Revert To Me

Revert To Me
Dunia malam



***Kamu enggak perlu tau seberapa keras aku bertahan.


Kamu enggak perlu tau seberapa sakit aku diam untuk semua keraguan ini.


Dan kamu juga enggak perlu tau seberapa besar rasa sayang ku yang mengalahkan kecewa saat ini.


Yang kamu perlu tau:


Aku bahagia.


Aku Tersenyum.


Dan, semua baik-baik saja.


Sampai saatnya nanti kau kembali***.


****


Aku memutuskan untuk pergi kerumah Riri.


Iya,, Rumah Riri adalah keputusan yang tepat untuk saat ini. Meminta Riri untuk mengambil alih pikiran tentang masalah ini adalah keputusan terbaik dari pada harus ku pendam seorang diri.


Aku menelpone taksi untuk mengantarku kerumah riri namun, ditengah perjalanan entah pikiran apa yang merusak rencana ku untuk kerumah Riri.


Mata ku tertuju pada sebuah club malam, dari kejauhan aku melihat beberapa orang keluar dari tempat itu dengan senyum hambar diwajahnya. Aku terus memerhatikan sudut demi sudut tempat itu dengan hati dan otak ku yang terus bergelut antara ingin masuk kedalam dan tidak.


Hingga pada satu sosok yang sangat ku kenali.


Wanita itu menggunakan sebuah dress hitam yang cukup terbuka dengan hils yang senada dressnya.


"Mo...monza?" Panggilku ketika ia melewati taksi yang ku tumpangi begitu saja.


"Eeeh,, Rin elo ngapain disini?" Tanyanya.


"Ada juga gua yang nanya elo ngapain disini? Pake baju begituan lagi." Ucap ku turun dari mobil.


"Ini temen gua ada yang ngadain party acara ultah gitu." Jawabnya santai.


Aku yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Ikut yukkk..." tawarnya.


"Enggak ahh gua kan enggak kenal." Tolak ku.


"Selow ae rin bebas kok gak pake undangan." Ajaknya lagi.


"Yaudah gua bayar taksi dulu." Ucapku seraya memberikan uang pada pengemudi taksi tersebut.


Aku memasuki tempat itu dengan mata yang terus menyusuri sekitar dengan tingkat kewaspadaan ku yang cukup tinggi.


"Lo minum aja dulu gua mau ngucapin selamat dulu ke temen gua. Okay?" Ujarnya lalu pergi menghampiri seorang wanita yang sangat cantik dan glamor yang sedang dikelilingin banyak orang.


Dengan ragu-ragu aku mengambil sebuah gelas kecil berisikan minuman ber alkohol. Jujur ini pertama kali nya aku memasuki dunia seperti ini. Kata orang alkohol dapat menghilangkan masalah kita walaupun hanya sesaat.


Tanpa sadar aku langsung meneguk satu gelas kecil minuman itu. Sesaat kemudian aku tak merasakan efect apapun jadi aku memutuskkan untuk bergabung dengan monza yang sedang asyik berjoget ria bersama teman-temannya.


Setelah berjoget ria akhirnya aku dan monza duduk disofa berwarna merah. Dengan kesadaran yang hanya tinggal setengah dari kesadaranku. Aku lebih memilih untuk memejamkan mata.


"Elo beneran minum rin?" Tanya monza.


"Elo enggak takut diomelin?" Tanyanya.


"Bodoamat sama setan."


"Rin? Elo kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Monza lagi.


"Hafiz...." Ujarku dengan air mata mulai turun membasahi pipi.


"Persetanan dengan nenek gayung, gua bahagia tanpa lo... haha." Ucapku tak karuan.


"Kita pulang yuk rin." Ajak Monza.


"Pulang kemana? Ohhh ke hati kamu iya?" Kicau ku tak jelas.


"Udah ayokkk,,, aduhh elo berat njiirr." Ucapnya ketika membantu ku berjalan.


Monza memapahku hingga kedalam mobilnya. Aku yang duduk di kursi penumpang terus saja berkicau tak jelas.


"Pembunuh enaknya diapain iya? Oh dipukul, ahh jangan jitak aja, ahhh kasian. Ahhh gua bunuh aja kali iya." Kicau ku..


"Elo kenapa si rin? Cerita dong sama gua?" Tanya Monza cemas.


"Hah? Emang gua kenapa mo? Gua baik-baik aja kok." Ucapku dengan kesadaran yang mulai kembali perlahan.


"Elo mau gua anter ke kamar?" Tawar Monza yang kini tengah membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Enggak usah mo, makasih ya udah anterin gua." Jawabku lalu berjalan dengan sempoyongan.


Aku memasuki pekarangan rumah tanpa menghiraukan mobil putih yang terparkir dihalaman rumah ku.


'Tunggu? Mobil putih? Berartiii...?'


Pikir ku saat menatap mobil itu dengan pandangan buram.


Hueee....huee.... (visual muntah)


Iya,, aku muntah. Entah apa yang terjadi pada tubuhku mungkin ini efect dari minuman beralkhol itu.


"Rin, lo enggak papah? Lo dari mana aja sih? Kalo kemana-mana tuh bilang jadi enggak bikin orang khawatir." Ujar seseorang yang keluar dari balik pintu.


Tanpa menghiraukan banyak pertanyaan darinya, aku berjalan mendahuluinya.


"Arin!" Bentaknya .


"Berisik lo pembunuh." Ucapku menutup kedua telingaku.


Hening sejenak.


.


.


.


.


Tinggalkan vote+komen.🙅🙅🙅🙅