
"Bagaimana? Apa anda masih ingin mengusikku?" Angeline kini berdiri di hadapan tuan James yang masih tidak percaya, menyaksikan temannya kini terbujur kaku di dekat kedua kakinya.
"Aku tidak akan tinggal diam, semua orang akan tahu nanti, kalau kau hanya seorang jiwa bengis yang merasuki tubuh keponakanku!" Sentak tuan James.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, selama aku berbaik hati melepaskanmu," ucap Angeline sambil menilai tuan James, dengan wajah tidak suka.
Tuan James pun meninggalkan Mansion itu dengan perasaan penuh amarah. Pria itu bertekad akan membalasnya perbuatan Angeline.
Kini Angeline membalikkan badan, menatap lekat pria di hadapannya. Bahkan kedua kelopak matanya menyipit, memindai Dylan.
Angeline yakin, begitu energi positif di dalam jiwa dan tubuh Dylan sangat kuat, hingga ia berhasil membantunya.
Mendapat tatapan aneh dari Angeline, membuat Dylan merasa kikuk dan salah tingkah. Sungguh sikapnya sekarang membuat Dylan tersenyum aneh.
Dylan pun berniat untuk segera meninggalkan tempat mengerikan itu, di mana begitu banyak mayat terkapar di atas lantai, juga cairan merah yang aromanya membuat Dylan tidak tahan.
"Kau mau ke mana?" Sela Angeline, menghentikan langkah Dylan yang terburu-buru segera meninggalkan kediamannya.
"A-aku masih memiliki pekerjaan." Dylan berusaha melepaskan genggaman tangan Angeline di kerah bagian belakang kemejanya.
Angeline tersenyum tipis, semakin menarik pria tampan di hadapannya kembali ke sisinya. Dylan masih memunggungi Angeline dengan raut wajah tidak nyaman.
Dylan masih ada rasa ngeri saat melihat Angeline begitu bengis membantai anak buah James.
"Berbalik!" Pinta Angeline tegas yang intonasi suaranya tidak ingin terbantahkan.
Dylan refleks membalik badan, terkejut saat jarak mereka sangat dekat. Ia bahkan melihat jelas tatapan mata mengerikan Angeline.
"Apa yang kau inginkan? Aku ingin segera pergi. Jangan khawatir, aku tidak akan menceritakan semuanya pada orang lain. Aku juga harus segera kembali, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Dylan berkata dengan pandangan tertunduk, pria itu tidak berani menatap wajah, Angeline.
Melihat kegugupan pria di hadapannya, Angeline berdecak lidah. Ia baru tahu, kalau pria di depannya ini sangatlah payah.
"Bukankah, kau mengatakan paling berpengalaman menaklukkan wanita menawan? Lalu apa ini, kenapa kau menunduk wajah di hadapanku," sergah Angeline menelisik kedalam bola mata, Dylan.
"Itu karena kau bukanlah, tipeku. Kau terlalu kaku menjadi seorang wanita. Kau juga terlalu mengerikan. Aku tidak mungkin tertarik dengan wanita sepertimu." Dylan pun mengatakan semua pada Angeline kalau dia tidak akan tertarik dengannya.
"Sekarang, lepaskan aku nona! Kalau tidak …."
"Mari menikah!" Seru Angeline tanpa beban dan wajah wanita itu sangat terlihat serius.
Dylan melongo mendengar ucapan Angeline, pria itu bahkan sesegukan karena terlalu terkejut mendengar ucapan wanita di depannya.
"M-menikah! Apa nona bercanda? Ini …."
"Aku tidak ingin dibantah, kau harus menjadi suamiku dan detik ini juga kau harus menjadi suamiku. Selly!" Teriak Angeline, memanggil asisten pribadinya.
Dylan sendiri semakin terdiam dengan tubuh membeku, wajah linglung dengan tatapan tidak percaya, dengan perkataan Angeline.
"Nona, nona, tunggu! Ini tidak mungkin, aku …."
Dylan pun hanya bisa terbongong dan bingung harus melakukan apa, yang jelas, dia belum siap untuk menikah. Ia masih ingin bersenang-senang dengan beberapa wanitanya.
