
.
.
#Author PoV
"Buat apa sih kak lo kesini lagi, kalo ujung nya lo pergi lagi kaya gini? Yang dibutuhin Arin itu elo bukan gua ataupun kak Dj." Ucap Riri kesal.
Suasana menegang ketika Riri mengetahui bahwa 'aku datang untuk pergi'. Rasanya gadis yang biasa dipanggil Riri itu benar-benar marah atas apa yang aku jelaskan padanya. Kini tak ada lagi rahasia diantara kami, iya... Aku, Dj, Riri bahkan Arin semuanya telah mengetahui rahasia besar yang aku dan Dj tutupi hanya demi Ego ku.
'Kejadian malam itu membuat ku tak bisa berfikir jernih, persahabatan ku dengan Reno hancur seketika saat Reno mengetahui gadisnya telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri yaitu aku. Cinta memang benar-benar membuat ku buta. Aku pantas dipanggil pembunuh karena memang akulah penyebab tragedi naas yang menimpah kami (Aku dan Reno), sayangnya saat itu Reno tak berhasil diselamatkan karena ia menghembuskan nafas trakhirnya tepat ditempat kami mengalami tragedi naas itu.
Jika malam itu aku tak memicu pertengkaran didalam mobil mungkin saja semua tak akan seperti ini.'
"Elo kesini hanya untuk surat ini? Basi kak." Ucap Riri seraya membuang kasar dua surat yang sudah dituliskan nama pemiliknya masing-masing. Lalu Riri beranjak pergi menuju kamar Reno meninggalkan kami
melihat reaksi yang riri segitu marahnya membuat Hafiz semakin terpuruk. seandainya saja ada yang mengetahui isi hatinya saat ini pasti akan sangat memilukan.
Tujuan sebenarnya Hafiz kembali hanyalah untuk menemui Arin dan Bunda yang pada ke pergian pertamanya ia belum sempat menjelaskan semuanya. Namun diluar dugaan semuanya hancur seketika pada saat kata-kata itu keluar dari mulut Arin lebih dulu yang membuat semuanya salah paham.
Hafiz berusaha berfikir dengan keras diwaktu yang hanya tinggal sedikit yang ia miliki, sebelum benar - benar akan pergi yang mungkin tak akan pernah kembali.
Dalam diam tanpa sadar sebulir air menjamah pipinya yang kini mulai ditumbuhi bulu - bulu halus. perlahan Hafiz terduduk dengan hingga kini posisinya sudah dalam wajah yang tenggelam dalam tekukan kedua tangan, ditambah pergerakan ia meremas kasar rambut yang tertata rapi menambah bahwa ia benar - benar menyerah dengan semua masalah ini.
Hafiz melirik arloji cokelat yang melingkar sempurna dipergelangan tangannya, pukul 06:54 . Itu artinya hanya tersisa tiga jam sebelum pesawatnya take off meninggalkan indonesia. Dan ia berfikir bahwa ia harus menjelaskan sesuatu yang sebenarnya kepada keluarga Arin.
Hafiz mengumpulkan semua keberanian dan tekatnya. Ia siap dengan semua risiko yang akan ia terima atas pengakuannya.
Hafiz beranjak pergi meninggalkan posisi semula.
"Je siapin mobil."
"Mau ngapain? masih 4 jam lagi kok." Ucap Dj bingung diposisi yang masih saya seperti diawal.
"Gua mau ketemu bunda."
"Gua mau pamit dulu." Potong Hafiz cepat.
Hafiz berjalan menaiki anak tangga dengan gesit, ia sadar bahwa tak banyak waktu yang ia punya untuk saat ini.
"Ceklek" (visual gagang pintu diputar)
Ia memasuki ruangan itu dengan perlahan dengan menikmati setiap sudut ruangan dan wajah - wajah yang penuh dengan kebahagiaan disalah satu bingkai foto yang sengaja dicetak besar oleh Gadis yang kini tengah tertidur pulas dihadapan Hafiz.
melihat wajahnya yang tenang seperti ini membuat Hafiz sedikit lega setelah apa yang gadis itu lakukan semalam.
tanpa sadar seulas senyum simpul ditampakkan Hafiz, baginya ia akan menjadi wanita terbaik setelah ibu kandungnya dan bunda.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening gadis yang kini tengah bermain dialam mimpi.
"Maaf kalo semuanya harus berakhir seperti ini, gua harap elo bisa maafin gua suatu hari nanti rin. I LOVE YOU" Ucapnya tepat ditelinga gadis yang menyandang nama Arin.
Riri yang berada dibelakang Hafiz sempat tertegun kaget ketika mendengar kata diakhir kalimat yang diucapkan Hafiz.
'i love you' meski pun hafiz mengucapkan nya dengan nada yang kecil namun masih tetap terdengar jelas oleh riri' karena memang suasananya sangat sepi dan tenang.
"Gua pergi. maafin gua dan gua titip arin sama bunda."
"..."
"Satu lagi tolong kasi ini buat arin kalo dia bangun."
"kak~" Panggil Riri.
Hafiz menoleh.
"Hati - hati iya disana" ucap Riri seraya memeluk Hafiz sebagai suatu perpisahan.