
Jangan pergi.
Jangan,, kumohon.
Berhentilah melangkah untuk rencana bodohmu itu.
Kau tau aku takut gelap.
Kau tau aku takut sendiri.
Dan,, Kau tau
aku takut dengan masa lalu.
Kau tau semua itu!
Lalu mengapa kini kau tega membiarkanku sendiri dalam kegelapan masalalu ku tanpa hadirmu?
****
"Ar, ayolah makan. udah tiga hari lo dirumah sakit tapi kondisi lo malah makin drop gini." Ujar Dj memaksa ku untuk makan.
"Lo enggak kasian sama bunda dan ayah lo bolak-balik jakarta bekasi hanya untuk ngurusin lo dan opa lo yang lagi sakit." Lanjutnya.
Aku sama sekali tak menghiraukan perkataan Dj.
"Udah lah ar, lo enggak usah nangis lagi. Liat tuh muka lo udah kaya badut. Idung merah, mata sembab." Ujar Dj berusaha menghibur. Namun air mata ini jatuh dengan sendirinya meski sudah berusaha ku bendung.
"Gua yakin Hafiz bakal balik kok. Dia bilang juga hanya untuk sementara selama bokapnya sakit." Ucap Dj semakin sabar menghadapi ku.
"Kenapa lo enggak pergi aja? Semua orang senang meninggalkan gua." Ucapku dingin dengan tatapan kosong.
"Mereka enggak ninggalin lo ar, mereka tetap ada dihati lo kok."
"Bulsyit! gua benci Hafiz, gua benci kak reno, gua benci. Dan gua benci lo!" Ucapku dengan suara sedikit tinggi.
"Pergi." Ucapku dingin.
"Tapi ar.."
"Pergi, gua butuh sendiri." Ucapku dengan pandangan kosong.
****
Akhirnya hari ini aku diperbolehkan pulang. Meski kondisiku masih kurang baik. Bagi ku berlama-lama berada dirumah sakit hanya membuang-buang uang saja, karena sakit yang ku derita bukan lah sakit pada raga ku melainkan jiwa ku.
Aku tidak gila, aku hanya menderita depresi ringan yang hampir sembuh namun lagi-lagi gagal karena ulah ku sendiri.
"Bunda sama ayah pulang duluan aja, Nasyah pulang sama kak Dj." Ujarku pada ayah dan bunda ketika hendak keluar kamar.
"Enggak papah kan kak?" Tanyaku menatap Dj tanpa arti.
"Hah? I-- iya bun, om, nanti arin akan sampai rumah dengan selamat kok." Sambung Dj yang mengetahui maksud permintaan ku.
"Yasudah kalian hati-hati iya. Jangan ngebut-ngebut ya Dj." Ujar om reldy (ayah tiri arin).
"Sip om." Ujar Dj sambil memberikan dua jempolnya.
Setelah bunda dan ayah keluar dari kamar inap, mendadak suasana menjadi kaku. Memang setelah pertengkaran kemarin aku dan Dj tak lagi berbincang mengenai apapun.
"Kita mau kemana ar?" Tanya Dj memecah keheningan.
" kita kemakam kak reno abis itu kita ke danau ada yang mau gua bicarain sama lo kak." Ujarku lalu beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati.
"Mau gua ambilin kursi roda?" Tawar Dj melihat ku sedikit sempoyongan.
"Enggak usah makasih kak gua bisa kok." Ucapku mantap.
"Yaudah gua bantu iya?" Tawarnya lagi.
"Enggak usah kak gua kuat kok." Ucap ku kekeh pada pendirian.
"Lo capek kan? Gua gendong iya?" Tanyanya.
"Enggak." Jawabku cepat.
"Yaudah lo tunggu sini gua ambil mobil bentar." Ucapnya memberi solusi.
"Enggak mau~" ucapku cepat langsung memeluk tangan Dj yang kekar.
"Kenapa?" Tanyanya sabar.
"Pokoknya enggak mau." Mengeratkan pelukan ditangannya.
"Oh, iya gua paham kok ar. Yaudah yok..." Ucapnya langsung jongkok dihapanku.
"Kak bangun malu tau." Ucapku menyuruhnya bangun.
"Enggak mau. Udah cepet sebelum sirine ambulans nya bunyi." Ucapannya membuat ku langsung menurut karena memang aku sangat phobia dengan mobil ambulans beserta suara sirine nya.
"Sini tasnya biar gua yang pegang." Ujarku meminta tas yang berisikan obat dari rumah sakit.
"Udah diem aja, kali-kali nurut ama gua kenapa sih." Ucapnya santai.
Banyak sekali pasangan yang menatap kami dengan tatapan suka dan ada juga yang menatap ku heran dengan sesekali terdengar kata-kata yang cukup mengganggu telingaku.
"So sweet."
"Tuh pah, pacarnya sakit aja digendong kamu apa pah."
"Ihhh, manja amat tuh cewe."
"Cocok iya cowonya tampang bad boy gemes, cewenya imut walaupun pucet."
"Mau digendong."
"***** so sweet."
Aku yang mendengar semua itu hanya bisa mendengus kesal. Sedangkan Dj malah memilih memasang senyum manis diwajahnya.
"Elah,, lo sih kak gua dikatain manjakan tuh." Ucapku kesal.
"Selow kali ar, manusia emang suka gitu enggak tau apa-apa tapi ngomong yang enggak-enggak." Ucap Dj sambil menggeleng tak jelas.
"Kayanya yang stres gua deh kak, tapi kok yang gila elo sih?" Ucapku santai.
"Iya aku gila nih gara-gar enggak dapet senyum kamu dari kemarin." Ucapnya berniat menggoda tapi malah membuat aku rasanya ingin muntah..
"Receh lo dui." Ucapku memutar mata malas.
"Elah lo enggak usah panggil dui kali. Enggak asik lo." Ucapnya sok marah.
"Bodo." Jawabku masa bodo.
.
.
.
..
...
....
Hey....heyyy🙅🙅🙅
Tinggalkan vote dan coment nya iya jangan lupa..
Okeh ...👍👍👍