Revert To Me

Revert To Me
end....




.


.


#Pov Arin...


Tok...tokk...tokk


"Masuk aja."


"Ciee yang ulang tahun sendirian aja. makan lah traktir gua." Goda Dj yang masuk lalu berjalan kearah ku.


"Makan aja dibawah." Ucapku acuh.


"Maunya di Traktir diluar."


"Males kak." Ucapku seraya menopang kedua pipi ku dengan tangan ku.


"Sekali- sekali senengin gua dikit ngapa sih." Ucapnya memasang wajah cemberut.


"Yaudah sana keluar." Ucap ku ketus.


"Lah - lah?? songong nih bocah ngusir gua!" Ucapnya sok drama.


""Elo tunggu dibawah gua ganti baju dulu maksudnya." Jelasku.


"Ngemeng kek orang mah."


"Cot!" pekik ku kesal.


"Ck!" balas Dj.


Tak sampai lima belas menit aku sudah siap dan kini telah berdiri dengan sempurna didepan Dj yang tengah memainkan ponselnya.


"Ahhh,,, apaan nih baju lo kaya preman gitu? mana pake topi lagi. enggak mau!." Ucapnya sambil menunjuk pakaian yang ku kenakan.


"Ahh ribet banget lo mah."  Timpalku kesal.


"Gua maunya yang anggun. nanti kalo ada yang liat gua jalan ama lu disangkanya lo bukan ade gua lagi." Ucapnya.


"Ribet!" pekik ku lalu berjalan menaiki tangga.


Didalam kamar pandangan ku langsung tertuju pada gaun berwarna merah dengan desain yang terlihat simple namun masih ada isi elegan nya. Gaun merah ini adalah barang pemberian Hafiz khusus untukku pada saat acara ulang tahunnya akhir tahun lalu.


"Biar pun elo enggak disini tapi gua selalu ngerasa elo selalu ada disamping gua fiz" Ucapku berbisik hampir tak terdengar pada saat berkaca didepan cermin besar di kamar ku.


Lima belas menit kemuadian aku menuruni anak tangga. Namun pada saat aku sampai diruang tamu Dj Malah menghilang.


"toonnn...tooonnnn" (visual klakson mobil).


Aku terlonjak kaget...


"Djjjjjj..." pekik ku kesal.


"Lama lo ningrat" Ucapnya ketika melihatku tengah berdiri diambang pintu.


"Ribut yuk kak?" Tantangku kesal.


"Udah ahh gece laper nih gua." Ucapnya.


"Matre!"


"Nenek mu matre."


"Ck!" Decak ku kesal.


Pada saat didalam mobil ditengah kemacetan, entah mengapa suasana dari kami selalu saja tak pernah bisa akur semakin menjadi- jadi. entah dari masalah penting sampai masalah yang tidak penting selalu saja kami jadikan suatu masalah yang padahal itu sama sekali enggak ada hasil keuntungannya.


"Mau makan dimana sih? kok kearah kampus lo? Jangan yang mahal- mahal ya." Ucapku.


"Bawel elah Gua mau makan diwarteg tempat dulu sama hafiz." Ucapnya polos.


"Elah lo makan di warteg ae nyuruh gua anggun."


"Dasar Lanang!" Ucapnya menoyor kepala ku.


"Eeehh kita ke danau dulu ya?"  Ajak Dj...


"Boleh - boleh gua juga udah lama banget enggak kesana." Ucap ku meng iyakan penuh semangat.


Setelah menempuh perjalan hampir 30 menit kami melewati kemacetan akhirnya kami tiba di sebuah danau. Danau ini adalah tempat kami bertiga menghabis kan waktu disaat waktu senggang dulu, Danau yang penuh dengan kenangan Hafiz, danau yang penuh dengan tawa Hafiz, danau yang penuh dengan canda dan gurauan Hafiz, dan danau yang mungkin tau setiap kesedihan Hafiz.


Aku menatap air danau yang tenang tanpa pergerakan sedikit pun, Danau tersebut seakan merasakan hal yang sama, seperti kucing yang ditinggal pemiliknya. Kucing yang merasakan kehilangan Tuannya akan berjalan tanpa arah, diam, dan berlari tak menentu.


"Gua capek Kak, kalau harus terus nunggu dia yang udah jelas-jelas lupa sama gue." Ujarku sambil menatap air danau yang terlihat sangat tenang.