"Hey, nona tunggu! Kau tidak boleh seenaknya seperti ini. Anda pikir nona siapa berani menekanku. Aku belum siap menikah, apalagi menikahi wanita seperti anda. Aku masih ingin bersenang-senang dengan beberapa wanitaku, jadi aku tidak akan terima dan meno—lak," Dylan tersendak, saat Angeline yang sedang membelakanginya membalikkan badan dan memberikan tatapan mengerikan. Membuat nyalinya menciut.
"Kau tidak berhak menolak, atau kau tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan para wanitamu," sergah Angeline yang ucapannya penuh ancaman.
"A-apa, maksud anda?" Tanya Dylan gugup, saat melihat benda tajam kini berada di permukaan kulit wajahnya.
"Aku akan membuat wajah lumayan tampanmu ini cacat," bisik Angeline tepat di atas wajah pias, Dylan.
Dylan hanya bisa membolakan kedua kelopak matanya, merasakan dinginnya benda tajam yang kini menempel di permukaan kulitnya.
"Wajah lumayan tampan? What? Apa kedua mata wanita itu masih norma? Di saat semua wanita yang melihat aku akan mengatakan, akulah yang tertampan di dunia ini." Dylan merasa tidak terima, Angeline menilai ketampanannya minus.
Pria itu menatap punggung Angeline yang melangkah menuju ke sebuah ruangan dengan hati memanas. Ia begitu geram, bisa-bisanya ia ditindas dan di tekan oleh seorang wanita stres.
Dylan memantau sekitar Mansion yang tampak lengah, ia pun berniat ingin melarikan diri dari belenggu wanita bengis.
"Aku harus segera keluar dari sini. Pokoknya aku tidak akan mau menikah dengan wanita kasar itu," monolog Dylan, siap melangkah perlahan menuju pintu utama Mansion.
Ia ingin pergi jauh sementara waktu dari negara ini. Untuk menghindari dari kelakuan semena-mena, Angeline
Dylan tidak mengetahui, kini keamanan canggih sudah terpasang, dan tidak akan membiarkan Dylan bisa keluar dari pintu utama Mansion.
Terbukti, saat ingin melintas di pintu keluar. Tubuhnya tiba-tiba kesetrum, membuat tubuh kekarnya kembali terhempas ke dalam.
Dylan hanya bisa melihat dengan wajah kebingungan, ia pun semakin geram saat menyadari dirinya kini dalam pengawasan wanita gila itu.
"Akh, dasar wanita gila!" Teriak Dylan di sana, sambil menatap sengit ke arah pintu masuk dengan dada kembang kempis karena terlalu menahan emosi.
🌹🌹🌹
"Siapkan semuanya dalam 1 jam kedepan. Aku ingin dia sudah menjadi milikku malam ini. Terus awasi dan jangan biarkan dia meninggal tempat ini!" Angeline terus mengintai gerak-gerik Dylan melalui rekaman cctv, ia juga memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan berkas pra-nikah juga kontrak pernikahan untuk mengikat pria di luar sana.
Angeline baru sadar, kalau Dylan sangat bermanfaat untuknya. Ia memiliki energi positif yang kuat yang akan membuatnya tetap kekal di dalam tubuh barunya. Mungkin dengan mengikat pria itu, maka ia akan bisa menyerap energi positif Dylan agar memudahkan ia menyatu secara keseluruhan dengan tubuh yang sekarang ia tempati.
Angeline tidak bisa menebak, kemungkinan akan muncul sosok yang seperti tadi, yang akan menyerangnya dengan cara lain.
Angeline tidak ingin mengambil terlalu besar resiko yang akan membuatnya menyesal. Ia tidak mungkin meninggalkan tubuh barunya ini.
Angeline sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya ini, dan menurutnya sangat mengesankan daripada kehidupan sebelumnya.
Angeline terus memantau Dylan yang kini sibuk mencari jalan keluar untuk bisa meninggalkan kediamannya.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini, sebelum kau benar-benar menjadi milikku."
🌹🌹🌹