimana karena hubungan itulah aku tercipta. 


#note


Kota S itu ibarat kota yang sudah maju (metropolitan) mirip New York, jepang, dll


Sedangkan kota I adalah kota yang masih berkembang belum maju misalnya indonesia, malaysia, thailand,dll


Saat kehamilan ibu di ketahui keluarga besar karena murka akhirnya ibu di usir,  mengharap akan di terima oleh si pemuda namun yang ada ibu hanya mendapati ruang kosong saat mendatangi kediamannya (ditinggal hamil),  namun ibu selalu menyangkal bila di tinggal hamil padahal itu lah kenyataannya,  ibu selalu berkilah bahwa lelaki itu sama sekali tak mengetahui akan kehamilannnya dan bila iya mengetahuinya besar kemungkinan lelaki itu tak pergi meninggalkannya,  aku hanya mendengar spekulasi ibu membela lelaki itu yang sama sekali tak pantas di sebut ayah,  ya harus ku dengarkan karena itulah pesan-pesan terakhir ibu sebelum menghembuskan nafas tarakhir. bahwa aku tak boleh membenci lelaki itu,  tentu saja aku menyanggupinya karena tak ada yang lebih penting dari kemahuan ibu, karena  ibuku adalah belahan jiwaku,  sedangkan untuk lelaki itu aku bersyukur kalau dia tak tahu kelakuan bejadnya dahulu yang menghancurkan hidup ibuku ternyata membuahkan racun untuknya yaitu aku.


Sejak peninggalan ibu, setiap memiliki waktu luang aku menggunakannya untuk membaca ulang buku harian ibu,  ya walau semuanya sudah hampir kuhapal di luar kepala itu karena semasa hidup ibu sangat menyukai menulis buku harian,  dari buku itulah segala tentang ibu ku ketahui,  segala kerja keras ibu saat mengandungku hingga masa akhir hidupnya pun ibu masih mengkahwatirkan ku.


Disana tertulis bagaimana perjuangan ibu yang setelah kehilangan arah ia terus berjuang menghudupi dirinya dan janin di perutnya (aku)  segala profesi dia geluti padahal ia terlahir di atas singgajsana namun karena diriku, ibu harus turun bekerja keras menjadi pembantu demi diriku,  tidak hanya itu dia bahkan nekat menjadi imigran di kota S dengan hanya berbekal modal nekat,  pengalaman kerja sebagai pembantu,  dan bahasa ingris yang dipelajarinya di bangku sekolah akhirnya setelah persiapan surat dan semacamnya ibu bermigrasi ke kota S bersamaku yang ada di perutnya dengan harapan dapat memperbaiki kehidupannya,  bersyukur segala harapan ibu terkabul ternyata di kota S bukanlah kota yang semenyeramkan yang di kabarkan bahkan di sini ibu menemukan banyak orang baik yang mau membantunya.


Seperti nama asliku yang bukan hanya Nasya tapi Nasya Padolf mengapa demikian, itu karena saat melahirkanku ibu meminta rekannya mengatas namakan dirinya sebagai orang tuaku sehingga terbentuklah nama Nasya Padolf tujuannya semata-mata agar aku terdaftar sebagai warga sipil bukan imigran sepertinya. Aku tak pernah menyebut nama asliku baik disekolah atau dimana pun karena bagiku inilah diriku cukup menjadi


Oke cukup nostalgiah seputar ibu walau rindu, aku tak ingin beliau melihatku sedih meratapi kepergiannya bahkan setelah 3 tahun berlalu. Aku sama dengan anak yang ada pada umumnya penuh dengan keceriaan hanya saja aku selalu memberi jarak pada spesies yang bernama lelaki/pria/cowo atau sejenisnya :v,  dan itu sudahku lakukan bahkan saat ibu masih ada.


♡♡♡♡♡


Saat ini aku hanya menantikan pengumuman kelulusanku,  karena seminggu yang lalu aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusanku bersama siswa lainnya. Namun beberapa hari ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri,  terkadang lemas dan kadang pula kepalaku pusing padahal aku sama sekali tidak pernah salah makan,  karena walau ibuku sudah tidak ada aku sendiri mampu menghidupi diriku,  berbekal keahlianku di bidang teknologi,  tidak hanya komputer tapi hampir semua alat elektronik itu ibarat mainan untukku,  kata ibu ini bakat lelaki itu yang seorang jenius,  setidaknya dirinya berguna untuk yang satu itu pikirku. Sejak ibu meninggal aku mencari nafka dengan cara  menjual aplikasi,  ya aku cukup membuat beberapa aplikasi kemudian menjualnya pada pihak yang membutuhkannya dan ya tentu saja uang itu akan mengalir.


