
"Bolehkah, aku pergi sekarang?" Angeline mengalihkan perhatian dari laptopnya pada sosok pria tinggi di hadapannya ini.
Salah satu alis wanita itu terangkat ke atas, mendengar perkataan pria rupawan di depannya ini.
Tatapan Angeline sungguh begitu sinis, menelisik penampilan Dylan. Bahkan Angeline tidak hentinya berdecak lidah.
Membuat Dylan semakin bingung, entah apa yang ia lakukan pada wanita di depannya ini, hingga terlihat membencinya.
"Cih, kau sangat pantas menjadi pria pecundang di kehidupan ini, karena di kehidupan sebelumnya kau begitu brengsek." Angeline berkata dengan raut emosi, membuat Dylan hanya bisa terdiam dengan wajah kebingungan dengan wanita cantik di depannya ini.
"Sebenarnya, aku memiliki masalah apa dengan wanita ini? Aku rasa baru kali ini ada seorang wanita yang begitu membenciku," Dylan hanya bisa berkata dalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu! Cepat kerjakan apa yang aku perintahkan!" Sentak Angeline dengan suara nyaring.
Dylan bahkan terkejut dan ia sungguh sudah kehilangan kesabaran. Apa mereka tidak percaya? Kalau dirinya adalah seorang putra dari keluarga konglomerat?
"Cukup!" Pekik Dylan sambil melemparkan alat pembersih di tangan. Ia sudah tidak bisa diam. Dylan menyesali diri yang sempat mengagumi wanita cantik di depannya ini.
Angeline mengerutkan kening, memandangi wajah Dylan, alis wanita itu bahkan terangkat.
"Why, apa maksudmu, kau sudah bosan bekerja dan sudah merasa kaya?" Ujar Angeline sambil terkekeh, meremehkan Dylan.
Sementara pria itu semakin mengetatkan rahang tegasnya, muak mendengar perkataan sinis, Angeline.
"Anda tidak bisa melakukan ini padaku, nona. Aku ini bukan buruh lepas, atau apapun yang anda pikirkan. Aku Dylan Roberts, putra dari Roberts White, salah satu pengusaha di negara ini. Dan anda …." Dylan menghentikan sejenak ucapannya yang menggebu. Kini wajah tampan Dylan kian merah saat melihat ekspresi Angeline.
Sambil menatap Angeline dengan salah satu jari tangan menunjuk ke arah wanita itu, Dylan melanjutkan ucapannya.
"Anda menganggap aku seorang pekerja lepas. Apa aku seburuk itu? Asal anda tahu, wanita mana yang tidak mengenaliku dan pernah aku kencani di negara ini. Aku sudah merasakan berbagai macam wanita di negara ini. Dan anda begitu mudahnya menganggap aku seorang pelayan, bukan sikap anda sudah menjatuhkan harga diri dan nama baik aku sebagai, Casanova handal di negara ini. Dan aku keberatan dan ingin menuntut anda!" Dylan begitu menggebu dan penuh emosional mengatakan yang sebenarnya pada Angeline.
Tapi … Dylan menganga dengan kedua mata terbuka lebar, saat membalik badan dengan wajah percaya diri, ia tidak menemukan Angeline di depannya.
"Sial!" Erang Dylan sambil mengarahkan tinjunya ke udara.
Angeline berhasil membuatnya tidak berkutik, wajah Dylan seketika berubah penuh tekad untuk bisa menaklukkan Angeline.
"Apa yang kau pikirkan?" Sentak Angeline tiba-tiba, berhasil membuat Dylan terpekik dengan tubuh refleks terloncat.
"Cih, payah. Jangan berharap aku akan jatuh ke pelukan pria murahan sepertimu. Pelayan pria disini bahkan, lebih baik darimu," ujar Angeline dengan wajah begitu santai.
"What! Kau mengatakan apa? Aku pria murahan? Lebih buruk dari seorang pelayan di sini? You are crazy, ma'am." Sungguh Dylan ingin sekali ******* dan menyesap mulut Angeline yang sudah berani menghinanya.
Percayalah, wajah Dylan kini bagaikan kepiting yang direbus didalam panci bersama dengan air. Ia juga terlihat begitu frustasi, menghadapi Angeline.
"Aku bersumpah! Anda sendiri yang akan memintaku menjadi suami anda, ingat itu. Bahkan anda akan terus mengikat aku, agar terus berada disisi anda, nona!" Sentak Dylan dengan lantang.
Setelah itu ia berjalan menuju pintu utama Mansion, menjauh dari wanita yang benar-benar membuatnya emosi.
Angeline hanya menanggapi perkataan Dylan, angin belakang. Ia mengedikkan kedua bahunya dengan bibir mencebik.
"Ais, sial! Dasar wanita batu!" Maki Dylan saat berada di luar Mansion. Menendang udara di depannya, setelah itu melepaskan beberapa anak kancing kemeja miliknya.
"Lihat saja, aku pasti bisa membuat wanita itu menyerah di bawah tubuhku, kita lihat saja." Dylan menatap ke dalam penuh dendam dan niat untuk bisa menaklukkan wanita batu dan arogan di dalam sana.
Pria itu lantas berjalan menuju mobilnya, ia terlihat begitu kacau dan butuh sesuatu untuk mengembalikan mood-nya.
Hanya satu yang akan membuatnya lebih baik, yaitu, wanita. Ia hanya butuh menekan nomor salah satu wanitanya maka ia akan mendapatkan ketenangan.
Dylan mengurung niat untuk masuk ke dalam mobil, saat sorotan lampu jarak jauh sebuah mobil menyorotnya.
Dylan menyipitkan kedua kelopak mata, untuk melihat orang di balik mobil mewah itu.
Dylan mengerutkan kening, saat melihat beberapa pria tinggi besar keluar dari mobil mewah. Disusul beberapa mobil lainnya yang semua penumpangnya adalah seorang pria dengan tubuh tinggi tegap.
Dylan menatap heran para pria mengerikan, memasuki Mansion mewah. Dylan hanya mengedikkan kedua bahu, masa bodoh dengan urusan wanita yang sukses membuatnya kesal.
"Kenapa aku harus peduli?" Gumam Dylan yang segera memasuki mobilnya.