Revert To Me

Revert To Me
author pov




Setelah mendapat kabar mengenai Arin dari Dj, Hafiz yang baru saja selesai bergulat dengan kuis dikelas langsung pergi menuju kerumah sakit tempat biasa Arin cek up kesehatannya.


Tanpa babibu Hafiz yang kini sudah berada didalam mobil kesayangannya langsung menginjak gas mobilnya.


Hafiz berusaha untuk menghindari kemacetan dan mencoba mencari jalan pintas agar cepat tiba dirumah sakit. Tapi sayang sepertinya hari ini semua jalan sedang dilanda kemacetan, bahkan jalan-jalan kecil yang sering ia lewati, sekarang ikut terhambat.


Hafiz mendengus kesal saat mobilnya kini tak bisa maju ataupun mundur, karena sudah hampir 10 menit ia berada pada posisi yang sama seperti ini dan belum ada perubahan sesikit pun. Padahal baginya sampai tempat tujuan dan berada disamping Arin adalah hal terpenting saat ini dari pada harus terjebak kemaceta seperti ini.


Hafiz meraih ponsel miliknya yang disimpan dibalik jaket kulit yang ia kenakan saat ini. Pada saat Hafiz ingin menghubungi Dj sahabatnya tiba-tiba ponsel milik hafiz berdering pertanda sebuah panggilan masuk diterima.


"Lo dimana sekarang jeeee....?"


Ujar Hafiz seketika keningnya mengerut mendengar jawaban dari sebrang.


"Fiz gua kerumah lo aja, dan please jangan bilang Bunda."


"Enggak bisa, lo harus kerumah sakit sekarang." Tegas hafiz.


"Please, gua udah enggak papah kok fiz. "


"Tapi lo masih sama Dj kan?" tanya Hafiz memastikan.


"Iya"


Pembicaraan terhenti ketika wanita disebrang sana mematikan sambungannya. Hafiz melempar ponsel miliknya ke kursi penumpang disebelahnya dengan kesal. Terlihat jelas pada wajah Hafiz kecemasan serta kejengkelan akibat melihat kelakuan wanita itu.


Wanita itu selalu berhasil membuat hafiz menjadi orang lemah. Wanita yang kini berusia lebih muda darinya selalu berhasil merebut perhatiannya dari apapun itu.


'Bagi hafiz wanita itu adalah gadisnya.


Bagi hafiz wanita itu adalah hidupnya.


Dan bagi hafiz wanita itu segalanya.'


Saat ini Hafiz sedang mencari celah bagaimana caranya ia dapat terbebas dari kemacetan yang membuatnya sedari tadi tetap ditempat yang sama.


"Je, kalo lu nyampe duluan langsung bawa arin kekamar gua aja. Gua masih kejebak macet."


Send


Hafiz memilih untuk mengirim pesan karena saat ini ia benar-benar lelah menghadapi kemacetan yang menguras banyak energinya.


****


Akhirnya setelah terjebak macet selama 2 jam kini Hafiz berhasil menginjakkan kakinya didalam garasi rumahnya dan langsung memasuki rumahnya sambil sesekali memanggil nama Dj atau pun Arin.


Dije yang sedang berada di ruang makan rumah Hafiz mendengar panggilan atas namanya langsung menemui sumber suara yaitu Hafiz.


"Ape sih lo berisik bener." Ujar Dj santai.


"Elah selow men, dia lagi tidur dikamar lo. Obattt.." Perkataan Dj tertahan ragu.


"Obat? Obat apa?" Tanya Hafiz heran.


"Eemm, eh enggak maksud gua tadi gua ngasih obat cadangan yang ada dilaci kamar lo ke arin soalnya dia lupa bawa." Jelasnya sedikit kelagapan.


"Anak itu....." Ujar Hafiz berjalan kearah meja makan mengambil minuman dingin yang ada diatas meja yang tak lain milik Dj yang baru saja ia buat sebelum Hafiz tiba.


"Eehhh,, lo Revo kan anggota baru club kita?" Tanya Hafiz pada lelaki yang tak lain adalah revo yang kini sedang duduk disebelahnya.


"Iya bang gua Revo. Apa kabar bang?" Ujar Revo berusaha menyapa.


"Selow, baik gua. Ada perlu apa nih?" Tanya Hafiz sambil menghabiskan minumannya yang tinggal setengah.


"Hehh bule kok minuman gua lo abisin sih?rese lo!" Ujar Dj tidak santai.


"Abis enak." Jawabnya acuh lalu menghabiskan minuman itu hingga tetes terakhir.


"Iya lah enak gua kan bikinnya pake hati." Ujar Dj dengan senyum manis yang dibuat-buat.


"Baper lo ******." Jawab Hafiz.


"****** nenek lo noh baper." Timpal Dj.


Melihat kejadian itu membuat revo menggelengkan kepala. Kedua pria dihadapannya ini sudah terbilang dewasa karena


Umur mereka usia 21 tahun, namun kelakuannya masih seperti dirinya ketika sedang berkumpul teman seusianya.


"Tadi lo mau ngapain kesini?" Tanya Hafiz lagi.


"Tadi dia yang bantu gua nolongin Arin." Ujar Dj sambil membuat minuman baru untuknya.


"Oh gitu thank ya bro." Ujar hafiz menepuk punggung Revo sambil memasuki kamar kecil didapur. Revo yang ditepuk hanya membalas senyum kikuk.


Saat Hafiz baru saja keluar dari kamar kecil revo langsung berpamitan untuk pulang.


"Bang gua pulang dulu ya, capek gua." Ujar Revo berdiri sambil bersalaman ala pria dewasa kepada Dj dan Hafiz.


Setelah melihat kepergian Revo kini yang tersisa diruangan itu hanyalah Hafiz dan Dj. Dan keadaan mendadak hening.


.


.


.


.


.