Revalina

Revalina
Undangan pernikahan



"Lo mau bilang apa sih Rev?. Tadi waktu sholat gue nggak terlalu fokus loh penasaran sama apa yang lo mau bilang," Reva menghembuskan nafasnya lalu berucap.


"Apa lo..."


"Sil, didepan ada paket buat kamu," lagi-lagi ucapan Reva terputus oleh perkataan Sarah. Reva pun menyuruh Silvi menerima paket itu terlebih dahulu sebelum dia berucap.


"Dari siapa Sil?" tanya Reva, Silvi menggeleng sembari membuka paket itu dan melihat sebuah undangan pernikahan didalamnya.


Air mata Silvi jatuh begitu saja saat membaca nama orang diundangan itu. Tertulis nama Rai Oliver dan Bia afshana.


"Kenapa nangis Sil?" Reva menjadi panik saat melihat air mata Silvi semakin deras keluar, dia sontak memeluk tubuh sepupunya itu yang dibalas oleh Silvi, saat ini Silvi memang butuh pelukan.


"Dia Rev, orang yang gue cintai, sekarang lo bayangin lo dapat undangan pernikahan dari orang yang lo cintai, sakit Rev, sakit," entah bagaimana perasaan Reva saat ini, ada senang dan tentu lebih banyak sedihnya. Senang karena ternyata bukan Nathan orang yang dicintai Silvi, sehingga dia tak harus mengorbankan perasaannya untuk sepupunya itu, dan sedih melihat Silvi sedih.


Reva sangat menyayangi Silvi, begitupun sebaliknya, tak ada yang boleh menyakiti salah satunya, tapi sekarang, Silvi sudah tersakiti dan Reva tak bisa berbuat apapun, ingin marah pada orang yang dicintai Silvi itu, tapi dia sendiri tak punya hak untuk mengatur perasaan orang itu agar mencintai Silvi.


"Ini ada apa?, kenapa kamu nangis Silvi?" tanya Malik. Silvi segera menghapus air matanya dan menampilkan senyum terbaiknya untuk sang papa.


"Aku nggak papa kok pa, tadi lagi main drama sama Reva, ikutin artis-artis di film," setelah mengatakan itu, Silvi langsung pamit ke kamar dengan membawa undangan itu, mama dan papanya tak boleh tau dia mencintai Rai.


Malik menatap Reva meminta penjelasan keponakannya itu, tapi Reva juga dengan cepat lari menyusul Silvi kekamar. Ayah dari Silvi itu tau bahwa putrinya menyembunyikan sesuatu, dan dia bukan orang bodoh yang percaya dengan alasan tak masuk akal yang Silvi berikan tadi.


"Hari ini gue nggak masuk yah Rev, gue lagi nggak enak badan," Reva mengangguk sambil mengelus kepala Silvi dengan lembut. Semalaman Silvi menangis tanpa suara didalam kamar mandi karena tak ingin mengganggu Reva yang tengah tertidur, Silvi juga mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja dan tak perlu ditemani Reva sehingga Reva memilih tidur.


Tapi pagi ini, Reva yakin Silvi pasti begadang semalam, dapat dilihat kantong mata sepupunya itu ditambah mata Silvi yang membengkak dan hidung yang memerah.


"Apa perlu gue juga nggak masuk buat nemenin lo?" tawar Reva yang langsung ditolak Silvi.


"Iya, nggak akan gue bilang," Silvi tersenyum lemah membuat Reva menjadi tak tega meninggalkan sepupunya itu sendiri, dia yakin kalau dia pergi, pasti Silvi akan kembali menangis. "Jangan nangis yah Sil, gue akan vc lo nanti, awas aja sampai gue lihat mata lo semakin membengkak,"


Saat keluar dari kamar, Reva berpapasan dengan Sarah yang hendak masuk kekamar dirinya dan Silvi.


"Silvi mana Rev, dia nggak kuliah?"


"Silvi nggak enak badan tante,"


"Kok bisa!. Yaudah kamu berangkat gih, tante samperin Silvi dulu," kata Sarah dengan wajah khawatir, Reva pun menyalimi tangan tantenya itu dan berlalu pergi. Jam segini omnya juga pasti sudah pergi kerja.


Sesampainya dikampus, Nathan langsung menghampirinya yang hendak masuk kedalam kelas.


"Silvi mana Rev?, dia baik-baik aja kan?" Nathan juga sudah tau perihal undangan pernikahan Rai dan Bia, pria itu yakin Silvi pasti juga sudah tau.


"Sakit,"


"Pasti karena udangan pernikahan itu kan," Reva mengangguk membuat Nathan menghembuskan nafasnya lelah.


Di group SMA mereka juga sedang membahas perihal pernikahan Bia dan Rai, banyak yang mengucapkan selamat dan berjanji untuk datang dan ada juga yang meminta maaf karena tak bisa datang. Rai dan Bia adalah salah satu best couple di SMA mereka dulu dan sekarang semuanya bahagia karena mendengar kabar bahagia ini, kecuali Silvi.


Aku harus menemui Silvi untuk menghiburnya, dia pasti akan semakin terluka jika membaca pesan di group SMA ini, apalagi Bia dan Rai membalas ucapan teman-teman dengan kalimat yang bisa dibilang sangat bahagia, batin Nathan.


"Memang siapa nama orang yang dicintai Silvi itu Nat?, kemarin aku belum sempat baca undangannya karena menenangkan Silvi," baru saja Nathan ingin menjawab, dosen sudah berada didepan mereka ingin masuk ke dalam kelas.