Revert To Me

Revert To Me
Terlihat namun tak ada, tak terlihat namun ada



Pagi ini sengaja aku datang kesekolah jauh lebih awal dari biasanya. Setelah kejadian semalam aku jadi lupa mengerjakan pekerjaan rumah yang tak lain adalah tugas kimia dari guru kiler itu.


Setibanya di kelas pemandangan yang biasa ku lihat setiap pagi jika ada tugas sekolah.


Ya,, pemandangan saling menyalin jawaban atau pun hanya sekedar menyamakan jawaban saja.


Bahkan disaat suasana seperti ini semua berbaur menjadi satu, saling berkumpul disatu meja.


Terdengar bodoh, tapi hal-hal kecil seperti ini lah yang disebut masa masa indah dimasa putih abu-abu.


Dari banyaknya siswa yang sudah hadir tak ada satu pun diantara mereka yang menyadari adanya aku, bahkan sahabat ku sendiri saja tak menyadarinya.


Aku mendekati kerumunan itu untuk bergabung menyalin tugas kimia.


"Gua gabung dong." Ujarku.


"Tumben lo." Jawab Riri.


"Weesss, princes gua gabung." Ujar Revo si pangeran kesiangan. Mengapa kesiangan? Iya,, karena ia selalu datang disaat jam pelajaran ke dua berganti. Lalu mengapa sekarang ia ada? Jelas ada, karena jam pertama pelajaran hari ini adalah si guru kiler yang terkenal kejam seantero sekolah ini.


"Bawel lo." Jawab ku ketus.


"Awas kek vo tangan lo." Ujar shaeka teman sebangku Revo yang langsung menyingkirkan tangan Revo yang menutupi sumber contekan.


"Ehhh,, gua mau foto dong." Celetuk Resty yang baru saja datang.


"Sini foto sama babang evo yang paling caem." Jawab Revo.


"Pale lo caem." Sambung bastian yang langsung menoyor Revo.


"Udah sih gabung aja sini. Sendirian mulu lo res." Jawab Selly.


"Sumpek." Jawabnya "awas kek lo rev." Lanjut Resty.


Waktu semakin dekat menunjukkan pukul 07:00 berhuntung aksi salin-menyalin tugas kimia kami sudah selesai. Dan bell pun berbunyi.


Tiga puluh menit berlalu anak-anak masih pada posisinya yaitu duduk ditempatnya masing-masing, meski masih terdengar celotehan dari mulut-mulut jahil yang terkadang mengundang tawa seisi kelas.


"Elah, kok si botak kaga masuk- masuk ya?" Celetuk Revo frustasi dengan volume yang lumayan kencang.


"Tau nih kan nunggu itu enggak enak" sambung Saekha.


"Cah baper!" Timpal Revo.


"Haha..nahan boker itu mah si Jenal noh." Lanjut si ilham menunjuk kearah jenal yang duduk di paling pojok seorang diri.


Hal hasil seisi kelas tertawa terkecuali jenal yang menjadi bahan candaan hanya memasang wajah kesal.


"Tebak-tebakan yokk!!" Ajak Revo...


"Terlihat tapi tak ada. Tak ada tapi terlihat?" Lanjut Revo memberi arahan.


"..." hening


"Si jenal lagi nahan boker." Jawab ilham dan bastian berbarengan.


Lagi- lagi akibat mulut jahil mereka seisi kelas kembali tertawa memecahkan ketegangan menunggu guru killer yang galaknya melebihi ibu tiri si ijah... (Hahah garing jon).


Namun sesaat kemudian kelas sepi ketika suara gagang pintu terdengar berputar.


Di iingi dengan Suara sepatu PantoPel yang saling beradu dengan lantai sekolah pun semakin jelas terdengar saat seorang guru berparas cantik bertubuh mungil berjalan kearah papan tulis.


"Selamat pagi semua. Saya disini akan menyampaikan pesan dari pak Bambang bahwa hari ini beliau tidak bisa mengajar dikarenakan ia sedang kurang sehat."


"Yaaaaaaa,,,, asam uratnya kambuh tuh bu." Celetuk ilham.


Celetukan ilham tak ditanggapi oleh Bu Friska, namun mengundang tawa seluruh murid.


"Diam! Satu lagi saya ingin memangil fanya?" Ujarnya mencari siswa yang bernama fanya.


"Ciiee,, Fanya akhirnya mimpi masuk ruang bk nya terwujud." Goda bastian.


"Cieee,, selamat ya fan jadi lo gak perlu iri lagi kalo ngeliat gua bolak balik masuk ruang bk." Timpal Revo. Dan lagi lagi celetukan mereka berhasil mengundang tawa para siswa.


"Sudah-sudah. Fanya ikut saya." Ujar bu Friska guru bk yang terkenal dengan mulut pedasnya.


Pada saat bu Friska keluar kelas yang juga diikuti oleh fanya dari belakang Revo kembali menggoda fanya yang masih berada di ambang batas pintu kelas.


"Fan, hati-hati ya diruang bk itu kaya di kuburan lho." Ujar Revo membuat nada bicaranya menakuti.


"Berasa dipenjara fan."sambung Bastian.


"Berasa jadi tersangka ******* lo fan." Lanjut ilham.


Setelah kepergian bu Friska dan fanya kelas menjadi seperti pasar atau bahkan kebisingannya mengalahi pasar. Sampai saatnya jam pelajar kimia pun habis dan berganti menjadi jam pelajaran bahasa indonesia.