Revert To Me

Revert To Me
kamar kak reno




.


.


Tak banyak yang berubah dari kamar maskulin ini hanya selimut dan sepray yang setiap minggunya berubah.


Tata letak barang - barang nya pun masih sama seperti terakhir ditinggal pemiliknya. Baju-bajunya pun masih tersusun rapi karena masih suka digunakan oleh sahabat-sahabatnya Kak Reno jika datang main kerumah atau pun hanya sekedar menginap semalam.


Semuanya berjalan seperti biasa setelah pemilik kamar ini pergi.


Kak Reno terasa dekat jika kamar ini dikunjungi sahabat - sahabatnya. Tawanya  seakan hadir disaat kami semua tertawa bersama dan membaur jadi satu.


Jiwa pelindungnya seakan hadir ketika kami sahabat, adik dan bundanya saling melindungi.


Senyumnya pun masih tertinggal dikamar ini didalam foto besar yang terbingkai rapih dan indah, dimana  foto itu adalah foto acara ulang tahunnya dan itu adalah foto kami yang terakhir sebelum Kak Reno pergi.


Disana terdapat wajah kami semua, aku, kak Reno, Hafiz, dan Dj. Terkecuali  Bunda yang saat itu yang mengambil gambarnya.


Kak Reno memang tak pernah pergi, ia tetap bersama kami.


Yang pergi raganya, tidak dengan kebaikan dan perlakuan serta sifatnya yang sangat di senangi banyak orang.


Tapi sayangnya lagi - lagi takdir membawanya ke dalam cerita yang mengenaskan. Takdir membuat jalannya sendiri, tanpa membiarkan Kak Reno merasakan rancangan jalan yang telah Kak Reno buat.


*****


Rasanya mata ku masih berat untuk terbuka. Suara dering telpone rumah yang terus berbunyi memaksa ku untuk beranjak dari tempat tidur.


Ku lihat jam dinding sekilas masih menunjukkan pukul 04:00.


"Astaga...!!!" Pekik ku sambil berjalan keluar kamar mengambil telphone rumah yang berada di dekat tangga antara kamar ku dan Kak Reno.


"Iya?" Tanya ku dengan mata yang masih terpejam.


"..."


"Iya." Jawabku seadanya karena nyawa-nyawa ku belum berkumpul.


"..."


"Iya nih aku udah melek bun, langsung ke dapur deh." Ujarku langsung melebarkan mataku agar melek.


"..."


"Iya bunda." Jawabku.


Sambungan pun terputus. Ternyata bunda yang menelfon pagi buta seperti ini.


'Oh bunda apakah tidak tahu jika anak mu ini baru saja tertidur.' Ucap ku dalam hati sambil menuruni anak tanggak dengan sesekali menggusar kasar wajah ku.


Pada saat melewati ruang tamu mata ku langsung tertuju pada Hafiz yang kini sedang bebaring diatas sofa. Beberapa detik aku terus memandanginya hingga aku tersadar pada masalah semalam aku langsung meneruskan langkahku kedapur untuk memasak nasi dan menyiapkan sarapan seperti yang bunda bilang.


Setelah selesai menaruh beras yang sudah di cuci kedalam mesin penanak nasi aku membuka lemari pendingin untuk mencari bahan yang Bunda bilang.


Tiba-tiba aku terlintas dalam pikir ku. 'Tidak biasanya ia mau tidur disofa biasanya jika aku yang tidur dikamar Kak Reno ia tidur dikamar ku.' Aku hanya mengedik acuh.


Setelah melakukan proses memasak yang tidak terlalu ribet akhirnya 2 piring omlet sudah jadi dan hanya tinggal menunggu nasi matang saja.


Sambil menunggu nasi matang aku memutuskan untuk mandi lebih dulu dan setelah itu membangunkan Hafiz untuk shalat subuh berjama'ah.


Setelah shalat subuh tak ada perbincangan. Suasana menjadi canggung kita hanya saling membisu satu sama lain.


Mungkin Hafiz sadar ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan masalah semalam.


Aku kembali kekamar untuk menyiapkan mata pelajaran yang belum sempat aku siapkan semalam karena aku terlalu kalut dalam perasaanku.


Waktu telah menunjukkan pukul 06:00. Setelah semua sudah beres, aku langsung menuruni anak tangga untuk sarapan. Sesampainya di ruang tamu aku melihat Hafiz yang kembali tertidur. Melihat ia seperti ini membuatku menggelengkan kepala lalu mencoba membangunkannya.


"Fiz, mau sarapan enggak? Emang lo enggak kuliah pagi?" Tanya ku disebelahnya dirinya.


"..." tidak ada jawaban.


"Yaudah, gua sarapan sendiri. Oh iya,  katanya bunda pulang siang ini jadi lo bisa langsung pulang setelah kuliah nanti."


Entah setan apa yang merasukinya ia langsung membuka matanya dan duduk menghadapku. Lalu berkata....


"Lo udah maafin gua? lo udah enggak marah lagi sama gua?" Tanyanya mengebu-gebu


"Enggak lah, gua sadar fiz selama ini gua terlalu ngatur lo sedangkan gua bukan siapa- siapa lo." Ujarku sambil memasang senyum tipis.


"Serius?" Tanyanya


"Lo jauh lebih dewasa dari gua dan gua yakin lu tau mana yang terbaik. Tapi gua harap tolong jaga diri lo ya jangan kaya si Reno."


"Heh! Reno, Reno. Emang lo siapa?" Ujarnya menoyor.


"Iya-iya maaf, gua gak mau bedebat ama lo pagi ini. Mau sarapan gak lo?" Ujarku beranjak menuju dapur.


Saat hafiz sudah duduk manis dimeja makan sambil menikmati susu coklat panas yang ku buatkan dan aku mulai menyiapkan nasi diatas piring kami tiba-tiba...


"Lo beneran maafin gua?" Tanyanya sambil sesekali meminum susu.


"Seharusnya lo cerna perkataan gua. Enggak ada siaran ulang" Ujarku sambil meletakkan piring yang sudah terisi nasi.


"..." hening...


Aku menaruh piring yang talah berisikan Nasi dan omlet dihapannya yang kini tengah memejamkan mata.


Beberapa detik berlalu namun ia tak kunjung membuka mata. Kejahilan ku mulai berjalan untuk menjahili Hafiz yang kini entah sedang apa dengan mata yang terpejam.


1


2


3


"Heh, lo mau bunuh gua ya?" Ucapnya seraya melepaskan tanganku yang kini tengah memencet hidung mancungnya.


"Laahh? Banyak kerjaan amat gua bunuh lo jon." Ujar ku memberikan sendok dan garpu.


Ia menatapku kesal..


"Makan!" Ucapku memberikan wajah khas seorang ibu yang merah ketika anaknya tak mau makan.


"Katanya gua di suruh cerna omongan lo ini gua lagi inget- inget omongan lo. Tadi gua enggak dengerin lo." Ujarnya memasang wajah polos lebih tepat nya tablo.


"Serah lo jon." Ujar ku lalu memakan sarapan bagian ku.