Sedangkan Dj yang ku ajak bicara masih sibuk dengan laptopnya yang sengaja ia bawa turun dari mobil dengan alasan "Takut hilang". Aku menyenggol lengan kirinya yang berada tepat disampingku, hingga ia tersadar.


"Lo udah gede ar. Lo pasti tau jawaban yang terbaik itu apa yang pasti lo harus ikhlas kalo misanya dia bener- bener enggak ada disini." Jawabnya sambil membawa ku kedalam pelukannya yang membuatku sangat merasa nyaman dengan wangi ditubuhnya yang mampu membuatku sangat betah berlama-lama dalam posisi seperti ini.


"Kak Dj, jangan pernah tinggalin gue ya meski pun lo udah punya cewek nanti." Ujarku dengan posisi yang masih berada dalam pelukannya.


"lo modus ya? meluk gue lama banget." Godanya sambil melepaskan tangan ku yang masih erat melingkar dipinggangnya.


"Biarin kaya gini dulu kak, gua kangen sama Hafiz." Ujarku dengan menenggelamkan wajahku kedalam dada bidangnya.


"Ohiya!! Gua mau nunjukin sesuatu."


"Apa?" jawabku mengangkat kepalaku dari dada bidangnya.


"Tapi lo harus janji enggak boleh tanya apapun sebelum semuanya selesai." Ucap Dj dengan senyum tipis.


Aku hanya mengangguk cepat.


"Ini kado ulang tahun lo dari Hafiz."


Dj mulai memutar video...


Terdapat Hafiz yang duduk dikursi roda dengan wajah yang sangat pucat namun masih dengan senyum khas Hafiz.


Tanpa sadar air mata ku menetes membasahi pipi, melewati bibir yang mulai mengering dan menghangatkan wajahku yang mulai mendingin ketika Hafiz mulai menyanyikan lagu Ucapan Selamat ulang tahun dengan suara yang masih sama seperti tahun lalu ia menyanyikannya untukku didepan semua orang. Namun, kali ini berbeda ia menyayikannya dalam keadaan yang sangat pucat dan wajahnya yang mulai menirus dari biasanya membuatku tak kuasa menangis.


Jangan nakal, Nurut sama bunda, dan Dj. Gimana pun begajulannya tuh bocah dia tetep kakak lo sama kaya gua dan Reno. Jangan pernah nangis karena gua rin. I love you, my little girl."


Kata- kata yang hafiz ucapkan sebelum video itu selesai sukses membuat air mata ku bertambah banyak membuat pipi ku semakin dipenuhi denga buliran- buliran air mata.


"I love you fiz___" Ucapku ketika video benar- benar habis.


Dj membawa ku di dalam pelukkan nya, sambil mengusap rambutku pelan.


"Ini cuma rencana kalian aja kan? Kalian mau ngerjain gua kan?" Ucapku didalam pelukkan Dj.


"Rin, Gua mau jelasin semuannya sama lo."


Lanjutnya,,


"Jadi video ini diambil satu bulan yang lalu sebelum Hafiz ngejalannin Operasi donor Hati."


"Ha__fiz sakit?" Tanya ku dengan nafas yang tersenggal- senggal.


"Waktu malam yang elo mabuk sebenernya Hafiz kesini untuk memberi tahu lo, gua dan bunda. Tapi sayang malam itu elo marah besar sama dia, padahal dia bela- belain kesini cuma untuk ketemu lo doang rin, waktu dia enggak banyak saat itu. Pas waktu mau menjelang pagi dia memutuskan untuk menceritakan semuanya ke bunda, mulai dari rasa bersalah sampai ke sakitnya dia. Elo tau dia hampir aja kehilangan nyawanya karena lupa minum obatnya saat diperjalanan ke Bekasi menuju rumah kakek lo." Jelasnya menjelaskan kejadian saat itu.


"Elo tahu rin betapa kacau Hafiz saat tau elo enggak ada dirumah, betapa merasa bersalahnya Hafiz saat lo maki- maki dia, saat elo ninggalin Hafiz dan lebih milih masuk kedalam kamar lo dan tiba- tiba Riri dateng katanya lo nangis dan kedinginan? Hafiz lah orang yang paling khawatir sama lo. Dia tulus sayang sama lo atau pun bunda, bukan karena dia merasa bersalah.


