
.
.
Tiba-tiba diambang pintu terlihat Revo datang dengan membawa sebuket bunga lily putih dan hendak memberikannya pada ku tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan yang lain hanya tercengang melihat keberadaan nya, pasalnya Revo yang tidak ada direncana hadir membawakan bunga lily tanpa memberitahu mereka semua.
aku menerima bunga pemberian nya dengan raut datar
"Makasih ya buat semua kejutannya. Aku juga sayang kalian.." ucapku menghadap ke mereka teman-teman ku, seraya menatap mereka satu persatu tanpa kecuali Revo Dan Ilham yang kini sudah berada di ambang batas pintu seperti awal.
"Aaaa arinnnn jadi terharu.." Ucap resty
"Pelukkkk" Sambung Riri dan monza.
Akhirnya aku ,Riri, Resty dan juga Monza berpelukan membuat saekha dan ilham berceloteh ria...
"Ahhh curang masa gua enggak dipeluk." Ucap saekha.
"Tau nih gua kan ada andil besar disini." Timpal Ilham
"Bro gantian pegang dong gua mau ikutan nih." Ujar Ilham memberikan handicam pada Revo.
"Deehhh,, si repo iya gua suruh pegang malah nyelonong bae kaya gak punya dosa tuh bocah." Ucap Ilham dengan gaya betawinya yang nyablak.
"Vo___ Revo lau mau kemana?" Ucap Saekha memanggil Revo.
Aku yang mendengar Revo meninggalkan tempat langsung melepaskan pelukan teman-teman ku dan bergegas menghampiri Revo.
"Vo,, Revo tunggu." Ucap ku sedikit berteriak saat mengejarnya dengan sedikit berlari agar menyamakan langkahnya yang besar.
Revo berhenti secara mendadak membuat aku yang berada dibelakangnya menabrak punggung kokoh nya..
Bruggh.....(visual suara nabrak punggung orang)
"Awww...." pekik ku.
"Ehhh, maaf rin gua enggak tau lo ada disity." Ucapnya keliatan panik sambil menjulurkan tangannya kearah ku.
"Enggak vo, yang harusnya minta maaf gua." Ucapku seraya meraih tangan Revo untuk berdiri.
"Vo,, ini. makasih iya." Ucapku sesaat setelah berdiri dan mengambil sebuah hoodie yang ku pinjam pasca kejadian tempo hari.
Revo hanya menatap ku misterius.
Revo masih bungkam. ia tak menyangka Arin masihh mengenali.
"Gua cuma mau bilang makasih udah bantuin Dj. Satu lagi tolong anggap kejadian tempo hari enggak pernah terjadi." Ucapku padanya. Revo diam...
Lalu aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Revo yang masih mematung menuju kelas.
"Kalo gitu lo juga bisa kan lupain kejadian beberapa tahun yang lalu?" Ucapnya secara tiba-tiba membuat ku menghentikan langkah.
Ku dengar suara sepatu yang saling beradu dengan lantai sekolah semakin lama semakin dekat hingga tiba-tiba suara menghilang dan suasana mendadak hening.
Ia mendeka, dan kini berdiri tepat dihanpan ku.
"Lo bisa kan maafin gua, lupain Bean mulai semuanya dari awal." Ucapnya sambil menatapku dalam.
Aku mematung mendengar ucapan Revo.
"Setidaknya lo bisakan maafin gua rin?" Ucap mengguncang tubuhku yang mendadak berubah kaku. Dan tanpa sadar air mata ku mengalir.
"buat apa? buat Lo ngulangin kesalahan yang samaa kaya dia?" ucap ku tajam.
"Setidaknya kita bisa berteman." ucap revo dengaan raut frustasi.
aku masih mencoba mengatur nafas ku ,karena rasanya nafas ku semakin berat dan kepala ku semakin sakit...
Tiba-tiba...
"Rin? Arin? Oke gua minta maaf..rin bangun!" Ucap Revo panik melihat ku terjatuh kedalam pelukkannya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.Semoga kalian suka iya...
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Vote+coment iya.......