Revert To Me

Revert To Me
Jangan tatap seperti itu




.


.


Jika waktu kemarin mu telah berlalu,


Maka nikmati lah waktu saat ini.


Jika dasarnya waktu tak dapat dikembalikan,


Maka ubah lah suasana menjadi lebih baik.


****


Arin masih termenung dibawah sinar sang rembulan yang bercahaya dengan sempurnanya. Padahal sudah hampir satu jam Arin bersandar dikursi yang terletak dibalkon kamarnya.


Pernyataan Revo kembali berputar diingatannya. Pernyataan yang sebenarnya sederhana, namun sulit untuk di wujudkan.


"Enggak semudah itu vo." Ucapnya tanpa sadar ketika kejadian beberapa jam yang lalu kembali di ingatnya.


#flashback


Setelah mendengar lagu pertama yang dibawakan Revo di acara reunian SD nya, yang memang Revo lah pengisi acara Vokal. (Perlu kalian tahu Revo adalah selebgram yang sejak awal di kisah ini tidak diceritakan sisi kehidupannya lebih dalam.)


Arin sengaja menghindar dari Revo dan juga teman - temannya dengan alasan ingin kekamar kecil. Terlihat jelas dari sorotan mata Revo saat membawakan lagu yang dipopulerkan oleh Justin bieber yaitu That should be me sebagai ungkapan hatinya yang ia pendam sejak lama.


Jika saja sorotan mata itu tak tertuju untuk arin pasti ia masih berdiri menikmati suara merdunya.


Arin benci Revo yang seperti ini.


Revo berhasil membuat Arin malu saat ini didepan teman - temannya.


Mungkin bagi kebanyakan wanita cara seperti itu lah yang mampu membuat wanita terkesan, namun tidak untuk Arin.


"Kenapa?" Tanya revo yang tiba - tiba sudah berdiri didepan pintu kamar mandi yang menghalangi Arin yang hendak keluar.


"Cara lo sama sekali enggak lucu!" Ucap Arin pelan namun menusuk.


"Kenapa semua cara gua selalu salah dimata lo?" Tanyanya menatap Arin lebih dalam.


Arin benci tatapan itu, tatapan yang selalu berhasil meluluhkan kemarahannya, karena Arin adalah tipe orang yang tak mudah bertahan dalam menatap kedua manik mata lawan bicaranya.


"Berhenti natap gua kaya gitu vo, udah lah lupain perasaan lo, lupain gua, lupain semua masa lalu kita." Ucap Arin datar.


"Maaf vo, tapi gua bisa. Sejak awal lo temen gua bahkan sampai saat ini semua itu enggak ada yang berubah." Ucap Arin dengan air mata yang mulai mengalir.


Bagi Revo perkataan Arin sederhana namun sangat menyentuh. Revo masih membeku disaat Arin berlari untuk pergi meninggalkannya. Rasa putus asa sempat terbesit dalam hati Revo untuk berhenti memperjuangkan arin sebagai cinta pertamannya.


"Gua sayang elo rin, harus gimana lagi biar lo percaya semua ini?" Ucapnya ketika sadar Arin telah menghilang dari hadapannya.


****


"Kak?"


Arin tersentak ketika suara lembut ibunya memanggil namanya dibalik pintu kaca, pembatas balkon dengan kamarnya.


"Eehh, Bunda, kenapa bun?" Tanyaku yang tersadar bunda telah berdiri disamping ku.


"Ini jam berapa kak?" Tanya bunda dengan wajah tersenyum aneh.


Aku langsung melirik jam yang menempel di dinding kamar ku. Aku menampilkan senyum pasta karena menyadari hari telah menggelap.


"Udah cepet tidur!" Perintah saat bundah akan melangkah kan kakinya keluar kamar.


Arin menghela nafasnya gusar menyadari bahwa ia masih sangat membutuhkan oksigen untuk malam ini.


Arin melangkahkan kakinya menuju kamarnya seraya menutup pintu kaca pembatas kamar dengan balkon kamarnya.


Ia menarik selimut kasur kamarnya dan bergegas untuk tidur.


Tiba - tiba....


Tringg... (Visual dering pesan masuk)


Sebuah pesan masuk atas nama Revo.


"Rin, maaf atas pernyataan gua yang selalu buat lo kecewa. Gua tau gua keterlaluan, gua yang terlalu berharap atas pembalasan cinta lo, seharusnya gua sadar dari awal bahwa ketika mencintai seseorang dengan tulus tidak lah penting mendapat pembalasan cinta. Dan jika elo mencintai seseorang tapi mendapatkan balasan itu artinya bonus dari ketulusan cinta. Gua harap ini enggak elo jadiin alasan untuk menjauh dari gua."


Isi pesan singkat dari Revo berhasil membuat hati Arin lega, meski ada sedikit rasa bersalah karena lagi, lagi, dna lagi arin menolaknya. Arin pikir Revo akan membencinya, karena Arin tega menolaknya untuk kesekian kalinya disaat wanita lain ingin menjadi pacarnya.


.


.


.


.