Di tulus cinta sama lo rin."


"Ha__fiz__di__ma__nna kak?" Tanya Ku mengangkat wajahku jauh dari pelukkannya.


"Gua enggak tahu rin. Yang pasti Hafiz sekarang koma, udah 1 hampir bulan setelah operasi. Dan Tiga hari yang lalu bokapnya Hafiz nelpone gua, katanya alat-alat penopang hidupnya mau dicabut Hari ini. Gua juga enggak ngerti kenapa alat- alatnya dicabut, kalo masalah biaya enggak mungkin. Yang pasti sekarang kita tinggal tunggu kabarnya aja."


"Kenapa elo atau pun bunda enggak kasih tau gua dari awal?" Ucapku bertanya.


"Hafiz ngelarang, dia enggak mau buat lo tambah stress."


"Tapi kalo kaya gini tuh gua jadi kaya adik yang enggak tahu diri kak!"


"Arin denger gua! Apa pun kabar yang kita dapet nanti itu adalah jalan yang terbaik tuhan." Ucap Dj kembali membawa ku kedalam pelukkan Dj.


Tiba- tiba ponsel milik Dj berdering pertanda sebuah panggilan masuk.


"Iya Om?"


....


"Apa om?"


....


"Iya om, pasti secepatnya sama kesana."


....


"Sama- sama om."


Aku hanya bisa menatap nanar wajah Dj yang tengah berbicara dengan seseorang disebrang sana.


Setelah memasukkan ponselnya kedalam saku celananya ia menghampiri ku dengan wajah sedih. Aneh padahal pada saat nemerima telphone tadi tersirat sebuah senyuman di wajahnya namun, sesaat menghilang begitu saja.


"Kenapa kak? Itu ayahnya Hafiz? Apa katanya?" Tanya ku penasaran.


"Alat- alat nya..."


"Kenapa? Hafiz baik- baik aja kan?"


"Alat- alatnya udah dicopot."


"Enggak- enggak boleh dicopot kak, gua enggak mau kehilangan kakak gua lagi." Ujarku dengan air mata yang semakin deras.


"Gua harus cepet- cepet pesan tiket pesawat soalnya..." Lagi- lagi Dj menggantung perkataannya.


"Apa?!" Ucapku lantang karena gemas dengan sikap Dj.


"Soalnyaaaaaaa, Hafiz udah sadar." Ucapnya menyerupai sebuah teriakan.


"Serius? Elo lagi enggak nyenengin gua doang kan? Bercanda lo enggak lucu!"


Ucapku antara Penasaran dan kesal.


"Sumpah demi ketemu pevita gua enggak bohong." Ucapnya penuh kebahagiaan.


"Ck! Yaudah ayo kita cari tiket dan langsung kesana." Ajak ku bergegas bangkit.


Akhirnya aku dan Dj bergegas menuju bandara setelah menyiapkan kebutuan kai seadanya dan tentunya kami telah mendapatkan tiket yang dibeli Dj melalui online dengan jadwal keberangkatan pukul satu siang.


______


Setelah menempuh perjalanan cukup lama meski pun sudah menggunakan taksi khas luar negeri akhirnya kami tiba di sebuah rumah sakit yang sangat megah. Aku langsung menarik tangan Dj agar ia mempercepat langkahnya yang sengaja dibuat lambat.


"Kak Cepet."


"Kangen Duluan ae noh kamarnya." Ucap Dj menunjuk sebuah kamar yang terletak di dekat  lift.


Tanpa memperdulikan Dj aku langsung pergi menuju kamar inap atas nama Hafiz.


"Ceklekk" (visual gagang pintu diputar).


Aku tersenyum puas ketika melihat Objek yang kini benar- benar nyata, setelah beberapa bulan ini objek nyata itu berubah menjadi ilusi. Kerinduan ku terbayar ketika melihatnya yang kini tengah terlelap pulas. Tenang rasa melihat Hafiz dari dekat, warna hidup ku seakan kembali, bahagia ku, kekuatan, serta cinta ku telah kembali.


--- END ---


.


.


.


. Ini adalah cerita paling absurd yang pernah ada. Dengan ending yang kacau, ahhh entah lah saya hanya mencoba mengembangkan potensi diri saya.


Kalo suka jangan lupa vote.


Kalo enggak yasudah terimakasih.


Nanti akan ada epilognya kok... Seliwww....