
.
.
kepergian hafiz beberapa hari yang lalu sukses membuat ku benar-benar terpuruk, bahkan ini lebih buruk dari kepergiannya yang pertama.
Entah aku harus senang ataupun sedih. Rasa ini berhasil membuatku seperti orang bodoh yang tak dapat berfikir sedikit pun.
"Udah lah rin toh semuanya juga udah berlalu, itu semua masa lalu. Hafiz juga udah ceritain semuanya dan dia juga udah minta maaf." Tutur Riri yang kini sedang duduk dibibir ranjang ku.
"Enggak segampang itu ri, oke walaupun gua udah maafin dia emang sekarang dia bisa ada disini? ENGGAK!"
"..." Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Riri.
"Gua kangen hafiz, Gua udah maafin dia kok ri tapi kenapa dia enggak ada disini sekarang? Gua sayang dia." Ucapku dengan air mata yang mulai membasahi pipi.
"Dia emang enggak ada disini rin tapikan lo bisa hubungin dia. bilang lo kangen dia bilang kalo lo juga punya rasa yang sama." Ucap Riri lembut.
"Tapi kalo dia marah sama gua gimana? nanti kalo misalnya dia enggak mau jawab gimana?" Tanyaku.
"Lo kenal hafiz kan? Dia itu enggak kaya gitu rin." Ucap riri memberikan laptop milik ku yang berada diatas meja belajar.
"Tapikan gua udah keterlaluan sama dia?" ucapku seraya bertanya.
"Udah coba dulu aja rin.. iiiihh ribet lo mah." Ucapnya yang langaung membuka aplikasi untuk video call.
"siap?" tanyanya yang ku jawab dengan anggukkan mantap.
.....
"Tuhkan enggak dijawab." Ucapku cemas.
"Mungkin dia sibuk rin, ummm,, aaaa kirim e_mail aja rin." Ucap Riri yang begitu semangat diakhir kalimat nya.
"Yakin?" Tanya ku ragu.
"Lama lo! sini biar gua yang ketikin." Ucapnya seraya merebut laptop dari tangan ku.
cepet balik le indonesia gua kangen lo." Ujar Riri yang membacakan tiap kalimat hasil ketikannya.
"Lo yakin ?" Tanya ku masih ragu.
"Udah ahh lama lo." Ujarnya seraya langsung mengklik tulisan 'Send'.
"Ahhh elo mah parah banget....aaaah gua belum siap ri, aduh mati gua..." Ucapku Frustasi.
"Udah si selo ae, lo juga gak akan mati. Tunggu balesan Hafiz ae berapa hari lagi."
****
Sore ini dengan sangat terpaksa aku pergi dengan Revo atas perintah Mimi teman Sd ku yang memaksa ku untuk berangkat keacara reunian menggunakan jemputannya dengan alasan aku takut tidak datang.
awalnya ku fikir ia akan menyuruh sopir pribadinya untuk menjemputku, tapi ternyata ia malah menyuruh Revo yang tak lain adalah sepupunya yang sekaligus mengisi acara malam ini sebagai penyayi diacara kami.
"Rin, kok lo diem aja sih? bisa enggak si rin kita satu hari aja enggak dingin gini? gua juga pengen diajak ngobrol sama lo kaya yang lain, gua juga pengen ketawa bareng sama lo kaya yang lain. Itu susah buat lo?" ujarnya dengan sesekali melirik kearahku.
"Udah lah Vo gua lagi enggak mau Ribut. Gua mau tenang untuk sampai acara ini selesai aja vo. please." Ucap ku datar.
Revo hanya mengangguk paham setelah itu ia kembali fakus pada jalanan.
setelah melewati keheningan yang cukup lama akhirnya semua keheningan itu pecah pada saat kami tiba didepan lobi pintu masuk sebuah gedung.
"Ayo rin."ajaknya memecah keheningan.
"Ummm,,, mendadak gua enggak enak badan. gua balik aja deh iya?" Ucapku mencari alasan agar aku dapat lolos dari tempat yang sebetulnya mewah namun berhubung didalamnya ada seseorang yang sangat ku hindari mengakibatkan tempat itu bagaikan Ruang mayat.
"Ada gua." Ucapnya lalu turun dan bergegas membuka pintu.
"Enggak ada hubungannya Vo" ucapku sambil menggigit bibir bawah ku.
"Pegang tangan gua dan nurut, pasti semua akan baik - baik aja." Ucapnya memasang wajah serius. Entah mengapa Ucapan Revo seakan memberikan aku kekuatan dan keberanian.
Ini pertama kalinya aku menuruti apa yang Revo katakan dan untuk pertama kalinya hati dan otakku seakan setuju dan percaya padanya.