Revalina

Revalina
Tidak bisa mencintai



"Ini udah jadi tepungnya, kamu bulat-bulat yah," Reva pun mengangguk antusias. Malam ini dia dan Indah benar-benar memasak kue bersama. Reva bahagia masuk dalam keluarga Rai yang semua keluarganya menerima dirinya dengan tangan terbuka.


"Ohya ma, kok kita bikin kuenya banyak banget dan bibi juga masak makam malam banyak, emang mau ada tamu?" tanya Reva.


"Bukan tamu sih. Mama ngundang tante sama om kamu kesini buat makan malam, sama Silvi juga, mereka juga kangen katanya sama kamu," ekspresi wajah Reva tiba-tiba berubah, dia juga merindukan tante dan omnya, terlebih Silvi, namun mengingat kejadian tadi siang dikampus membuatnya berfikir dua kali untuk bertemu sepupunya itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 8.00, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan yang datang Sarah, Malik, serta Silvi.


Reva dan Sarah pun langsung berpelukan. Sarah adalah orang yang membuatnya tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu dan Malik membuatnya tidak kehilangan kasih sayang seorang ayah.


"Aku kangen banget sama tante dan om," ujar Reva dalam pelukan Malik.


"Kamu jangan tanya lagi gimana rindunya kami sama kamu, terutama Silvi, dia ngerasa kehilangan kamu banget Rev," ucap Malik membuat Reva melirik kearah Silvi yang berada disamping malik, sepupunya itu tersenyum manis ke arahnya seolah tidak terjadi apa-apa tadi siang diantara mereka.


"Ma, pa, om, tante, Rai, aku boleh nggak bicara berdua sama Reva?" tanya Silvi.


"Boleh dong sayang, tapi nanti yah, kita makan malam dulu, udah lapar ini tante," ucap Indah.


Reva mengambilkan makanan untuk Rai, terlihat dengan jelas dia sudah tau berapa porsi makanan suaminya itu.


"Makasih sayang," Reva terkejut mendengar panggilan 'sayang' dari Rai saat dia menyerahkan piring pada suaminya itu, namun sesaat kemudian, Reva berusaha terlihat biasa saja.


Kita sebenarnya impas Rev, gue menerima lamaran Nathan dan lo menikah sama Rai. Gimana yah tanggapan lo kalau tau gue suka sama Rai, batin Silvi.


Silvi ingin berada pada posisi Reva saat ini, menjadi istri dari Rai Oliver, merasakan bagaimana rasanya diperhatikan dan disayang bukan hanya sebagai sahabat tapi pasangan oleh pria itu.


"Mau ngomong apa?" tanya Reva. Kini dia dan Silvi berada dihalaman belakang rumah untuk mengobrol bersama.


"Lo mau nostalgia?, bukan mau ngomong sesuatu hal yang penting ke gue?"


"Gue pengen kita kayak dulu Rev, dekat, nggak kayak gini," Silvi dapat mendengar helaan nafas berat dari Reva.


"Lo yang buat kita kayak gini, Sil,"


"Karena cowok?, apa hanya karena ini hubungan persepupuan kita hancur Rev, bahkan kita udah kayak saudara kandung. Gue tau gue nyakitin lo, tapi gue rasa udah cukup balasan lo ke gue Rev, gue capek terus-menerus punya rasa bersalah ke lo," ucap Silvi.


"Gue kecewa Sil, dan kekecewaan itu lama sembuhnya. Gue hanya butuh waktu untuk bersikap kayak dulu lagi ke lo, lo nggak perlu terus merasa bersalah ke gue dan terus mohon-mohon ke gue untuk bersikap kayak dulu lagi, gue akan bersikap kayak dulu lagi disaat hati gue udah sembuh, tanpa harus lo mohon-mohon," ucap Reva, lalu melangkah pergi. Dia takut air matanya jatuh dihadapan Silvi.


Mau sekuat apapun Reva menghindari Silvi, mau sebesar apapun Silvi menyakitinya, Reva tetap sayang sama sepupunya itu, bahkan rasa sayangnya tak berkurang sedikit pun. Reva juga terluka melihat wajah memelas Silvi, melihat air mata Silvi jatuh, namun rasa kecewanya kembali menggerogoti hatinya untuk tetap menghindari Silvi.


Setelah Sarah, Malik dan Silvi pulang, Reva dan Rai langsung masuk kedalam kamar begitu pula dengan Indah dan Bryan.


Reva memandang Rai yang matanya terpejam, lelaki itu berada disebelahnya dan sepertinya sudah tertidur. Perlahan tangan Reva mengelus lembut rambut Rai sambil tersenyum.


"Kamu suami yang baik, Rai. Aku fikir kita akan sama kayak di novel-novel yang suaminya dingin dan cuek, lalu jatuh cinta di akhir, namun aku salah, kamu lembut dan perhatian, apakah kita juga akan berakhir saling mencintai?" tak lama Reva akhirnya tertidur, lebih tepatnya ketiduran, dan tangannya berada dikepala Rai.


Sebenarnya dari tadi Rai tidak tidur, dia mendengarkan semua yang Reva ucapkan. Beginilah Rai setiap malamnya, menunggu Reva tidur, lalu dia akan pindah ke sofa, namun Reva lebih dulu bangun daripada Rai, jadilah Rai selalu ketahuan.


Jika ditanya alasan Rai apa. Tentu, karena dia tidak mencintai Reva. Semua yang Rai lakukan, perhatiannya dan rasa sayangnya kepada Reva tidak lebih dari sekedar tanggung jawab suami kepada istrinya, tidak lebih karena ingin menjaga jantung Bia, agar jantung itu terus berdetak untuknya.


Maaf Reva, kalau untuk mencintai kamu, aku tidak bisa, tapi untuk yang lainnya, aku janji pasti akan melakukan yang terbaik untukmu, batin Rai.