
Dingin mulai mencekam setiap sudut kamar, namun rasa dingin itu terkalahkan oleh panasnya hati ini ketika mengingat kesalahan atas kebodohan yang selalu Revo buat tanpa sadar.
Entah keberapa kalinya Revo membuat kondisi wanita itu hancur. Rasanya bersalah semakin kuat terasa saat melihat kondisinya seperti itu.
Kemana sosok yang ceria?
Kemana sosok yang tangguh?
Kemana semua senyum yang selalu ia tunjukkan pada kami disekolah?
Wanita itu telah sukses menyembunyikan semuanya.
Bahkan menyembunyikan rasa sakit dihatinya pun mampu ia pendam sendiri.
"Andai lo mau berbagi sama gua rin." Ucap Revo yang masih termenung dibalkon kamar.
Fikiran nya tidak pernah bisa lepas dari kondisi Arin.
Rasa khawatir terus menghampirinya karena mengetahui keadaan Arin saat ini. Tapi disisi lain Revo tidak mungkin datang dan ngaku bahwa dialah penyebab Arin jadi seperti ini.
'Arin tetaplah arin, sosok wanita yang lemah meski tak pernah menunjukkan sisi lemahnya. Seharusnya gua tau itu.' Fikirnya sambil menggusar wajah dengan kasar.
"Maaf rin..." Ucap nya lirih saat mengingat perkataan Dj tadi sore mengenai Arin.
****
Pikiran Revo mengajak ia untuk kembali mereview kejadian beberapa jam yang lalu, tepat dimana ia berbincang dengan Dj.
"Jadi lo mau ngomongin apa nih bang keliatannya penting." Ujar gua pada Dj yang baru saja duduk dihadapan gua duduk.
Iya,, saat ini kita memang sedang berada di sebuah cafe tempat dimana bisa anak-anak club kita berkumpul. Petang tadi Dj ngajak gua buat ngobrol dicafe, awalnya gua fikir hanya obrolan biasa mengenai club mobil kami, namun saat melihat wajah bang Dj yang terlihat sangat serius membuat gua berfikir ada sesuatu hal yang sangat penting. Karena Dj adalah sosok yang sangat humoris dan jarang menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Gini vo, lo satu sekolah kan sama Arin?" Tanya Dj
"Nah, gua minta tolong. Awasin Arin." Jawabnya Dj langsung.
"Maksudnya bang?" Tanya gua binggung.
"Lo tau maksud obat yang gua omongin sama Arin tadi siang dimobil?" Tanya Dj memastikan.
"Enggak." Jawabku cepat dengan diiringi gelengan kepala.
"Arin itu ada riwayat depresi." Ucapnya kecil.
"Hah? Lo bercanda kan bang?" Jawabku kaget tak percaya.
"Jagain dia saat enggak ada gua atau pun hafiz. Pastiin jangan ada yang ganggu dia dan buat di berfikir dengan keras." Ucap Dj dengan memohon
"Tapi bang,,,gua enggak bisa." Tolakku karena jika mengingat hubungan nya yang buruk dengan arin, mana bisa ia berusaha untuk selalu berada disampinnya.
"Ayolah vo, gua yakin lo orang baik." lanjutnya "hanya saat disekolah aja vo." Ucapnya sedikit meyakinkan.
"Gua usahain deh bang."
Entah mengapa hati Revo menyuruhnya untuk meng iyakan permintaan Dj meski sebenarnya logikanya menolak.
"Oke gua pegang janji lo. Thanks men." Ucap Dj seraya tersenyum senang.
****
Jika Revo tahu tentang riwayat depresi Arin iya tak akan membuat Arin seperti ini. Menyiksanya dengan luka lama yang selalu Revo ungkit hanya demi berbicara dengan Arin. Sedsngkan Arin selalu mengubur semuanya dengan keceriaan palsunya.
Revo ngerasa sangat bersalah jika mengingat semua hal yang ia lakuin ke Arin mengenai masalalu nya, tepatnya Arin, ia dan bean mantan kekasih arin.
"Revo tetaplah Revo, ia tak kan menjadi ilham yang tak memikirkan apa yang sedang terjadi. Begitu juga arin, arin tetaplah arin. Ia tak akan berubah menjadi sosok yang lain."