
Hari-hari yang kulalui terbilang nyaman dan sangat damai, kandunganku sudah 8 bulan dan sebulan lagi bayiku akan lahir, aku sungguh tidak sabar menantikannya.
Hidupku sangat berubah, aku bukan lagi gadis yang selalu ingin bersembunyi dari dunia, sekarang dengan hadirnya calon anakku dan juga Lala, aku di tuntut untuk mulai membiasakan diri dengan lingkungan masyarakat sosial.
Sudah 8 bulan pula Lala hidup bersamaku, kini dia tidak lagi sungkan atau malu, justru setelah hidup bersama beberapa bulan ini Lala mulai menunjukkan sikap sesungguhnya, Lala adalah anak yang manja kadang terkesan cengeng namun tetap saja Lala sangat imut.
Kegiatanku selama ini lebih banyak memanjakan diri karena selain jadwal senam hamil, yoga hamil, dan beberapa kegiatan penunjang kesehatan bayi yang rutin kulakukan di rumah sakit.
Aku juga dengan rutin merawat tubuhku selama 8 bulan terakhir, mulai dari salon, spa, dan perawatan kecantikan lainnya, kulitku kini terhindar jauh dari kata kusam karena sangat terawat, tidak hanya aku Lala juga melakukan perawatan rutin hanya saja di sesuaikan untuk anak seusianya, kini dia adalah bocah kecil yang modis.
Selain itu aku kerap mengajak Lala mengunjungi tempat-tempat hiburan yang ada di kota S, seperti kebun binatang, taman bermain, musium mainan, istana coklat, dan banyak lainnya.
Aku dapat merasakan banyak perbedaan yang terlihat akibat perubahan gaya hidupku.
♡♡♡♡♡
Dengan perut buncit berjalan ke kamar Lala, kulihat dia tertidur pulan, itu wajar karena ini sudah jam satu malam dan aku tiba-tiba terbangun ingin memakan knish yang biasanya dijual di gerai-gerai pinggir jalan.
Dengan balutan mantel yang sangat tebal aku keluar dari gedung apartemen dan mencari taksi untuk menemaniku berkeliling.
2 jam berkeliling area pusat kota S aku masih saja tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, selain banyak gerai yang tutup banyak pula yang kehabisan knish.
"Hamil berapa bulan nyonya" tanya si Driver.
"Sudah 8 bulan pak" jawabku tersenyum sambil mengelus perutku.
"Wah duluan istri saya dong nyonya" serunya semangat.
"Memangnya istri bapak hamil juga" tanyaku.
"Iya nyonya, kata bidan istri saya tidak lama lagi melahirkan"katanya semangat.
"Loh kenapa bapak gak nemenin istri bapak aja" tanyaku.
"Mau gimana lagi nyonya, keluarga saya pas-pasan nabung melahirkan aja ini saya harus sering-sering lembur"katanya.
"Bapak suami sekaligus calon bapak yang baik"pujiku.
"Hahahah"dia membalas dengan tawa bahagia.
"Maaf ya pak buat bapak keliling lama"kataku lagi.
"Itu tugas saya nyonya tidak perlu minta maaf"katanya lagi.
"Istri bapak hamil anak keberapa?" Tanyaku lagi.
"Anak pertama nyonya, makanya saya agak grogi dan takut ada kenapa-kenapa" katanya.
"Istri bapak beruntung punya suami kayak bapak" kataku menghiburnya.
"Nyonya jangan sedih, justru saya kagum dengan nyonya, sangat jarang ada anak perempuan sesusia nyonya yang mau berjuang melahirkan anak, padahal mereka tidak tahu banyak orang yang ingin di karuniai anak tidak bisa punya anak, contohnya saya sudah 10 tahun menikah dan lama kami berusaha buat punya anak, dan baru sekarang doa kami di jabah tuhan"terangnya panjang lebar.
"Saya sayang pak sama anak saya"kataku tersenyum lembut sambil mengelus-ngelus perutku.
Aku yakin tanpa perlu kujelaskan beliau paham maksud ucapanku.
"Semoga nyonya dan anak nyonya sehat dan di beri umur panjang" katanya mendoakan kami.
Aku membalasnya dengan senyum tulus.
Jujur sangat jarang orang baik seperti beliau.
Memikirkan nasip bapak driver dan karena merasa lelah aku pun memutuskan mencari restoran yang menyediakan knish sebagai hidangan mereka menggunakan ponselku, cukup dan benar saja terdapat beberapa restoran yang menyediakan hidangan knish, dan untuk menghemat waktu kuputuskan memilih restoran yang paling dekat lokasinya denganku saat ini.
Namun aku bukan yang kuasa.
Sesaat aku hampir mencapai tujuan, taksi yang ku tumpangi ditabrak dari arah belakang dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga taksi yang aku tumpangi harus menabrak mobil truk dari yang baru saja melintasi jalan.
Aku sempat melihat pak driver sengaja memasang badannya di depanku.
Semuanya perputar dan tubuhku berguncang hebat terseret didalam mobil, aku hanya ingat bahwa aku harus melindungi anakku, aku terus memeluk perutku dengan erat sambil terus berdoa atas keselamatan anakku.
