Revert To Me

Revert To Me
Rumah Hafiz




Tidur ku terusik karena bising yang diciptakan oleh jam weker milik Hafiz. Aku mencoba meraih jam weker yang sedari tadi tak henti-hentinya berbunyi.


Namun apa daya jarak jam weker yang berjarak hafiz, karena setau aku hafiz tak akan bangun jika tak ada jam weker ataupun orang yang membangunkannya.


Tok...tokk..tokk..


"Fiz, udah jam 8 lu kuliah jam berapah?" Ujarku sambil mengetuk pintunya malas.


"Hafiz.... isssh bangun kek gua udah jatoh dari tempat tidur juga cuma gara-gara lo." Ucapku saat Hafiz tak kunjung membuka pintu.


"Hafizzz!" Pekik ku kesal.


" Ada apa si sayang?" Ucap seseorang dibelakang ku.


Sontak membuatku kaget dan langsung menoleh kesumber suara.


Aku menatapnya kaget, sedangkan orang yang ku tatap hanya memasang senyum sok manis yang dibuat-buat.


"Dari kapan lo disitu?" Tanya ku menyelidik.


"Dari tadi. Hahahaha" Jawabnya yang langsung diikuti tawanya.


"Enggak lucu lo jon." Ucapku kesal lalu meninggalkan masuk kedalam kamar Hafiz.


****


Aku memutuskan untuk mandi karena sejak kejadian kemarin sepulang dari makam Kak Reno aku belum sempat mandi dan mengganti pakaian ku.


Saat aku sedang melaksanakan ritual bersih-bersih dikamar mandi aku mendengar pintu kamar Hafiz seperti ada yang membuka, dan tak lama suara serak khas Hafiz terdengar.


"Rin, mandinya gece gua mau sarapan nih." Ujar Hafiz yang kini berada didalam kamarnya.


"Bawel lo jon." Jawabku asal


"Gua tunggu dibawah iya." Lalu ku dengar pintu kamar kembali berbunyi pertanda ditutup.


Setelah selesai mandi, aku langsung mengenakan pakaianku yang memang sengaja aku simpan disini untuk sekedar simpanan  jika aku bermalam dirumahnya tanpa recana seperti saat ini..


****


"Kalo pun gua bilang enggak boleh. Toh udah lo pake anak kecil." Ujarnya datar.


Aku hanya menampilkan senyum pasta.


"Bukannya baju lo masih ada disini iya?" Tanyanya sambil menyeruput susu coklat yang dibuatkan bi sumi.


"Males ahh, gua lagi pengen pake baju panjang." Jawabku menunjuk kemeja putih polos panjang yang kini aku kenakan.


"Alah bilang aja biar ngerasa lo ngerasa dipeluk teruskan sama gua." Jawabnya menggoda.


"Yeee, omes lo jono bulis."


"Apaan tuh bulis?"


"Bule islam."


"Yeee bagus dong ada cowok bule kaya gua yang tampannya ngalahin tukang burbur didepan, soleh, dengan kelebihan suara serak-serak seksi." Ujarnya sangat pede.


"ciiihhh, jijik gua ama lo jon." Ucapku melempar kulit roti kepada Hafiz.


"Beneran, awas aja lo kalo gua udah nemu my princes, lo akan gua depak dari disini." Ucapnya menunjukkan wajah smirknya.


"Biiii~ liat deh kak Hafiz masa katanya mau usir aku." Adu ku pada Bi Sumi yang kini sedang memerhatikan kelakuan kami dimeja makan.


Iya,, Bi sumi adalah orang tua kedua bagi Hafiz, karena Bi Sumi yang Sudah merawat hafiz sejak bayi hingga sekarang dikondisinya yang sudah memasuki usia renta.


Sejak kecil Bi Sumi memang selalu ikut makan bersama keluarga hafiz. Bagi Hafiz Bi Sumi adalah ibu yang nyata selain bunda ku. Karena sejak lahir Hafiz tak pernah merasakan kasih sayang yang nyata dari ibu kandungnya yang sudah meninggal sewaktu melahirkannya.


"Sudah-sudah ayo makan nanti kakak telat lho." Ucap Bi Sumi mengalihkan perdebatan.


Setelah selesai makan aku dan hafiz langsung menuju garasi rumah Hafiz. Untuk mengantar Hafiz berangkat kekampus.


Setelah melihat mobil hafiz keluar dari pekarangan rumah aku langsung kembali kekamar Hafiz.