
Reva, gadis itu tengah merapikan bajunya untuk dia masukkan ke dalam koper, dia tidak tau apakah ini keputusan yang benar atau tidak, dirinya hanya mengikuti kata hatinya untuk pergi. Menenangkan diri disebuah tempat, dan mungkin akan kembali.
"Reva please kita bisa bicara baik-baik, nggak kayak gini caranya," kata Rai sambil memegang tangan istrinya itu, menghentikan pergerakan Reva merapikan bajunya.
Reva menatap Rai dengan tatapan tajam.
"Aku butuh waktu Rai, ini nggak mudah buat aku!"
"Kamu fikir ini mudah buat aku. Kamu bayangin Rev, aku harus kehilangan Bia tepat diacara pernikahan kami, ini mendadak dan aku bingung harus bersikap kayak gimana,"
"Kamu bingung? Seharusnya kamu fikir dulu sebelum bertindak, Rai, pakai otak kamu, kenapa kamu malah milih nikahin aku, buat aku terjebak dalam pernikahan ini, dan buat aku sama kamu malah saling menyakiti,"
"Oke, aku minta maaf udah bawa kamu kedalam pernikahan ini, tapi tolong jangan tinggalin aku," Reva mengunci resleting kopernya lalu menurunkannya dari tempat tidur kemudian menatap mata Rai.
"Kita harus pisah Rai, aku sama kamu butuh waktu untuk memikirkan semua ini, kita introspeksi diri sendiri-sendiri aja dulu, untuk bagaimana kedepannya, nanti kita bicarakan lagi," Rai menggeleng, dia masih ingin Reva berada didekatnya.
Reva menarik kopernya dan melangkah pergi, setetes demi setetes air mata Reva kembali jatuh bersamaan dengan setiap langkahnya.
"Reva!" Rai segera mengejar Reva, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk menahan Reva tetap ada dirumah ini, lebih tepatnya berada disisinya.
Reva yang sudah menuruni tangga rumah bertemu dengan Indah dan Bryan, sepasang suami-istri itu terkejut melihat Reva membawa koper, mereka tidak menyangka Reva sampai ingin keluar dari rumah.
"Reva apa-apaan ini nak, kamu mau kemana?" tanya Bryan.
"Maafin aku ma, pa, mungkin ekspektasi kalian tentang menantu nggak ada di aku. Aku udah coba buat kuat, tapi nyatanya emang nggak bisa," Reva mengusap air matanya dan Indah sontak memeluknya.
Menurut Indah, Reva bertahan sampai sejauh ini dengan orang yang tidak mencintainya dan tidak pernah melihat kearahnya sudah sangat luar biasa.
"Maafin anak mama, Reva, dia sudah sangat menyakiti kamu," Indah melepaskan pelukannya pada Reva lalu mengusap pelan pipi menantunya itu.
"Kamu nggak boleh keluar dari rumah ini tanpa izin aku!!" ujar Rai dengan tegas yang sudah berada disamping Reva.
"Aku tau kamu suami aku, dan aku juga tau keluar tanpa izin suami itu hukumnya haram, tapi maaf Rai, untuk kali ini, aku nggak bisa," Rai mencekal tangan Reva saat gadis itu hendak melangkah pergi. "Lepasin aku, Rai!"
"Masalah kita cuman satu Rai, yaitu kamu," Reva menarik paksa tangannya dari cekalan suaminya itu, dia merasakan sedikit perih pada tangannya saat sudah terlepas. "Sekarang aku tanya, kamu cinta nggak sama aku?"
Rai terdiam mendengar pertanyaan itu, dibilang iya juga tidak, dibilang tidak juga iya, hatinya terbagi dua saat ini, antara Bia dan Reva, atau memang dia mencintai Reva karena jantung Bia? Rai bingung.
"Nggak bisa jawab kan? Kalau kamu tanya hal itu ke aku, aku akan langsung jawab iya,"
"Kasih aku waktu satu bulan lagi Rev, aku akan belajar untuk mencintai kamu," Reva menggeleng, dia tidak ingin lebih sakit lagi.
"Ma, pa, aku pergi dulu. Maafin Reva yah sudah buat kalian kecewa, maaf juga kalau selama Reva disini, Reva cuman bisa nyusahin kalian," kata Reva, lalu menyalimi tangan Indah dan Bryan secara bergantian.
"Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu, nak. Mama tunggu kamu kembali," Indah sebenarnya tak ingin Reva pergi, tapi sepertinya keputusan Reva sudah bulat untuk pergi.
"Kita keluarga, Reva, kabari papa atau mama kalau kamu butuh sesuatu," Reva mengangguk sembari tersenyum.
"Reva, pikirkan tentang ini lagi, tolong jangan pergi!" Reva tak memperdulikan ucapan Rai, dia mengambil tangan suaminya itu dan menyaliminya.
"Kita lebih baik pisah rumah dulu, Rai, untuk sama-sama berfikir jernih mau dibawa kemana pernikahan kita,"
Reva akhirnya pergi dari rumah itu, rumah yang mempunyai kenangan antara dirinya dan suaminya. Reva pergi bukan karena tidak cinta lagi sama Rai, dia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa sakit.
"Mau kemana mba?" tanya supir taxi yang dihentikan oleh Reva.
"Jalan saja dulu pak," sejujurnya Reva tidak tau kemana dia akan pergi karena tidak mungkin dia kembali kerumah Silvi, dia tidak ingin merepotkan tante dan omnya lagi atau membuat keduanya khawatir.
"Apa mba sudah tau mau kemana?" tanya supir taxi itu lagi karena mereka sudah cukup lama putar-putar didaerah situ. Reva melihat harga yang harus dibayarnya nanti dan ternyata sudah cukup banyak, bukankah dia harus hemat mulai dari sekarang.
"Hmm, kita ke hotel xxx aja pak," hanya itu yang terlintas di pikiran Reva saat ini, mungkin dia akan menginap satu atau dua malam di hotel, sembari dia mencari kontrakan lalu dia juga akan mencari pekerjaan.
Semangat Reva, kamu pasti bisa, kamu harus bisa berdiri diatas kaki kamu sendiri tanpa merepotkan siapapun, batin Reva.