Revert To Me

Revert To Me
Ayam? setan?



Setelah susah payah membujuk Hafiz untuk menemani ku makan diluar, akhirnya kekerasan egonya luluh dengan segala macam upaya ku. Dan kini kami sudah tiba disebuah rumah makan dekat perumahan rumah ku.


Aku memasuki rumah makan lebih dulu karena Hafiz harus mencari tempat untuk parkir siputih mobil kesayangan nya.


Kedua mata ku mulai menjelajah mencari meja yang kosong. Karena meski rumah makan ini terbilang sederhana ternyata pengunjungnya tak sedikit.


Setelah menemukan tempat yang strategis aku langsung menghampiri meja yang ku tuju yaitu, dibagian luar resto yang menghadap danau yang terlihat indah karena dikelilingi banyak lampu warna-warni.


Aku menempati salah satu kursi dimeja tersebut sambil menunggu Hafiz yang sejak tadi belum juga kembali.


Sambil menunggu Hafiz yang tak kunjung datang aku membuka buku menu yang sudah disiapkan disetiap mejanya.


Aku tercengang membaca menu-menu yang ada di rumah makan ini.


Rumah makan ini terlihat klasik dengan suasana tenang yang sesekali diselingi bunyi perpaduan antara sendok garpu dengan piring. Tapi tidak dengan menu yang ditawarkan...


Ku fikir "ayam setan" adalah menu terhoror tapi ada yang lebih membuatku tercengang sekaligus tertawa geli.


"Ayam kesurupan? Kepiting ngesot? Ikan gopes?". Apakah semua makanan itu? Aku menggedik ngeri membaca satu persatu menu di rumah makan tersebut.


Beruntung Hafiz cepat datang sebelum bulu kuduk ku merinding karena membaca menu-menu aneh ini.


"Fiz, sini deh masa menu disini horor banget ya? ngeri gua." Ujarku seraya menyuruh hafiz mendekat.


"Bodoh. Itu namanya kreatif." Cibirnya setelah mendekat.


"Kok kreatif sih? Lo baca deh masa ada ayam kesurupan, nanti kalo gua makan dia gua ikut kesurupan lagi. Terus ini ada ikan gopes, apa coba gopes? Kenapa gak gomes aja atau lopes." Ujarku menunjukkan menu rumah makan tersebut.


"Aduh anak ayah pinter sekali ya." Ucapnya dibuat tegas seakan seorang ayah kepada anak permpuannya.


Aku hanya menatapnya bingung.


"Yang pertama, kenapa semua menu ini terdengar horor itu karena semua menu dibuat dengan level kepedasan yang sangat. Kedua, lo enggak akan kesurupan wong ayam nya kan udah mati bodoh. Ketiga, menurut lo aja ada gitu kepiting ngesot?" Tuturnya.


"Udah cepet pesen nanti keburu malem." Lanjutnya agar aku tak banyak tanya.


Hafiz memanggil pelayan agar aku dapat memesan.


"Mas, saya pesen setan ngesot iya." Ucap ku spontan kepada pelayan. Al hasil pelayan itu tak mengerti ucapan ku hanya menunjukkan senyum pasta.


"Maksudnya ayam setan dan kepiting ngesot." Potong Hafiz membuat pelayan itu langsung menuliskan pesanan kami.


"Minumnya?" Tanyanya.


"Air hangat 2 sama kelapa ijo satu aja deh." Jawab Hafiz.


Setelah pelayan itu menyebutkan ulang pesanan kami. Ia pergi meninggal kan kami dengan aku yang masih menahan malu ku dan berdampak aku ingin tertawa sekencang mungkin.


Tawa yang sejak tadi dengan susah payah ku tahan karena menjaga image ku dikhalayak umum pecah seketika melihat wajah Hafiz yang frustasi...


"Maaf deh tadi gua spontan tau. BTW itu apa?"


"Eskrim."


"Mau....."


"Nanti aja buat ngilangin pedes. Lo enggak taukan pedesnya itu kaya apa?"


"Sekarang aja~" Rengek ku.


"Nurut ama gua kenapa sih!"


Aku hanya diam dan mengerucutkan bibirku seakan anak kecil yang sedang ngambek tak dibelikan eskrim.


Tak lama makanan kami pun datang. Aku dan Hafiz langsung memakan pesanan kami masing-masing setelah pelayan itu beranjak pergi.


Selama menghabiskan makanan kami satu sama lain tak ada satu kata pun yang keluar dari mulu ku maupun Hafiz.


Setelah selesai makan Hafiz memberikan eskrim yang ia janjikan tadi pada ku. Meski pun sudah sedikit mencair tapi setidaknya aku masih bisa menikmati eskrim itu.


"Fiz, "


"Hmm"


"Kenapa lo gak pernah marah sama gua." Tanya ku


"Kenapa harus marah?" Jawabnya sambil menaikan satu alisnya.


"Karena sikap dan sifat gua mungkin?"jawabku sambil menggedikkan bahu.


"Emang nya kenapa?" Tanyanya masih dengan kebingungannya.


" Emangnya lo enggak pengen punya cewek kaya yang lain gitu?" Tanyaku memasang wajah polos.


"Maksud lo?" Tanyanya lagi dengan kedua alis yang kini saling bertautan.


"Yakan lo hampir setiap hari sama gua. Emang lo gak takut kalo misalnya cewek-cewek itu nyangkanya gua pacar lo padahal bukan." Jelas ku


"Kan bisa jadi cewek yang suka sama lo atau cewek yang lo sukain jadi salah paham gara gara gua." Lanjutku.


"Lo ngomong apa si rin, lagi pula gua lagi gak pengen ngomongin masalah cewek. Bikin ribet." Jawabnya santai seraya mengacak rambut ku yang tertata rapi.


"Maafin gua...." Ujarku lirih