Tapi, beberapa hari ini semua terasa berat untukku,  bukan karena beban materi atau masalah disekolah,  ini lebih ke pada kondisiku sendiri.  Terkadang aku merasa sangat lemas hingga berjalan pun tidak sanggup bahkan hari ini sudah 2 kali aku pingsan tepatnya di sekolah dan tadi saat perjalanan pulang,  untung saja yang diatas masih menyayangiku membiarkan aku menggapai sofa depan baru kesadaranku hilang,  aku mengetahuinya karena mendapatiku yang baru sadar tepat jam 10 malam,  tidak hanya itu aku bahkan memeriksa di cctv agar spekulasiku akurat. Ini bukan kali pertama aku sakit sepeninggalan ibu dan tentu saja sampai saat ini masih dapat kuatasi sediri karna itu pilihanku untuk hidup mandiri walau sebenarnya banyak sahabat ibu yang tertarik untuk mengurusku namun semua ku tolak dengan halus dengan dalih untuk belajar mandiri dan itu dapat kubuktikan hingga kini. Karna jujur saja aku tak ingin orang lain terbebani karena diriku terlebih aku sebenernya memang lebih suka suasana hening.


Kuputuskan untuk masak karena jujur saja perutku sudah meronta minta di isi,  tepat pukul 11 malam aku sudah selesai memakan habis semua makanan yang memang aku masak sendiri aku sampai heran mengapa selera makanku sangat meningkat drastis dari yang dulu aku hanya memakan salad saat malam kini memakan 3 porsi nasi + lauk pauknya,  namun kucoba untuk berpikir positif bahwa ini adalah dampak karena sedari siang aku belum makan karena pingsan dalam dua periode :v.


Dengan langkah malas aku menempatkan diri di depan sebuah komputer canggih yang sangat lengkap,  jangan salah sangka walau rumah peninggalan ibuku hanya gubuk sederhana namun aku bahkan mampu membeli sebuah rumah mewah bila aku ingin,  namun semua itu ku urungkan karena aku lebih mencintai rumah peninggalan ibuku ini,  walau kumuh dan usang namun tetap kokoh dan nyaman,  sejujurnya aku sudah memiliki beberapa rumah yang tersebar di beberapa tempat,  hal ini kulakukan karena tahu resiko dari pekerjaanku,  walau tidak melakukan hal yang ilegal tetap saja aku harus waspada karena untuk bertahan hidup seseorang harus bisa bertahan antara memakan atau di makan,  begitu lah dunia nyata yang sesuangguhnya dunia yang penuh  dengan kriminalitas😎😎😎 dunia yang penuh dengan kekejaman,  untuk anak muda sepertiku harus bijak mengambil langkah dalam dunia yang kejam ini.


Tanganku mulai sibuk mengutak atik mengetik keyboard dan sesekali menekan nekan mouse, inilah kebiasaanku menjelajahi dunia maya layaknya menjelajahi hutan rinba. Mengingat kegiatanku disekolah sudah di ujung tanduk kuputuskan untuk melakukan pekerjaan sekaligus hobiku aku berjalan ke lemari dan membukanya dan terpampanglah rak-rak didalamnya yang diisi  oleh berbagai macam jenis laptop (pc)  dengan merek yang sama yaitu BR yang tak lain adalah singkatan dari Black Rose,  itu adalah nik name ku di dunia Gelap,  jangan tanyakan mengapa tentu saja karena semua ini aku yang merakitnya,  sedangkan komponen-komponen lain memang ku pesan khusus dan itu melalui banyak sangat banyak proses panjang hingga bisa sampai di tanganku,  bayangkan untuk pengirimannya aku butuh setahun untuk mendapatkannya langsung di hadapanku itu semua bukan semata-mata karena keterlambatan namun karena jaraknya yang memang kubuat sedemikian rupa ribet sehingga sulit di lacak, semua perlatan yang kubuat tidak ada yang kuedarkan keluar karebna sudah kukatakan bukan,  aku hanya menjual aplikasi untuk mereka. Sedangkan peralatan ini memang khusus kurakit untukku lengkap dengan segala kecanggihannya.  Misalnya ada jejak jari asing yang terditeksi maka alat itu akan rusak dengan sendirinya hal itu karena aku memang sengaja memesan agar kulit dari perangakat itu sendiri harus dibuat lengkap dengan pendeteksi sidik jari.