Strong Woman

Strong Woman
bab 18



Angeline terpaksa harus kembali ke tahanan. Ia menemui Barack dengan membawa sang pengacara untuk mengurus surat perceraian.


Angeline kini duduk di sebuah bangku dengan wajah datar, menunggu sosok pria yang masih berstatus suami.


Tidak lama kemudian terlihatlah pria yang semakin berubah keadaan juga penampilannya.


"Cih, ternyata hidup di tahan sangat berpengaruh dengan kehidupan mewah seseorang," Angeline mengeluarkan perkataan yang langsung menghina Barack.


Sedangkan pria yang masih berstatus suaminya, hanya bisa menajamkan kedua pandangannya penuh dengan dendam dan sakit hati.


"Seharusnya anda tidak memaksaku untuk menemuinya, kalau hanya ingin mendengar kata hinaan dari wanita iblis ini," sentak Barack yang mengarahkan pandangan ke arah penjaga tahanan.


Ia sejak tadi menolak untuk bertemu dengan Angeline yang pastinya akan menghina dan menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang seorang pria yang dahulu sangat berkuasa.


"Karena kau memang pantas mendapat hina yang hanya seorang pria payah dan pecundang," ucap Angeline dengan suara pelan namun penuh tekanan. Memandang sinis ke arah Barack dengan gaya yang begitu elegan juga terkesan arogan.


"Brak." Tandatangani berkas itu, maka aku akan berhenti menemuimu," ucap Angeline, melemparkan sebuah map d depan Barack.


Pria itu tersenyum saat membaca tulisan di sampul map. Ia tidak akan semudah itu melepaskan sebuah berlian yang akan membawa keberuntungan untuknya.


Ia hanya diam dan terlihat tersenyum penuh maksud,


"bukankah, ini adalah kesempatan beruntung untukku? Memberikan kesepakatan baik." Barack tersenyum samar, lalu meraih map coklat yang tergeletak di atas lantai.


"Apa kau pikir aku akan menandatanganinya?" Sela Barack, melempar kembali map itu ke arah Angeline.


Angeline tersenyum sinis, mendengar perkataan Barack, ia melirik pengacaranya yang berdiri di sampingnya.


"Aku akan menandatanganinya, asal kau ingin membebaskan kami dari sini," sentak Barack yang melemparkan penawaran kepada Angeline.


Angeline hanya terdiam dengan wajah datar, menatap semakin lekat wajah Barack.


"Kau pikir penawaranmu akan membuatku tertarik? Itu tidak mungkin, karena ini bukan perintah, tapi ini keinginanku yang harus kau turuti," sahut Angeline yang seketika membuat Barack terdiam.


Barack terlihat menahan amarah dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah sana. Ia tidak percaya, ternyata wanita di depannya ini sangatlah licik.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan menandatanganinya. Apa kau pikir aku bodoh, kau ingin bersenang-senang dengan pria lain setelah aku menandatangani berkas ini? Itu tidak akan aku biarkan, semoga kau akan mendapat kutukan dengan status tergantung seperti ini." Barack bangkit dari bangku, menunjuk wajah Angeline dan tertawa lepas, memikirkan nasib Angeline yang memiliki status pernikahan tidak jelas.


Barack menjatuhkan tubuh tingginya di atas bangku kembali, bergaya menantang ke arah Angeline yang hanya diam.


Barack terkejut dengan kedua matanya hampir saja keluar, karena ia sungguh menghadapi seorang wanita licik.


"Kalau kau tidak ingin menandatanganinya, maka sangat mudah bagiku untuk mengubah status seorang istri menjadi single. Mungkin dengan cara menghabisi nyawamu misalnya," timpal Angeline, sambil memainkan kuku indahnya dan melirik wajah Barack yang semakin terpaku.


Barack benar-benar sudah kehilangan kesabaran, ia diam-diam mengeluarkan sebuah senjata tajam dari balik bajunya tahanan yang ia pakai.


Pria itu lantas berdiri dan menyingkirkan meja yang menghalanginya untuk mendekati Angeline.


Serangan mendadak Barack, membuat para petugas tahanan terkejut, juga pengacara Angeline, saat Barack menusuk dada pewaris kekayaan Will.


Angeline sendiri terdiam saat melihat gerak-gerik tubuh Barack yang ingin melukainya.


Ia seakan sengaja ingin menempatkan diri sebagai korban penyerangan dan itu kesempatannya untuk menuntut Barack dengan hukuman mati.


Barack tersenyum puas, bahkan terkekeh, melihat Angeline terkulai di atas keramik tahanan dengan simpahan darah.


Namun tiba-tiba ia tertegun, saat melihat senyum licik Angeline, saat beberapa petugas tahanan segera menyelamatkannya. Pria itu terdiam mencoba memahami diamnya Angeline tadi.


Seketika ia baru menyadari sesuatu licik yang direncanakan Angeline, saat beberapa petugas dari tahanan khusus khusus berat datang dan membawanya pergi dengan kasar. Ia bahkan tidak berkesempatan untuk membela diri saat diamankan oleh pihak tahanan.


Yang meringkus dirinya dengan sangat kasar, seakan ia adalah pembunuh berantai yang paling berbahaya di dunia.


Sementara Angeline tersenyum puas yang sedang berada di klinik terdekat dan sedang melakukan perawatan darurat atas luka lumayan serius di bagian dada kanannya.


Ia bahkan tidak merasa kesakitan atas luka yang ia dapat, namun kepuasan membuatnya sangat senang hari ini.


Namun tidak dengan pengacaranya yang sejak tadi terlihat gemetar panik, melihat nona mudanya bersimbah darah.


"Nona seharusnya tidak melakukan hal berbahaya seperti tadi, bisa saja tusuk mengenai alat vital anda," ucap pengacara Angeline saat dalam perjalanan pulang.


Wanita itu menolak dirawat di rumah sakit. Katanya ia bukanlah wanita lemah harus menghabiskan waktu sia-sia di tempat itu. Meskipun wajahnya sangat pucat, Angeline sangat bersikeras untuk kembali ke Mansion saja.


"Aku tidak mau waktu berhargaku hanya digunakan untuk bermalas-malasan di tempat itu. Lebih baik aku mengobatinya sendiri," sahut Angeline dengan sifat Arogannya yang lebih dominan.


Pengacara setia keluarga Will hanya bisa terdiam sambil menghela nafas panjang. Ia tidak mengerti dengan keras kepala, nona mudanya yang sangat mencengangkan.


Angeline sendiri merasa puas sudah menyingkirkan, Barack, dendamnya sudah terbalaskan dengan sangat puas. Memberikan penderita pada pria itu tanpa mengotori tangannya.