Revert To Me

Revert To Me
Hukuman kelompok




.


.


"Kamu sih yangg pake segala lupa bawa datanya jadi panas-panasan gini kan kita." Ujar Revo di tengah peristirahatan kita yang lagi dihukum karena lupa membawa tugas kelompok.


"Yangg? yangg pale nenek lo noh peyang." Sambar ilham.


"Kok nyalahin gua sih? Kalian juga enggak ada yang ingetin gua tentang tugas itu." Jawabku kesal.


"Udah-udah kita sama sama salah. Lanjutin aja hormatnya, nanti kalo ketahuan istirahat diomelin lho." Ujar Riri menengahi.


"Semangat bro satu jam lagi kok hukumannya." Ujar Shaeka menyemangati.


"Lo aja sana gua sih mau istirahat aja disini." Ujar Revo yang masih diposisi duduknya.


"Iya udah lah duduk dulu capek kali. Kita udah satu jam berdiri di tengah panas gini." Ujarku kembali duduk saat sudah berdiri.


Akhirnya kami semua duduk dibawah pohon yang teduh.


"Ehh kalian haus gak sih?"tanya Riri.


"Iya." Jawabku


"Beli minum yuk." Ajak Shaeka.


"Yok... lo mau apa rin?lo vo, ham?" Tawar Riri.


"Air mineral aja." Jawab ku.


"Sama deh." sambung Revo.


"Gua ikut kalian deh" Ujar ilham


Sesaat setelah itu mereka pergi dengan santainya menuju kantin.


Meski sedang dalam masa hukuman tapi bagi kami yang duduk di bangku putih abuabu tak pas rasanya jika harus selalu patuh pada aturan seperti yang kami lakukan pada masa merah putih dan juga putih biru.


Seperti sayur tanpa garam jika masa muda tak diselingi kenakalan kecil.


(Tenang kami masih tahu kok batas kenakalan yang wajar.)


Setelah tak lagi terlihat punggung dua teman dan sahabatku, suasana mendadak menjadi hening. Tiba-tiba...


"Coba aja kita bisa akur kaya burung itu ya rin."celetuk Revo sambil menatap lirih kedua burung yang berada didepan kami.


Mengetahui tak ada respon dari ku, Revo kembali berkata.


"Lo enggak bisa kaya gini terus rin. Kejadian itu udah lama banget."


"Segitu sayangnya lo kedia?" Lanjutnya.


"Kenapa?" Tanyaku sinis.


"..." tak ada jawaban


"Kenapa enggak bisa! Kalo lo aja dulu bisa hianatin sahabat lo sendiri." Ucap ku tajam.


"Satu lagi, lo enggak berhak tau apapun tentang gue." Jawabku datar lalu beranjak meninggalkannya.


"Kalo lo masih nunggu dia keputusan lo salah rin!" Ujarnya sedikit keras saat aku sudah menjauh darinya.


Pada saat itu juga Riri dan kedua teman Revo tiba dihadapannya.


"Ada apa nih?" Ujar Shaeka heran.


"Sepertinya kawasan ini habis ada perang dunia ketiga." Ujar ilham dengan raut yang dibuat sedih sambil menggeleng tak jelas.


"Lo apain arin?" Tanya Riri bingung.


"Biarin ri dia butuh waktu sendiri." Ujar Revo dengan wajah frustasi yang tergambar jelas ketika ia bernafas dengan gusar.


*****


kini Arin telah berdiri tepat didepan pintu kelasnya. Disaat kondisi hatinya tak karuan dan mood nya sangat buruk ia memang lebih sering memutuskan untuk tak melanjutkan mengikuti pelajaran  dan lebih memilih menyendiri.


Baginya mengikuti pelajaran disaat seperti ini adalah hal yang sia- sia untuknya.


Ia mengetuk pintu kelas lalu membukanya dan langsung berjalan menuju meja guru yang kini terdapat sosok yang sedang menatapnya datar namun tajam.


"Maaf bu saya mengganggu, ini surat izin saya. Sepertinya saat ini saya sedang kurang sehat." Ujarku seraya memberikan kertas hasil permohonan ku pada guru piket hari ini.


Setelah melihat dan menimang pemikirannya akhirnya guru yang menyandang guru bahasa indonesia itu mengizinkan ku mengambil ransel milik ku.


"Kelompok kamu yang lain masih melaksanakan hukuman ibu kan?" Tanya guru tersebut dengan tajam.


"Masih bu." Jawabku seraya mencium punggung tangannya lalu melesat keluar dari kelas.


Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dengan suasana yang sangat hening karena memang saat ini masih jam pelajaran berlangsung. Jalan ku percepat saat melewati lapangan tempat dimana aku dan yang lain sedang dihukum. Sengaja langkah ku percepat karena tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka yang kini sedang memanggil namaku.


Tanpa menghiraukan panggilan mereka kini aku sudah berdiri tepat depan gerbang sekolah.


Aku meraih ponsel yang berada dalam saku rok sekolah ku. Setelah mendapatkan nama yang ku cari aku langsung menekan tombol call.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan ku diterima.


"Hallo"


"..."


"Nanti lo enggak usah jemput gua ya, gua mau nyelesain tugas gua dulu."


"..."


"Bawel lo, iya nanti gua langsung pulang kok."


"..."


Perbincangan kami terhenti saat aku tak menjawab perkataannya. Mood ku kali ini benar-benar sedang buruk. Kesal jika mengingat perbincangan ku dengan Revo yang selalu berujung pertengkaran jika setiap kali membahas hal yang sama.


Entah mengapa ia bisa menjadi dua orang yang sangat berbeda disaat yang bersamaan. Disaat bersama teman-teman yang lain revo selalu berhasil membuat orang-orang disekelilingnya tertawa, tapi mengapa saat bersama ku ia selalu berhasil merusak mood ku hanya karena masalah yang sama.


Pada saat aku akan melanjutkan langkah ku....