
Waktu telah menunjukkan pukul 23:45 dan kini kami, aku dan kak Dj masih terjebak kemacetan dijalan. Seharusnya saat ini aku sudah berada dalam kehangatan selimut kesayanganku bersama dengan teddy bear peninggalan Kak Reno. Tapi sialnya takdir berkata lain.
Iya,, lagi-lagi takdir yang membuat alur cerita yang tak diharapkan.
Takdir selalu memiliki caranya sendiri sedangkan kita hanya bisa merancang sebuah jalan tanpa harus tau akan terjadi atau tidak.
****
#2 jam sebelum terjebak kemacetan.
Setelah Hafis berhasil menelpone kak Dj sahabatnya untuk memintanya membawakan bensin untuk si putih akhir nya kami dapat bernafas lega karena tak lagi harus berpikir bagaimana caranya mencapai pom bensin yang berjarak 3 km dari tempat dimana mobil kami kini berhenti.
Seandainya saja tempat ini ramai dilewati kendaraan pasti itu tidak akan jadi masalah untuk kami, namun sayangnya tempat ini sepi dan gelap. Disini hanya ada lampu penerang jalan yang juga sudah tak terlalu terang.
"Elah lo,, mobil bagus doang bensin kaga ada." Ujarku kesal.
"Iya iya maaf gua lupa isi bensin namanya juga baru nyampe Jakarta." Ujarnya polos.
"Emang dari mana?" Tanya ku sok polos.
"Touring." Jawabnya langsung.
"Lo bilang apa?" Tanyaku menyelidik.
"Touring sama anak-ann...." jawabnya terhenti ketika ia melihat ekspresi wajahku yang menatapnya tajam. Sedang kan ia hanya meringis memamerkan senyum pasta.
"Lo bahagia?" Memasang wajah smirk
"Enggak gitu rin, iya maaf gua salah. Gua bohong sama lo." Jawabnya memelas dan terlihat tulus.
Tak lama kak Dj datang dengan memarkir mobil merahnya didepan mobil Hafiz.
Kak Dj menghampiri kami yang sedang dalam suasana menegang. Aku langsung turun dari si putih dan berpindah ke mobil kak Dj tanpa mengatakan sepatah kata pun.
*****
"Lo kenapa lagi sih ar?" Tanya kak Dj dengan mata yang menerawang jalan yang sedang macet.
"Siapa yang ngajakin hafiz touring? Gua udah pernah bilangkan kak, jangan pernah ngajak Hafiz kaya gituan lagi!" Ujarku kesal.
"Hafiz itu ketua dari komunitas kita ar. Dan acara kemarin itu ketua diharuskan hadir." Ujarnya menjelaskan.
"Kenapa enggak ganti ketua aja. Kalian mau bikin hafiz kaya Kak Reno?" Ujarku dengan penekanan di akhir kalimat.
"Enggak bisa gitu ar. Anak-anak udah percayain jabatan itu sama hafiz setelah Reno pergi." Ujarnya masih tetap sabar menjelaskan.
"Alah itu si alibi lo aja!" Jawabku kesal.
Setelah perbincangan itu suasana menjadi hening. 10 menit berlalu dan akhirnya kini kami tiba didepan rumah ku. Aku bergegas turun sambil mengucapkan terimakasih karena sudah menghantarku pulang dan tanpa mengajaknya mampir meski hanya basa basi. Saat ini diriku hanya ingin sendiri. Aku berjalan menuju pintu masuk dan membuka kunci pintu rumah ku.
Pada saat sudah berhasil terbuka dan aku melangkah masuk dan pada saat akan menutup pintu ku lihat si putih yang tak lain dan bukan adalah Hafiz.
Hafiz tiba dan ia pun langsung turun menemui kak Dj yang masih di pekarangan rumah ku. Mereka terlihat sedang berbincang jadi aku memutuskan untuk meninggalkan nya dan menutup pintu.
Mungkin aku terdengar lebay atau mungkin sok ngatur. aku hanya tak lagi mau merasakan kehilangan seperti yang lalu.
Aku hanya ingin dia tidak mengalami apa yang Kak Reno alami.
Aku hanya takut Hafiz pergi. Aku terlalu menyayangi Hafiz. Iya,, aku menyayangi Hafiz seperti aku menyayangi Kak Reno hingga detik ini dan seterusnya.