
Sudah beberapa bulan ini aku sangat sibuk. Dari mulai sibuk dengan sekolah, eskul, Tugas, dan hal - hal yang enggak begitu penting bagi ku. Hubungan ku dengan Revo sudah membaik, masalah rasa yang dimiliki Revo kami sudah sepakat bahwa Revo berhak memiliki rasa itu namun, Revo tak berhak memaksa ku untuk membalas rasanya.
Revo adalah sosok yang dewasa untuk saat ini, esok dan mungkin seterusnya.
Semua kesan buruk dimataku trntang Revo seakan hilang dalam sekejap, ia benar telah berubah.
Kedekatan ku dengan Revo seakan tanpa batas, tidak seperti saat yang lalu, semua masalah kini telah memiliki titik terang.
Mungkin aku terlalu egois karena telah membiarkan Rasa yang dimiliki Revo berkembang tanpa memberikan sedikit balasan.
_____
Dua minggu lagi adalah hari ulang tahun ku. Ulang tahun ku kali ini akan sangat sepi karena tidak ada kak Reno, dan juga hafiz. Dj juga beberapa bulan ini sudah sangat jarang mengunjungi rumah ku atau hanya sekedar menanya kabar, setiap kali ku telpone ia selalu memberi alasan sibuk, sedangkan Bunda dan ayah tiri ku masih sibuk mengurusi kakek ku yang sedang sakit di kediaman nya.
Hanya Riri dan terkadang mungkin Revo yang kini masih selalu ada disampingku.
Hari - hari ku semakin tak memiliki warna karena telah ditinggalkan kuas pewarna hari- hari yang biasanya diberikan tugas untuk memberi warna disetiap langkah ku yang tak lain adalah Hafiz.
E_mail yang ku kirimkan beberapa bulan yang lalu juga tak ia balas.
"Apakah ia benar - benar menghindar dari ku? Apakah ia benar- benar melupakan aku? Apakah dia sudah benar- benar bahagia tanpa ku?" pikirku sambil menatap nanar sebuah ketikan dalam E_mail dari ku untuk Hafiz.
Tiba - tiba...
"Apa kabar rin?
Pasti baikkan? Gimana sekolah lo? Bunda dan om gimana? Semoga lo bahagia ya."
Sebuah pesan dari E_mail atas nama Hafiz masuk membuat ku menatapnya intens tak
Percaya.
"Hafiz.... Gua kangen elo, kapan pulang? Gua kangen elo. Elo jahat sama gua...." balasku cepat.
10 menit kemudian. Balasan dari Hafiz.
"Sebentar lagi lo ulang tahun iya?"
Ternyata Hafiz masih mengingat ulang tahun ku, ia tak melupakan ku.
"Iiiiyyyaaa,,, elo masih inget? Pokoknya dihari ulang tahun gua elo harus nyanyi kaya tahun - tahun biasanya. Bodo." Balasku.
5 menit kemudian.
"Gua enggak janji iya rin, tapi gua usahain kalo waktu masih ada untuk gua."
"Diihhh? Telphone gua dong... Kangen nih..." Balasku.
"Mahal rin lagian gua sibuk... Jaga diri lo baik - baik" balasnya untuk terakhir kalinya.
_____
"Ahhh enggak asik nih Hafiz!" Pekik ku kesal.
Tak lama bunda masuk ke kamar ku tanpa mendahulu kan ketukan dipintu.
"Iiihhh, bunda kenapa enggak ketuk pintu dulu?"
"Kok Salah bunda sih kak? Salah kakak dong kenapa pintunya enggak ditutup" Ucap unda tanpa rasa bersalah.
"Bunda~ Kakak kesel sama Hafiz!" Adu ku pada bunda.
"Hafiz? Kenapa?" Tanya bunda kaget.
" Hafiz tadi kirim E_mail ke aku, katanya dia enggak janji dateng ke ulang tahun aku.... Ahhh aku enggak mau tahu dihari ulang tahun ku harus ada hafiz disana..." Rengek ku seperti anak kecil...
