Revert To Me

Revert To Me
Author...



#author pov....



Tiga puluh menit lagi kuis akan segera dimulai. Pikiran Hafiz saat ini tak bisa fokus pada kuis yang akan ia ikuti. pikirannya terbagi setelah mengetahui arin bolos sekolah dari Riri sahabat Arin.


Pikiran selalu terbayang kejadian 5 tahun silam dimana Arin berbuat nekat karena depresi atas kehilangan Kakaknya Reno.


Hafiz sangat gelisah jika tak berbuat apa-apa.


Disatu sisi kuis ini berharga karena menyangkut masa depannya, tapi di sisi lain nyawa Arin jauh lebih berharga. Hafiz memutuskan untuk menelpone Dj sahabatnya dan Reno sejak TK dulu.


"Je cari arin je. Gua takut dia kenapa-napa. Gua enggak bisa cari dia, gua ada kuis 10 menit lagi." Ujar hafiz dengan nada yang serius.


"Lima menit lagi deh bro." Ujar Dj disebrang.


"Sekarang je! Ketempat Reno. Nanti kabarin gua kabarnya." Ujarnya dengan nada yang naik satu oktaf.


"Iye-iye." Jawabnya menurut.


Setelah mendapat kabar dari Hafiz, Dj yang sedang bersama temannya sekaligus anggota baru club mobilnya, disebuah bengkel mobil akhirnya memutuskan untuk bergegas mencari keberadaan arin.


"Gua cabut iya, mau cari ade gua dulu." Ucap D pada seseorang yang kini tengah memandangnya tanpa arti.


"Hah? Ade? Bukannya lu enggak punya ade?" Jawab orang tersebut kaget.


"Bukan ade kandung." Jawab Dj santai.


"Gua ikut deh lagian hujan gini pulang sama siapa gua nanti." Ujar orang yang sejak tadi berbincang dengan Dj, karena mobilnya baru akan selesai besok.


"Cepet elah!" Menyuruhnya segera mengikutinya kearah mobil.


"Yang ikhlas gitu lho mas kalo nolong orang." Celetuknya saat di depan pintu penumpang.


"Bacot lo! Untung ganteng lu."


"Jijik gua bang. Btw mau kemana nih?" tanyanya saat mobil sudah keluar dari area bengkel.


"Pemakaman." Jawabnya datar.


"Hah? ade lo meninggal?" Tanyanya dengan wajah kaget.


"Si jono nyumpahin ade gua meninggal gua turunin lo disini." Ujar Dj seraya menoyor orang yang sedari tadi dengannya.


"Diem lo! Berisik." Jawabnya datar namun tajam.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit akhirnya Dj dan Revo tiba disebuah pemakaman.


Ia menyusuri pemakaman itu hingga kedua bola mata insan muda itu tertuju pada sosok yang kini sedang tersungkur disamping kuburan atas nama "Renoyansyah leyrs".


Tangisan dan isakan membuat kedua insan muda itu merasa terenyuh mendengarnya terlebih lagi Dj yang sudah mengetahui siapa yang kini sedang memeluk batu nisan dimakam tersebut.


Dj mendekat kearah makam dengan pakaian yang kini sudah basah sama seperti sosok dihadapannya. Sepertinya gadis ini sudah benar-benar kehilangan kendali pada dirinya.


Bahkan iya sama sekali tak merasakan dingin karena telah berdiam diri dibawah hujan selama itu. Karena jika dibandingkan Dj, gadis itu jauh lebih lama berada dibawah derasnya hujan.


"Kakak dulu janjikan jika hujan kita akan selalu main hujan bareng. Ayo kak main hujan!" Lanjut ku dengan tangisan yang terbilang cukup keras.


Dj yang mendengar merasa hatinya tersentuh. Baginya gadis didepannya kini sangatlah berharga dan sungguh tulus ia menyayangi gadis itu.


Gadis itu sudah ia anggap sebagai seseorang yang berarti dalam kehidupannya. Ia mendekat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lalu menyamakan posisinya dengan gadis itu yang tak lain adalah Arin wanita yang ia antar pulang malam itu.


"Arin udah, lo enggak boleh gitu kalo lo kaya gitu yang ada Reno sedih ar." Ujar Dj yang tiba-tiba saja memeluk Arin dari belakang.


"Tapi kakak udah janji sama gua kak." Ujar Arin yang kini berada dalam dekapan kak Dj.


"Kita pulang iya, hafiz cemas banget tau lo enggak ada disekolah." Ujar kak Dj mengelus punggung Arin.


Melihat wajah Arin yang sudah pucat pasi Dj berinisiatif untuk mengajak pulangnya dengan paksa, namun belum sempat ia melancarkan aksinya...


Bugghh....


Arin jatuh dalam pelukan Dj dengan tubuh yang sudah dingin seperti es dan wajah yang pucat pasi. Melihat keadaan Arin yang seperti itu Dj langsung membawanya kedalam mobil bersama Revo yang sedari tadi setia di belakangnya.


Saat didalam mobil Dj berusaha membuat gadis itu sadar dan menghilangkan suhu dinggin ditubuhnya. Iya mengenakan jaket milik Revo yang tak dipakainya sambil berusaha menghangatkan telapak tangannya dengan terus menggenggamnya.


.


.


.


.