
Pagi ini aku bangun sangat cepat, ini karena aku terlalu bersemangat, hari ini aku memiliki jadwal untuk mengikuti senam ibu hamil yang ada di rumah sakit dekat tempat tinggalku.
Mereka memang terkenal sebagai rumah sakit terbaik dalam bidang kehamilan, hal ini karena mereka banyak menyediakan layanan dengan kualitas baik khususnya bidang kebidanan misalnya senam hamil salah satunya.
Dengan setelan sederhana namun elegan aku mendatangi rumah sakit tujuanku, saat keluar dari taksi kini aku tiba dirumah sakit, aku dapat melihat banyak orang yang berlalu lalang namun suasana sejuk masih terjaga di sini, area rumah sakit memiliki lahan yang sangat luas terbukti selain 3 gedung tinggi juga terdapat taman dengan banyak pohon yang di tanam di sekelilingnya, tidak heran rumah sakit ini di juluki salah satu rumah sakit kaum elit.
Dengan menghirup napas aku mengambil langkah menuju gedung 2 karena disanalah senam di adakan.
Tidak butuh waktu lama karena senam hanya memakan waktu 1 jam, lengkap dengan segala penjelasan bagi pemula sepertiku, untung saja ini cepat berlalu karena jujur saja aku sangat merasa tidak nyaman bukan karena sulit, hanya saja saat senam tadi aku dapat merasakan banyak tatapan mata yang tertuju padaku, dengan berbagai macam tatapan, ada yang terlihat penasaran, menghina, bahkan prihatin.
Aku tahu itu bukan salah mereka dan mereka berhak menilai, hanya saja tatapan kasihan itu membuatku merinding dengan sedikit sesak di hatiku.
Apa yang salah dengan hamil muda?, anak ini adalah hidupku, dia adalah cahaya yang tuhan kirim padaku didalam gelapnya hidupku, dia adalah kehangatanku disaat aku dingin dalam kesunyian.
Aku memutuskan untuk berjalan ke taman guna menenangkan pikiranku. Karena merasa lelah aku memutuskan untuk duduk berteduh dibawah pohon yang memiliki kursi taman di bawahnya, di temani air mineral dingin kini aku duduk bersender menikmati pemandangan di hadapanku.
Disana seberang tempatku duduk terdapat 1 keluarga yang tampak sangat bahagia, ayah dan sang anak tampak sedang bercanda dan saling menggoda satu sama lain sang ibu tampak senyum bahagia dengan bayi yang ada di gendongannya, mereka tampak bahagia dan aku berdoa semoga mereka selamanya bahagia.
Dihati kecilku aku sangat iri dengan anak itu, dia punya ayah yang menyayanginya, ayah yang melindunginya, dan ayah yang mengobatinya saat dia terluka.
Dia juga punya ibu yang menyayanginya, ibu yang memberinya pelukan kehangatan, ibu yang menghiburnya di kala sedih.
Berbeda denganku yang hanya punya ibu yang sekaligus menjadi ayah bagiku.
Aku bersyukur memiliki ibu yang hebat.
Aku hanya bisa berharap semoga kelak aku dapat mewarisi ke ahlian ibu saat merawatku dulu.
Semoga anakku dapat tumbuh menjadi anak yang hebat seperti ibunya.
Aku berharap untuk hidup bahagia bersamanya nanti.
Tampa sadar aku melamun hingga aku tersadar oleh sebuah tarikan lembut dibajuku.
"Kakak " suara suara gadis kecil di telingaku.
"Haah...ada apa Dek?" Tanyaku kaget.
"Kakak ada makanan?" Tanyanya penuh harap.
Gadis cilik ini melihatku dengan mata penuh harap, dia melirik bergantian antara aku dan kantong belanjaan yang kebetulan kubeli bersama air mineral tadi.
Tampilan gadis cilik ini terlihat sangat lusuh dan kurus, aku dapat memperkirakan bahwa usianya sekitar 5 tahun.
"Ada kau ingin?" Tanyaku tersenyum rama.
Aku memberinya roti yang kuambil dari dari kantong belajaanku.
"Terima kasih" katanya tersenyum sembari duduk di dekatku.
Pasti sangat sulit untuk anak seusianya yang harus berjuang di jalanan.
"Berapa usiamu?" tanyaku.
" 5 tahun" jawabnya tanpa menoleh dan hanya fokus kepada roti di depannya.
Dugaanku benar usianya 5 tahun.
"Kau tinggal dengan siapa?" tanyaku.
"Sendiri"jawabnya.
"Makan pelan-pelan saja tidak ada yang akan merebutnya darimu" kataku sembari mengelus rambutnya.
Dia hanya mengangguk sebagai pembalasan.
Aku kembali menyodorkannya roti karena melihat roti yang ada di tangannya hampir habis berpindah di perutnya.
"Kemana orang tuamu?" Tanyaku prihatin melihatnya.
"Pergi" dia diam seolah berpikir.
"Mereka pergi meninggalkan aku di jalan karena mereka tidak punya uang membiayaiku" lanjutnya.
