
Pada saat aku akan melanjutkan langkah ku....
"Lo bilang gua jahat? Lo liat diri lo. Apa yang lo lakukan barusan?". Ujar seseorang dari belakang tempat ku berdiri saat ini dengan suara baritonnya.
Aku menoleh ke sumber suara yang kini sedang menunjukkan wajah smirk nya.
"Lo pengecut! Lo selalu lari dari kenyataan dibalik sikap lu yang seperti ini. Bahkan lo berbohong hanya untuk meloloskan aksi pelarian diri lo!" Ucapnya mendekatkan diri pada ku.
"Don't judges book by it cover." Ucapku dingin sambil menatap tajam mata coklat Revo.
Setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan area sekolah tanpa memperdulikan respon yang diberikan Revo.
*****
Dibawah rintikkan hujan yang semakin lama semakin deras dengan sesekali di iringi kilatan cahaya petir yang sukses membuat siapapun yang melihat akan merasa takut. Namun tak ada pilihan bagi ku saat ini.
Jika pulang pasti bunda akan tahu jika aku bolos sekolah. Lagi pula saat ini aku memang membutuhkan suasana sepi untuk menyendiri.
Kini aku berada di sebuah makam yang bertuliskan "Renoyansyah leys".
Hanya tempat ini memang yang selalu menjadi tujuan ku 3 tahun belakangan ini jika aku membutuhkan waktu sendiri.
Rintikan air hujan yang sudah turun sejak satu jam yang lalu sukses membuat seragam ku basah. Bukan hanya seragam ku saja yang sukses dibuat basah bahkan bunga lily putih yang ku beli saat menuju kesini pun terus dihujami ribuan tetesan air hujan yang tak berhenti sejak tadi.
"Kak, aku rindu kakak. Aku kesepian kak." Ucapku dengan buliran air mata yang mulai berderai.
"Kakak apa kabar disana? Nasya kangen kakak. Ini lagi hujan loh kak, ayo kita main hujan kaya dulu kak." Ujarku memeluk makam Kak Reno. (Nasya dalah panggilan kesayangan dari Reno yang diambil dari nama tengah arin).
Berhuntung saat ini sedang hujan jadi kemungkinan besar hanya ada aku disini dan ini lah kesempatan ku menumpahkan semua kerinduan, kekesalan dan semua yang ku rasakan saat ini.
Karena biasanya jika aku mengunjungi makan ini selalu saja dalam suasana yang cukup ramai, jadi aku hanya dapat berdiam diri memandangi batu nisan yang bertuliskan nama kak reno sambil sesekali air mata ku mengalir.
"Kakak dulu janjikan jika hujan kita akan selalu main hujan bareng. Ayo kak main hujan!" Lanjut ku dengan tangisan yang terbilang cukup keras.
"Arin udah, lo enggak boleh gitu kalo lo kaya gitu yang ada Reno sedih ar." Ujar kak Dj yang tiba-tiba saja memeluk ku dari belakang.
"Tapi kakak udah janji sama gua kak." Ujar ku yang kini berada dalam dekapan kak Dj.
"Kita pulang ya, hafiz cemas banget tau lo enggak ada disekolah." Ujar kak Dj mengelus punggung ku.
Rasa sesak tiba-tiba saja menghampiri ku dan rasa sakit dikepala ku kini mulai menyerang, kini pandangan ku mulai berubah menjadi gelap.......
*****
Sejak tadi aku merasakan ada tangan hangat yang setia menggenggam tangan ku sewaktu aku terlelap.
Saat pandangan ku belum benar-benar jelas aku melihat sebuah hoodie berwarna navy melekat ditubuhku.
"Kak, berhenti." Ujar ku menatap Kak Dj yang sejak tadi menggenggam tangan ku.
"Kenapa ar?" Ucapnya seraya melepas pelukannya.
"Gua enggak mau kerumah sakit. Gua baik-baik aja kok." Jawabku menjauhkan tubuhku dari Kak Dj
"Tapi ar...." Perkataannya ku potong saat aku mencari ponsel di saku seragamku namun tak ada.
"Handphone gua?". Tanyaku tajm ada kak DJ.
DJ memberikannya langsung...
Setelah mendapatkan ponsel ku, aku langsung mencari nomor yang ku beri nama hafiz. Setelah menemukannya aku langsung memencet tombol call.
"Hafiz, gua mau kerumah lo aja. Dan jangan bilang bunda."
"...."
"please, gua udah enggak papah kok fiz."
"..."
"Iya." Jawabku langsung menutup sambungan.
"Kita kerumah Hafiz sekarang." Ucapku setelah meletakkan ponselku sembarangan.
"Lo yakin?" Tanyanya memastikan.
"Udah ahh lebay lo, kaya baru kenal gua aja." Jawabku datar.
"Lo bawa obat enggak?"tanyanya lagi.
"Ngapain sih harus minum obat? Lagian gua udah lama enggak minum." Jawabku acuh.
"Kenapa enggak lo minum si ar? Kalo bunda dan hafiz tau pasti akan marah besar." Tanyanya.
"Bawel deh kak, gua capek mau tidur." Ujarku langsung mengalihkan wajahku dan memejamkan mata ku.