Rasanya sangat sesak dan sakit dimana-mana, aku ingin teriak tapi mulutku bisu, aku masih memikirkan bayiku.
Tolong siapa pun tolong aku.
Anakku tolong anakku.
Siapa punn kumohon tolong.
Aku hanya dapat terus memohon dalam diam hingga saat sakit ini sudah mulai tidak terasa lagi dan semuanya hening.
♡♡♡♡♡
Kecelakaan terjadi karena seorang pengendara mabuk menabrak taksi yang Inem pumpangi dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga saat di perempatan jalan ada truk yang baru saja melintas langsung ikut terseret karena tertabrak oleh bagian depan taksi, naasnya driver taksi meninggal di tempat dengan kondisi tubuh yang hancur, sedangkan 4 korban lain dalam kondisi kritis.
Pengemudi truk meski pun awalnya kritis namun setelah di operasi kini kondisinya stabil, pengemudi mabuk memiliki patah tulang lengan dan luka yang lumayan parah di bagian kepala, setelah melakukan operasi pengemudi mabuk di nyatakan lumpuh pada tangannya dan menjadi tesangka pelaku kecelakaan yang telah terjadi.
Nasib Inem yang paling serius karena saat kecelakaan terjadi inem sedang hamil tua, jadilah kandungan Inem harus di keluarkan secara caesar untuk menyelamatkan nyawa bayi.
Tidak sampai disitu kondisi tubuh Inem sangat memprihatinkan karena patah tulang yang terjadi pada lengan kanan dan kedua kaki Inem, setelah di operasi walaupun tidak dapat berfungsi dengan sempurna namun setidaknya lengan kanan Inem masih dapat di gerakkan hal ini karena ada beberapa syaraf dilengan Inem yang tidak dapat di fungsikan sebagaimana mestinya, sedangkan kedua kaki Inem dinyatakan Lumpuh total.
Dalam waktu satu bulan penuh sejak operasi Inem masih betah dalam komanya.
Dipagi setelah kecelakaan Lala yang awalnya tidak tahu mengenai kecelakaan yang terjadi didatangi polisi dengan pihak sosial guna mengurus Lala hingga Inem sadar kembali.
Sedangkan bayi Inem yang selamat masih di inkubator karena kondisinya yang sangat lemah.
☆☆☆☆
Tidak ada cahaya atau suara.
Semua gelap dan sunyi seolah-olah aku buta dan tuli.
Dimana aku kemana yang lain, yang terakhir kuingat senyum tulus pak driver dengan badannya yang menghalangku melindungiku dari pecahan kaca, setelahnya hanya ada guncangan dan rasa sakit.
Anakku.
Aku meraba perutku dan merasakan itu kosong.
Aku mulai meraung sedih penuh kepiluan.
Saat sudah tidak ada lagi air mataku yang dapat ku tumpahkan, aku melihat cahaya.
Dia anak perempuan kecil yang usianya mirip dengan Lala.
Dia tersenyum.
Aku terdiam terpesona dengan senyumannya tampa sadar air mataku sekali lagi mengalir, padahal baru saja aku berpikir air mata ini sudah kering.
Dia menghapus air mataku kemudian memberikan kecupan dikedua mataku saat mataku terpejam.
"Mamak" katanya.
Aku sekali lagi terisak rasanya sangat sakit seperti ada yang hilang dari diriku.
"Aku sayang mamak"katanya sekali lagi sambil berusaha memeluk kakiku.
Aku menjatuhkan diriku dan memeluknya dengan air mata yang terus berlinang.
Aku tahu yakin dia anakku, batinku tidak dapat berbohong, dokter juga mengatakan anakku kelak adalah perempuan saat aku malakukan USG dan juga tampilan dirinya sangat mirip dengan diriku saat seusianya hanya berbeda di bola matanya yang berwarna biru laut.
"Mamak jangan menangis lagi, nanti aku ikut sedih" katanya.
Aku hanya mengangguk dan terus memeluknya tanpa niat untuk melepaskannya.
"Mamak sayang anak mamak"kataku.
"Aku tau mamak sayang aku"katanya.
"Tapi mamak harus tau bukan cuma aku anak mamak"katanya lagi.
Aku terdiam belum sepenuhnya mencerna perkataan anakku.
"Mamak percaya gak kalo mamak punya anak kembar?" Tanyanya.
Aku memikirkannya namun aku tidak tahu apakah ada keluargaku yang memiliki riwayat melahirkan anak kembar, namun saat memikirkan lagi kondisiku dulu mungkin saja itu terjadi karena banyak yang mengatakan kalau perutku sangat besar untuk kandunga seusiaku.
"Mamak harus tau kalo aku punya adik, dia sangat pemalu makanya mamak tidak tau"katanya lagi.
"Mamak harus bangun kasihan adik butuh mamak" katanya sekali lagi.
"Tapi mamak baru ketemu anak mamak, mamak masih mau sama anak mamak" balasku lirih.
"Mamak jangan sedih, aku selalu ada sama mamak"katanya sambil mengarahkan tangannya di hatiku.
Dia benar.
Belum sempat aku mengucapkan kata tiba-tiba sekali lagi gelap.