Aku terdiam mendengarkan penuturannya, seketika aku merasa bersyukur karena walaupun ayah tak menginginkanku, namun masih ada ibu yang mau berjuang untukku, namun naas bagi gadis cilik ini karena dia tidak di ingini oleh kedua orang tuanya.
Lama aku melamun dan disadarkan lagi oleh guncangan si gadis kecil.
"Kakak mau?" Tanya sembari menawarkan roti bekas gigitanya.
"Tidak itu untukmu saja, dan semua ini juga" sembari memberinya sisa roti yang ada di kantong belanjaan.
" Mona" jawabnya lagi-lagi sibuk dengan rotinya.
"Dimana kau tinggal?" Tanyaku.
"Aku bisa tidur dimana saja" jawabnya.
"Ingin ikut tinggal bersamaku?" Tawarku.
Dia menatapku dengan kaget, namun aku dapat melihat dia tampak ragu, melihat responnya aku dapat yakin dia anak yang cukup cerdas.
"Jangan kahwatir, aku juga sama sepertimu. Aku juga hidup sendiri" kataku.
Dia masih membisu dengan tatapan ragu.
"Mau tahu rahasia tidak?" Tanyaku.
Dia terlihat penasaran dan akhirnya dia mengangguk walau masih terlihat ragu.
Aku mengambil tangan kecilnya kemudian kuletakkan di atas perutku.
"Disini akan ada malaikat sepertimu" kataku.
" benar-benar ada malaikat?" Dia bertanya dengan antusias.
" Tentu saja, buktinya kau ada. Gadis kecil cantik manis dan pintar kalau bukan malaikat di sebut apa?" Tanyaku senyum ramah.
Dia terlihat kaget namun terlihat lebih semangat dan antusias.
"Kakak salah aku bukan malaikat, mana ada malaikat kotor dan jelek seperti aku, lagian mama sama papa aja buang aku, aku bukan malaikat kakak bohong" katanya sayu dengan suara lirih.
Sungguh anak yang sangat memprihatinkan.
"Lala salah, Lala itu malaikat. Lala gadis baik, Lala kan juga bukan anak nakal, Lala juga cantik kok, Lala kotor karena Lala masih kecil dan gak ada yang ngurusin Lala, sedangkan kalo orang tua Lala. Mereka itu jahat dan cuma orang baik yang bisa liat malaikat" jelasku meyakinkannya.
Dia melihatku dengan tatapan yang berkaca-kaca kemudian langsung berdiri dan memelukku.
"Aku ikut kakak" katanya parau.
Aku yakin saat ini dia sedang terisak hanya saja dia malu karena itu aku hanya menepuk sayang dia didalam dekapanku.
Melihat dia mulai tenang aku kemudian mengajaknya pulang karena cuaca juga sudah mulai terik.
Kami berjalan beriringan keluar dari taman dan langsung pulang ke apartemen berdua menggunakan taksi.
Sesampai di apartemen dia terlihat kaget melihat bangunan yang ada di depannya, dia melirikku dengan ragu, dan aku mengangguk lembut kemudian meyakinkannya dengan menggenggam tangan kecilnya.
Sebelum kembali ke lantai 2 dimana unitku berada, aku menyempatkan diri berbelanja di lantai bawah.
Aku membeli semua kebutuhan yang di perlukan oleh Lala dan juga keperluan ku.
Aku tidak berbelanja banyak untuknya hanya hal-hal yang dia butuhkan saja sedangkan untuk kebutuhan lainnya, aku akan mengajaknya besok berbelanja.
Kebetulan besok aku tidak ada kegiatan atau janji dengan dokter.
Dengan membawah tentengan belanjaan yang lumayan banyak aku mengajak Lala kelantai 2 dimana unit apartemen kami berada.
♡♡♡♡♡
Aku memberinya kamar kosong yang posisinya berada tepat di sebelah kamarku untuk Lala dan dia terlihat sangat bahagia karenanya.
Aku membantunya membenahi beberapa barang yang baru saja kami beli dan menemaninya mandi.
Benar saja setelah mandi dan di dandani kini rupa imut Lala mulai terlihat.
Ia bahkan tidak berhenti bercermin dan menanyakan kebenaran, dan setelahnya tertawa bahagia khas kepolosan anak kecil.
Setelah bersih aku membawanya kedapur dan memasak nasi goreng untuknya.
Aku sangat senang Lala memuji masakanku.
Setelah makan bersama aku membiarkan Lala nonton Tv sedangkan aku kembali ke kamar untuk mandi.
Jujur aku sangat senang, kini tidak hanya akan ada aku dan bayiku, tuhan sangat baik memberikan Lala kepada kami, memberikan aku 1 lagi keluarga untukku jaga.
Aku tak henti-hentinya mengucap syukur atas rasa bahagiaku karena hadirnya Lala sabagai Anggota baru dalam keluarga kecilku.
Dan aku sangat tidak sabar untuk menanti hari esok.