Bunda hanya menatap ku aneh. Terpancar raut kesedihan di iris matanya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh bunda. Setelah diam beberapa saat akhirnya bunda membuka suara.
"Kak, kamu itu sudah dewasa umur kamu juga sebentar lagi 17 tahun. Terus sikap kamu masih seperti ini? Bunda bilangin iya kak, Coba deh kamu belajar ikhlasin hafiz mungkin aja dia memang benar- benar enggak bisa dateng kesini. Biarin Hafiz bahagia dengan kehidupannya, toh selama ini kakak selalu aja buat Hafiz susah." Ucap bunda memberi nasihat.
Aku terdiam sesaat, ketika mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut bunda. "Toh kamu selalu buat hafiz susah." kata - kata yang sangat tidak bisa ku terima dari ucapan bunda.
"Udah aahh bunda kan lagi masak..."
"Bun?" panggil ku menghentikan langkah bunda.
Bunda menoleh.
"Bunda enggak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku kan?" Tanya ku memasang wajah sok mengintimidasi.
"Apaan si kak aneh kamu." Ucap bunda lalu pergi berlalu.
*****
Entah mengapa Untuk pertama kalinya setelah E_mail dari hafiz dua minggu silam membuat otak ku tak lepas memikirkan sosok hafiz, ditambah beberapa hari belakangan ini mimpi buruk tentang Hafiz selalu mengujungi tidur lelap ku.
Mimpi seram yang sukses membuat ku tak bisa melanjutkan tidur ku datang berulang ulang.
Hafiz pergi untuk selamanya? karena penyakit kangker Hati yang dideritanya.
Aku berusaha mengingat apakah hafiz memiliki riwayat penyakit yang ada seperti didalam mimpiku atau tidak, namun lagi - lagi tak menemukan titik terang.
"Ahhh mana mungkin laki- laki seperti dia mempunyai riwayat penyakit seperti itu" pekik nya.
"Fiz Hari ini gua ulang tahun loh. elo enggak ada niatan telpone atau pulang ke indonesia gitu? kasih gua kejutan nanti malam?" Ucap Arin yang lebih seperti kepertannyaan.
Iya,,, hari ini tepat usia Arin genap 17 tahun. Memang terdengar sedikit ganjal, namun faktanya kini arin yang masih duuk di bangku kelas 2 SEKOLAH MENENGAH ATAS sudah berumur 17 tahun.
Tok...tokk...tokk
"Masuk aja."
"Ciee yang ulang tahun sendirian aja. makan lah traktir gua." Goda Dj yang masuk lalu berjalan kearah ku.
"Makan aja dibawah." Ucap Arin acuh.
"Maunya di Traktir diluar."
"Males kak."
"Sekali- sekali senengin gua dikit ngapa sih." Ucapnya memasang wajah cemberut.
"Yaudah sana keluar."
"Lah - lah?? songong nih bocah ngusir gua!" Ucap Dj seperti berperan dramatis.
""Elo tunggu dibawah gua ganti baju dulu maksudnya." Jelasku.
"Ngemeng kek orang mah!"
"Cot!" pekik Arin kesal.
"Ck!" balas Dj.
Tak sampai lima belas menit Arin sudah siap dan kini telah berdiri dengan sempurna didepan Dj yang tengah memainkan ponselnya.
"Ahhh,,, apaan nih baju lo kaya preman gitu? mana pake topi lagi. enggak mau." Ucapnya sambil menunjuk pakaian yang ku kenakan.
"Ahh ribet banget lo mah."
"Gua maunya yang anggun. nanti kalo ada yang liat gua jalan ama lo yang ada gua disangka lagi jalan ama pereman pasar lagi." Ucapnya.
"Ribet!" pekik ku lalu berjalan menaiki tangga.
Lima belas menit kemuadian aku menuruni anak tangga. Namun pada saat aku sampai diruang tamu Dj Malah menghilang.
"toonnn...tooonnnn" (visual klakson mobil).
Aku terlonjak kaget...
"Djjjjjj..." Teriak Arin kesal.