Revert To Me

Revert To Me
Maaf Rin..




.


.


#author pov...


"Rin? Arin? Oke gua minta maaf.. rin bangun!" Ucap Revo panik melihat Arin terjatuh kedalam pelukkannya tak sadarkan diri.


pingsan. gadis itu akhir- akhir ini sangat lemah tubuhnya. mungkin terlalu banyak beban yang ada dan tak ada yang bisa dia bagi separo dari bebannya seperti pada saat ada hafiz.


Revo yang melihat arin tak berdaya untuk kesekian kalinya merasa tau apa yang harus ia lakukan. Revo langsung mengangkat tubuh Arin yang lunglai dipelukkannya dan langsung bergegas menuju ruang UKS.


******


Sudah satu jam Arin tak sadarkan diri. Melihat Arin seperti ini membuat Revo meruntuki kebodohannya. ia memaki dirinya sendiri.


Padahal Revo telah berjanji pada Dj untuk menjaga arin dari orang- orang yang akan membuatnya stress dan tepuruktapi malah justru dirinya sendiri yang membuat Arin terluka.


"Rin,, maafin gua. Gua tau selama ini gua hanya membuat lo stress, andai aja gua tau kondisi lo dari dulu rin." Ucapnya frustasi sambil menggenggam tangan kanan Arin.


"Rin...bangun." ucapnya lirih.


Bagi Revo melihat arin seperti ini sangatlah membuatnya terluka, bahkan sangat membenci dirinya sendiri atas kecerobohan nya. ia lebih baik melihat arin yang terus menatapnya dengan tajam dan sinis, dari pada melihat Arin yang tak berdaya seperti ini.


Revo menenggelamkan wajahnya disamping tangan Arin. Tanpa sadar rasa kantuk menyelimuti Revo yang sedang menenggelamkan wajahnya di kasur tepat disamping tangan arin.


30 menit berlalu...


Revo tersadar dari tidur singkatnya. Seketika Revo tersentak saat melihat Arin yang kini tengah duduk bersandar menatapnya sambil tersenyum.


Tanpa sadar Terlukis nyata senyum lebar di wajah Revo.


Entah saat ini ia sedang bermimpi atau pun nyata, Revo tak peduli yang ia rasakan senyum itu nyata adanya. damai.


senyum itu yang ia rindukan.


"Udah puas tidurnya?" Tanya


Arin malas. Seketika senyum diwajah Revo redup.


"Hah? Gua? oh iya, maaf abis gua bosen tadi nungguin lo sadar." Ucap revo jujur.


"Kenapa lo enggak balik kekelas aja?" Tanya Arin acuh.


"Gua takut lo kenapa-napa rin." Ucap Revo lembut.


"Ada yang sakit? Perlu kerumah sakit?" Lanjut Revo menunjukkan wajah paniknya.


"Enggak vo,, enggak perlu gua enggak selemah itu kok." Ucap Arin datar.


"Obat lo dimana? Sini gua ambilin, lo harus minum obat rin." Ucap Revo melihat tak ada ekspresi diwajah Arin.


"Untuk apa lo tanya itu bukannya lo enggak pernah mau tau alasan gua selama ini?" Tanya Revo penasaran namun hati hati, pasalnya Arin baru saja mau berbicara pada nya.


"Gua cuma mau mengakhiri semua drama dihidup gua. Gua mau sembuh vo, gua enggak mau gila." Ucap arin lirih.


"elo gak gila Rin, elo masih Arin yang gua kenal. bahkan temen teman tau itu elu baik." Ucap Revo menenangkan Arin.


" Sorry rin sebelumnya, tapi setau gua bean enggak sebaik yang lo kira, di enggak sesempurna penglihatan lo dulu." Ucap Revo hati-hati.


"Selama ini lo kira gua kan yang hianatin dia? Itu salah, semua itu ulah bean yang memutar balik kan fakta biar lo benci sama gua selepas kepergiannya ke luar negeri. Gua enggak pernah hianatin pertemanan gua dengan bean, orang tua bean tahu anak nya make narkoba itu karena keteledoran dia sendiri, dan usulan dia untuk pindah keluar negeri itu bukan atas dasar ide dari gua, itu emang keputusan dia rin bukan gua."


Jelas Revo panjang.


Arin terdiam mencoba mencerna semua perkataan Revo dengan baik.


"Lo tau alasan bean pilih prancis sebagai rumahnya sekarang?"


Arin menggeleng.


"Itu semua karena evelin. Lo inget foto cewek yang foto bareng Bean waktu itu?" Tanya Revo.


Arin hanya mengangguk.


"Itu cinta pertamanya bean yang sekarang tinggal di prancis dulu dia tetangganya bean."


"Lo bohong kan vo? Semua itu cuma karangan semata lo kan?" Tanya Arin yang tak percaya dengan semua ucapan Revo.


"Terserah lo rin kan dari dulu elo emang enggak pernah mau percaya ama gua." Ucap Revo tersenyum tipis.


Setelah mengucapkan itu revo langsung beranjak keluar dari Uks meninggalkan Arin yang masih tak terima dengan semua fakta yang di ucapkan Revo. Sebenarnya Revo tak tega jika harus meninggalkan Arin pada kondisinya yang seperti ini tapi Revo juga tak bisa lagi menahan amarahnya. Jadi Revo memilih meninggalkan Arin hanya untuk menumpahkan emosinya ditempat lain tanpa harus diketahui Arin.


Kinerja otak Arin bekerja 2 kali dari biasanya. Ia berusaha mencerna kata, demi kata yang telah Revo katakan. Arin juga memaksa kinerja otaknya untuk mengingat semua kejadian yang baginya mengganjal difikirannya saat masih bersama bean.


****


Cinta memang terbukti dapat membuat manusia buta,tuli bahkan bodoh.


Faktanya, kini arin sedang mengalaminya, dengan hanya bermodal kesetiaan dan kepercayaan ia mau menjadi orang buta, tuli, bahkan bodoh.


.


.


.


.


.


Vote+coment nya jangan lupa iya🙅🙅🙅🙅