
.
.
Memaafkan itu mudah.
tapi tidak mudah dalam menerapkan.
memaafkan itu indah.
tapi tidak akan indah jika orang yang sama melakukan hal yang sama pula.
_______
#author Pov
Arin terpaku melihat Rumah Hafiz yang telah dipasangkan papan periklanan untuk dijual.
Niatnya Arin mengunjungi rumah Hafiz hanya ingin sekedar melepas rindu.
Namun kini tak ada lagi tempat untuk ia menyampaikan rindu.
Tak ada lagi tempat kenangan yang bisa kenang saat bersama Hafiz.
Ditengah Derasnya guyuran air hujan Arin masih setia menatap iklan yang bertuliskan "Rumah ini dijual". Arin tak habis pikir mengapa rumah ini harus dijual? lalu bagaimana dengan Hafiz jika ia kembali ke indonesia? Atau mungkin ini memang keinginan hafiz agar ia tak lagi bertemu dengan nya.
Tanpa sadar sebuah buliran air yang terasa hangat berbaur bersama rintikan hujan yang membasahi pipi. Arin menjatuhkan dirinya diatas dinginnya batu alam yang tersusun rapi didepan halaman Rumah Hafiz.
Tanpa Arin sadari lututnya berdarah akibat benturan dengan batu alam tersebut. Menggunakan Gaun diatas lutut memang tak menutupi kaki indahnya dengan sempurna sehingga menyebabkan ia menjadi mudah terluka. Dinginnya angin malam yang bersatu dengan hujan tak mengalahkan dinginnya hati Arin yang merasa bahwa ia benar-benar kehilangan Hafiz.
Arin merogoh tas kecilnya dan mengamvil sebuah barang berbentuk persegi panjang yang tak lain adalah ponselnya. Ia mencari nomor atas nama Hafiz.
ia mencoba menghubungi hafiz berkali - kali namun tak kunjung diangkat.
"Rin pulang yuk." Ucap seorang pria bertubuh tegak dengan pakaian casual yang tak lain adalah Dj.
Refleks membuat arin menoleh lalu berdiri yang dibantu oleh Dj.
"Lo udah tau ini kak?"
Dj terdiam.
"Lo jahat kak! kenapa lo selalu berpihak ke hafiz? enggak pernah ke gua! Sekrang semuanya udah terlambat." Ucap Arin penuh kemarahan.
"Enggak gitu rin. Denger dulu."
"Apa? elo mau bilang karena hafiz temen lo? Basi!"
"Denger! Hafiz enggak akan kembali ke indonesia dan dia juga enggak ngasih alamatnya ke gua." Ucap Dj Mencoba menenangkan.
"Awas gua mau pulang!"
"Gua anter? kaki lo berdarah." Ucapnya mencegah.
"Bukan urusan lo!"
"Arin! Denger gua, Elo itu adik gua dan gua kakak lo sama kaya Reno atau pun Hafiz!" Ucap Dj dengan nada Tinggi.
Arin terdiam. karena ini memang pertama kalinya Dj bicara dengan nada tinggi seperti ini.
"Pulang sama gua." Ucap Dj pelan Namun tajam.
Dj menggenggam tangan Arin erat tanpa niat melepaskan. Dibukanya pintu sebelah kiri yaitu kursi penumpang lalu menyuruh Arin masuk tanpa mau mendengar bantahan.
*****
"Belajar ikhlasin Hafiz. Percaya deh sejauh apapun Hafiz pergi pasti dia akan terus inget kita, orang - orang yang sayang sama dia." Ucap Dj sambil membersihkan luka dilutut Arin.
Saat ini Arin dan Dj tengah berada di pinggir jalan tempat banyaknya para penjual makanan lesehan.
Arin yang masih setia dikursi penumpang dengan menggunakan jaket milik Hafiz Yang kata Dj tertinggal dimobilnya pada saat ia menghantar Hafiz menuju bandara beberapa hari yang lalu.
Arin yang terus memeluk jaket milik hafis dengan iris mata yang terus mengikuti kemana pun gerak - gerik Dj pergi. Dari mulai memesan makanan, kewarung sebrang hanya untuk membeli kapas dan obat merah. serta Berbincang dengan seseorang di telpone.
tak lama setelah berbicara dengan orang asing melalui ponselnya ia berjalan kearah mobil namun tidak kearah ku. melainkan ke bagasi mobil mengambil sebuah jaket dan langsung memberikannya pada ku.
"Kaki lo siniin." Ucapnya menyuruh kaliku menjulur keluar mobil, alhasil aku menurut.
"Gini loh non." Ucapnya menarik kaki ku lalu menutupi sebagian kaki ku dengan jaket hitam yang memiliki bau farfume sama seperti dirinya.
"Ini jaket buat apa?" Tanyaku.
"Buat nutupin paha lo lah enggak enak diliatnya. Lagian lo pake baju pendek bener kaga punya baju lain?" Ucapnya asal ceplos.
"Bacot!"
"Sakit woy..." Ucap Dj
"Dih kocak lo kak, yang diobatin gua elo yang teriak sakit." Ucap ku pada Dj.
"Dihh, bocah! Ini tangan lo ngapain nyubit-nyubit gua dari tadi." Ucapnya kesal.
"Ehhh iya, sorry kak refleks. perih banget soalnya." Jawabku di iringi ringisan malu.
"Ck!"
"Udah."
"Akhirnya, makasih."
"Makasih doang?" Ucapnya lalu melepas kemeja merah batanya.
"Eeehhhh,, elo mau ngapain kak?" Tanyaku panik.
"menurut lo? liat nih ulah lo!" Ucapnya sambil menunjukan tangan bagian atas yang tadi secara refleks kucubiti.
"Astaga.... kok sampe kaya gitu sih? maaf kak gua enggak tahu sumpah. sini gua obatin, ada minyak angin enggak?" Ujar ku panik melihat tangannya seperti memar.
"Ada tuh didasbor." Ucapnya dengan dagu yang menunjuk kearah Dasbor mobil.
Setelah menemukan minyak angin Arin langsung mengoleskan ke luka yang terlihat seperti luka memar akibat ulah arin yang mencubit terlalu keras.
"Kak maaf iya? elo enggak marah ama gua kan kak?".
"adaww.... pelan- pelan jirrr ini nyut- nyutan." Pekiknya.
"Maaf."
"Boleh Tapi suapin." Ucapnya polos saatelihat dua porsi nasi dan lauknya telah diantar.
"Deehh,, manja amat. kan yang sakit tangan kiri." Ucapku menolak.
"Yaudah marah." Rengeknya.
"Iye manja!"