
"Selamat pagi," sapa Reva seraya tersenyum manis saat melihat Rai membuka matanya.
Pagi ini lagi-lagi Reva mendapati Rai tertidur disofa, Reva sudah menanyakan hal ini pada Rai, alasan kenapa suaminya itu tidur di sofa dan Rai mengatakan dia ketiduran.
Hanya orang bodoh yang percaya dengan kata-kata itu bukan, ini bukan hanya sekali, tapi sudah dua kali, dan terlebih lagi awalnya itu Rai tidur dengannya diatas kasur, anehnya saat dia bangun, Rai sudah berada disofa, karena tak mau ambil pusing, Reva pun tak bertanya lebih lanjut lagi.
"Pagi," jawab Rai sambil membalas senyuman Reva.
"Aku udah siapin baju kamu. Aku berangkat duluan nggak papa kan?"
"Bareng aja, aku anterin kamu dulu,"
"Ini udah jam 7 Rai, aku ada kelas jam 8, nanti telat," ujar Reva dan Rai malah terdiam. "Yaudah, aku pergi yah, dada Rai," Reva pun melambaikan tangannya dan keluar dari kamar.
"Ma, pa, aku ke kampus dulu yah," kata Reva sembari menyalimi tangan kedua orang tua Rai yang tengah berbincang kecil di ruang keluarga.
"Rai nya mana?, kenapa nggak bareng?"
"Masih mandi, aku ada kelas jam 8, aku berangkat dulu yah ma, pa,"
"Yaudah, kamu hati-hati yah. Kalau ada kelas pagi, kasih bangun suami kamu cepat, supaya bisa anterin kamu dulu," kata Bryan.
"Nggak papa kok pa, aku juga bisa kok pergi sendiri,"
Sesampainya dikampus, Reva terdiam sebentar sebelum memasuki kelasnya. Jujur, dia tidak marah pada Silvi, dan tak akan pernah bisa marah pada sepupunya itu, tapi Reva bingung harus bersikap seperti apa, hatinya kecewa pada Silvi.
"Reva, gue kangen!" kata Silvi antusias hendak memeluk Reva yang baru saja memasuki kelas, Reva sontak memundurkan langkahnya agar Silvi tak memeluknya membuat mata Silvi berkaca-kaca. "Lo nggak kangen sama gue, Rev?"
"Nggak usah lebay deh Sil, gue capek berdiri, pengen duduk, nanti aja peluk-pelukannya," Reva pun berjalan ke kursinya meninggalkan Silvi yang terdiam ditempat berdirinya tadi.
Selama pembelajaran berlangsung, Silvi tak begitu konsentrasi, matanya terus menatap Reva yang berada disampingnya. Tak ada suara cerewet dan senyum menggoda dari sepupunya itu, wajahnya datar.
"Rev ke kantin yuk!" ajak Silvi saat jam istirahat.
"Sorry Sil, gue malas jalan ke kantin,"
"Yaudah, kalau gitu gue ke kantin beli makanan, terus kita berdua makan disini," Reva lagi-lagi menggeleng.
"Nggak!, gue kenyang,"
Interaksi keduanya tak luput dari pandangan Nathan yang memang masih ada dikelas itu, dia menatap Silvi kasihan. Nathan tak bisa melihat wajah kecewa Silvi karena penolakan Reva.
"Rev, jarak kantin dan kelas kita itu dekat loh, kenapa nggak temenin Silvi aja sih," ujar Nathan membuat Reva sontak menatap pria itu yang sekarang berdiri didepan mejanya.
"Kenapa nggak lo aja yang temenin Silvi,"
"Dia maunya sama lo, kalian dari dulu kan selalu bareng," ucap Nathan.
"Udah Nathan nggak papa, gue bisa pergi sendiri," Silvi yang tak mau suasana berubah mencekam pun langsung pergi dari sana. Wajahnya terlihat sangat sedih.
"Dia sepupu lo Rev, tega lo liat wajah sedihnya," kata Nathan.
"Ini urusan gue sama Silvi, Nathan, please nggak usah ikut campur!"
"Lo berubah Rev, nggak kayak dulu yang ramah dan hangat. Gue sendiri juga bingung kenapa lo bisa berubah kayak gini,"
Saat Nathan pergi, perlahan air mata Reva jatuh satu persatu. Dia sayang Silvi, teramat sangat menyayanginya, tapi kenapa malah Silvi yang membuatnya terluka. Bukankah Silvi tidak mencintai Nathan, kenapa lamaran Nathan diterima olehnya.