
.
.#author pov....
Saat ini hanya ada hafiz disini, di lorong rumah sakit. Karena Hafiz memutuskan untuk membawa Arin kerumah sakit.
Bunda dan ayah tiri arin yang sedang berada dibekasi langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Hafiz. Namun saat ini belum ada siapa-siapa yang menemaninya.
Sedangkan fikirannya kini sedang kacau. Ingin rasanya ia menonjok seseorang hanya demi emosinya yang kini telah memuncak. Ia beranjak dari tempat duduknya dan lebih memilik untuk bersandar pada tembok yang bercat putih hijau itu.
Saat
"Kenapa harus saat ini!" Ucapnya lirih dengan sesekali tangannya yang terkepal kuat memukul kecil dahin
ninggalin semuanya disaat seperti ini." Akhirnya dia memilih meninju tembok rumah sakit demi menumpahkan emosinya.
Dj yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung mempercepat langkahnya yang mungkin sudah cepet menjadi berlari kecil.
"Lo kenapa men?" Tanya Dj yang kini mendorong tubuh Hafiz jauh dari tembok.
Sesaat setelah Dj mendorongnya Hafiz memilih pergi, dengan meninggalkan tetesan darah dari tangannya.
Dj yang melihat kekacauan pada diri Hafiz langsung mengejar Hafiz karena takut terjadi sesuatu.
Disaat sela-sela mengejar hafiz ia menelpone Revo untuk segera kerumah sakit menemani arin yang sendirian.
****
"Vo, kerumah sakit deket rumah Hafiz sekarang, Arin sendirian."
"..."
"Iya sekarang." Sambungan pun terputus.
****
"Lo kenapa si fiz? Ada masalah? Cerita ama gua men." Ucap Dj menghentikan langkah Hafiz yang hendak masuk kedalam mobil.
"Minggir! Sebelum gua ngelakuin hal yang enggak seharusnya gua lakuin." Ucapnya penuh kemarahan.
"Apa? Lo mau nonjok gua? Tonjok fiz kalo itu bisa buat lo tenang. Lo mau kembali ke hafiz yang tempramen lagi?" Ujarnya menantang.
Hafiz yang mendengar perkataan Dj langsung membanting pintu mobilnya yang telah ia buka hingga tertutup kembali.
"Gua harus pergi sore ini." Ucapnya datar.
"GUA HARUS PERGI SORE INI KE LA DAN MUNGKIN ENGGAK AKAN kesini lagi je." Lanjut hafiz marah namun langsung datar ketika diakhir kalimat.
Dj yang mendengar perkataan Hafiz mencoba mencerna satu demi satu perkataan hafiz.
"Gua enggak mungkin meninggalkan semuanya. Meninggalkan kebohongan gua apa lagi rasa bersalah gua sama keluarga Arin Jee. Gua enggak bisa." Ucapnya dengan frustasi yang kini duduk menyender di pintu mobilnya.
"Kenapa harus ke LA si Fiz? Apa enggak bisa lo tetep disini?" Tanpa Dj hati-hati.
"Bokap gua sakit. Dan ini saatnya gua gantiin posisi dia dikantor."
Ucapnya datar.
"Lo masih punya waktu untuk jelasin semuanya sama Arin dan Bunda." Ujar Dj yang kini mencoba menyetarakan posisinya.
"Waktunya enggak tepat. Lo harus percaya sama gua Je, suatu saat gua akan kembali dan jelasin semuanya ke Bunda dan Arin." Ujarnya kini bangkit.
"Gua pegang omongan lo men." Ucap Dj bersalaman ala pria.
"Jaga Arin dan Bunda baik-baik Je buat gua." Ucap Hafiz lalu pergi meninggalkan area rumah sakit.
Setelah kepergian Hafiz, Dj langsung memasuki rumah sakit dengan langkah yang sedikit lunglai. Ia bingung apa yang harus ia katakan kepada Bunda dan Arin jika menanyakan keberadaan Hafiz nanti.
Ia hanya takut jika ia tak dapat menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan arin nanti.
Dj menyusuri lorong menuju Ruang UGD dengan lambat. Semua terjadi begitu cepat, rasanya baru tadi pagi ia bersendau gurau bersama Hafiz tanpa beban tapi mengapa siang ini begitu berbeda 360 derajat.
Fikirannya terus berfikir keras bagaimana bisa semua berjalan secepat ini? Bagaimana bisa kebahagian yang terpancar tadi lagi hilang secepat ini tanpa meninggalkan jejaknya? Bagaimana bisa semua itu terjadi?
"Bang, Arin udah dipindahin kekamar inap sama orang tuannya." Ucap Revo menepuk pundak Dj tiba-tiba.
"Oh okeh. Thanks vo." Ucap Dj datar.
"Gua pamit iya bang." Ucapnya berpamitan.
"Sip, ti-ati." Jawab Dj seadannya.
Setelah itu Dj langsung menuju ruang inap kamar Arin.