Revert To Me

Revert To Me
Susu cokelat



#Author pov.,...


Riri yang mendengar suara Arin yang bergetar tanpa berfikir panjang ia langsung menyambar jaket pink dan kunci mobilnya beserta ponselnya. Riri tahu pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


Yang Riri tau Arin tak akan menelpone dirinya jika benar-benar tak ada orang yang bisa Arin andalkan. Yang Riri takutkan adalah jika anak itu melakukan hal bodoh sepeti yang lalu.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meski jarak antara rumah Riri dengan Arin tak terlalu jauh bahkan hanya beda beberapa blok saja bagi Riri jika dalam keadaan genting semacam ini menggunakan kecepatan seperti itu adalah hal yang wajar.


Tak butuh waktu lama kini Riri tiba dipekarangan rumah Arin setelah memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Matanya langsung tertuju pada Mobil putih yang terparkir gagah di depan garasi rumah Arin.


Riri mengenali mobil itu tapi rasanya tak mungkin bagi Riri karena jika pemiliknya ada disini. Iya,, Riri mengetahui kepergian Hafiz yang mendadak.


Riri melanjutkan langkahnya, iya tak memperdulikan dengan piama yang kini masih ia gunakan dengan lapisan jaket pinknya.


"Loh ada kalian?" Ujar riri kaget.


"Lo ngapain kesini ri?" Tanya Dj pada riri yang kini telah berada tepat dihadapan dua orang laki-laki tersebut.


"Tadi Arin nelpone gua suaranya kaya orang ketakutan gitu, gua fikir enggak ada orang makannya gua langsung kesini." Tutur Riri menjelaskan.


"Yaudah cepet keatas dan pastiin dia baik-baik aja. Cepet!" Ucap hafiz menggebu-gebu.


Riri langsung menuju kamar Arin seperti yang diperintahkan Hafiz. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan tapi semua itu ia urungkan.


Riri melangkahkan kakinya kedalam kamar yang terbilang gelap, hanya ada cahaya dari lampu tidur. Riri mencoba mencari saklar untuk menyalakan lampu utama.


"Cetek" (visual suara saklar lampu di nyalakan)


"Arin?" Ucap Riri kaget melihat arin tengah meringkuk di kursi berwarna coklat muda dekat jendela.


"Apa yang terjadi rin? Lo kenapa? Kenapa enggak panggil Dj sama Hafiz dibawah." Tanya Riri.


"Dingin ri. Gua mau susu coklat." Ucap Arin.


"Baju kenapa basah? Kan dari semalem enggak hujan, elo kenapa si rin?" Tanya Riri cemas.


"Yaudah lo ganti baju, nanti gua bikinin susunya." Ujar Riri membantu Arin bangun.


"Gua mau kekamar kak reno." Ucap arin masih dengan bibir yang bergetar.


"Iya nanti elo pake baju ini dulu." Ujar Riri memberikan baju hangat yang bersih dari lemari Arin.


Akhirnya Arin menuruti perkataan Riri untuk berganti pakaiannya. Lalu Riri pergi menuruni anak tangga untuk membuat susu hangat.


Pada saat Riri melewati dua orang pemuda yang sedari tadi menatapnya dengan wajah bertanya akhirnya Riri memecah hening.


"Sebenarnya ada apa sih? Itu kenapa kamar arin berantakan terus dia basah-basahan sampe kedinginan gitu?" Tanya Riri sambil berjalan kearah dapur dan diekori dengan kedua lelaki itu.


"Dia baik-baik aja kan?" Tanya Hafiz langsung.


"Dia cuma kedinginan aja, nanti abis dia gua anter kekamar Kak Reno kalian beresin kamarnya iya, berantakan banget." Ucap Riri pada dua orang pemuda yang kini tengah memasang wahah yang sulit diartikan.


Perlu kalian tau Riri juga cukup dekat dengan dua orang pemuda ini jadi tak heran ia bisa bicara seperti tadi. Setelah susunya jadi ia langsung menuju kamar Arin.


"Arin? Ayukkk kita kekamar Kak Reno." Ucap Riri ketika diambang batas pintu kamar arin.


Arin menghampirinya tanpa sepatah kata pun, lalu mereka berjalan berdampingan menuju kamar Kak Reno.


Riri membuka pintu lebih dahulu lalu membiarkan arin masuk terlebih dulu. Arin duduk dibibir kasur sambil meminum susu yang diberikan Riri tadi.


"Yaudah lo tidur, gua tetep disini kok." Ucap Riri sambil menarik selimut agar tubuh Arin tertutup semua.


Tak membutuhkan waktu lama Arin tertidur pulas. Riri menatap lurus kearah sahabatnya kini yang tengah beristirahat atas semua yang ia alami malam ini.


Gadis ini begitu pandai dalam kehidupan, ia mampu menyembunyikan semua masalahnya dari orang disekitarnya namun saat yang sama ia juga bisa jadi orang yang sangat amat rapuh atas segala masalahnya.


Gadis cantik ini mungkin akan sulit menyembuhkan depresinya jika terus-terusan dihadang banyak pemasalahan seperti ini. Masalahnya mungkin terlihat kecil dan sepele bagi kita yang tak mengenalinya secara detail, namun besar bagi Arin yang mengalaminya.


Gadis ini dapat dibilang paling sempurna dalam masalah kasih sayang, namun tidak dalam masalah lain.