
#author pov...
Arin memasuki pekarangan rumahnya tanpa menghiraukan mobil putih yang terparkir dihalaman rumahnya.
'Tunggu? Mobil putih? Berartiii...?'
Pikir Arin saat menatap mobil itu dengan pandangan buram.
Hueee....huee.... (visual muntah)
Iya,, Arin muntah mungkin karena efect dari minuman beralkhol itu.
"Rin, lo enggak papah? Lo dari mana aja sih? Kalo kemana-mana tuh bilang jadi enggak bikin orang khawatir." Ujar Hafiz yang keluar dari balik pintu.
Tanpa menghiraukan banyak pertanyaan darinya, arin langsung berjalan mendahului 2 orang tersebut.
"Arin!" Bentak Hafiz .
"Berisik lo pembunuh." Ucap Arin acuh sambil menutup kedua telinganya.
Hening sejenak.
"Kenapa? KAGET?" Tanya arin tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"ELO PEMBUNUH KAK RENO KAN? ITU BUKAN KECELAKAAN!" Lanjutnya dengan nada yang naik satu oktaf sambil mendekatkan wajahnya kearah Hafiz.
"Gua bisa jelasin rin." Ucap Hafiz yang kini berada tepat dihadapan Arin.
"Pergi lo. Gua enggak butuh dikasihani sama PEMBUNUH MACAM LO." Ujar arin dengan penekanan diakhir kalimat.
"..."
Tak ada jawaban. Arin memutuskan untuk meninggalkan dua orang tersebut yang tak lain adalah Hafiz dan Dj.
Pada saat Arin baru menaiki anak tangga yang pertama tiba-tiba rasa pusing mulai menghadang nya, Rafleks membuat arin memegang kepala nya.
Mereka yang melihat kejadian itu langsung mendekat lebih tepatnya Dj yang mendekat. Namun belum sempat Dj menolong arin, pergerakan DJ sudah di intrupsi Arin lebih dahulu...
"Berhenti lo, gua enggak butuh orang yang melindungi pembunuh." Ucap Arin datar namun tajam tanpa berbalik menghadap Dj.
Lalu Arin melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, meninggalkan dua orang lelaki yang kini tengah mematung akibat perkataan arin barusan...
Dj berbalik mendekati Hafiz yang kini masih mematung dengan wajah yang sulit diartikan.
"Sumpah fiz, gua belum bilang apapun ke arin atau pun bunda. Bukan gua." Ucap Dj yang takut Hafiz murka padanya.
"Enggak penting juga siapa yang ngasih tau toh Arin juga udah tau. Tugas kita sekarang hanya memperbaiki semuanya je." Ucapnya lalu duduk dengan frustasinya. Hafiz tahu bukan DJ orang yang memberi tahu.
Hafiz juga sadar kesalahan itu pasti akan terungkap juga seperti sekarang cepat atau lambat...
"Tapi arin gimana fiz?" Tanya Dj bingung.
"Biarin dia sendiri dulu, dia masih dibawah pengaruh alkohol." Ucap Hafiz mengusap wajahnya gusar.
Disisi lain arin yang kini berada didalam kamarnya sedang meruntuki segala perbuatan bodohnya yang telah ia lakukan malam ini.
Di tengah dinginnya malam di saat insan yang lain lebih memilih untuk mengumpat dibalik selimut hangat, arin justru memilih untuk menenangkan dirinya dibawah guyuran shower yang sengaja ia nyalakan untuk menyamarkan suara tangisannya.
Ia berjalan kearah kamar mandi yang terletak didalam kamarnya.
Satu jam berlalu.
Kini waktu telah menunjukkan pukul 03:00 malam namun, Arin masih tetap pada posisi awal. Rasa dingin yang menerpanya seakan tak berarti bagi Arin, sakit di hatinya telah mengalahkan dinginnya air shower.
Sebenarnya Arin bingung dengan arti dari sakit yang ia rasakan kini. Ia merasakan seakan terdapat luka besar yang baru saja tercipta dihatinya.
Arin merasakan seperti ada jari yang ter iris namun tak mengeluarkan darah sedikit pun.
Perih. Itu yang ia rasakan dari luka yang tak berwujud di hatinya.
Arin mematikan shower lalu berjalan mendekati cermin yang tersedia dikamar mandi kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri dengan tatapan iba.
Di pikirannya terus terlintas wajah kedua orang pembohong itu. Rasanya seakan mimpi, mereka begitu dikenal Arin beserta keluarganya tapi entah bagaimana bisa mereka tega membunuh sahabatnya sendiri.
Arin berjalan keluar menuju kasurnya yang kini terlihat seperti bukan tempat tidur yang layak. Bantalnya berserakan di mana-mana, sepray terlepas dari kasur dan terlantar bersama dengan badcover kasurnya.
Ia mencoba mencari ponsel miliknya yang entah ia letakkan dimana. Tanpa mengganti pakaiannya yang basah Arin terus mencari ponselnya. Ia langsung menghubungi Riri, meski pun ia tahu kini waktu masih menunjukkan pukul 04:00 dan Riri pun pasti masih tertidur pulas. Ia terus menelpone Riri berulang kali hingga akhirnya Riri pun menjawab dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ri bangun..." Ucap Arin langsung setelah tersambung.
"Emmm..." Jawab Riri dari sebrang dengan malas.
"Ke_rum_mah gu__a se__karang." Ucap arin dengan suara yang bergetar karena dingin kini mulai menerpanya.
"Hah? Bercandanya enggak lucu rin, ini masih pagi buta" Ujar Riri yang mrnyadari suara Arin yang bergetar.
"Sekarang Ri." Ucap Arin memutuskan perbincangan.
Setelah memutuskan sambunganku dengan Riri aku langsung terduduk dikursi berwarna coklat muda yang memang di sediakan untuk ku tanpa Menganti pakaian terlebih dahulu.
.
.
.
.
..
...
kurang greget, malah tambah gaje iya? Hmmm-_- maafkan...
Tinggalkan vote dan coment iya...🙅🙅🙅🙆