
"Rev! ini pasti karena lo kecapean, kan gue udah bilang jangan terlalu dipaksa, kalau capek berhenti!!" marah Silvi, dia benar-benar khawatir pada sepupunya itu. Saat mendengar Reva pingsan, dia langsung berlari ke UKS dan tak memperdulikan bu Maya yang meneriaki namanya.
Dan saat ini mereka sudah berada dirumah, lebih tepatnya dikamar.
"Lo bisa marah Sil, gue terima, tapi jangan kencang-kencang nanti tante Sarah tau,"
"Mama juga udah bilang sama lo, home schooling aja, tapi nggak pernah mau dengar," Silvi benar-benar perduli pada Reva, dia tidak mau terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Gue masih sanggup kok sekolah biasa. Home schooling nggak enak, nggak bisa ketemu sama teman-teman, dan pasti gue semakin dilarang ngelakuin aktivitas diluar," Silvi sontak memeluk sepupunya itu karena mata Reva sudah berkaca-kaca. Bagi Silvi, Reva segalanya, begitupula dengan Reva.
08**********
Hy, gimana kabarnya?, udah baikan kan?"
Sebuah pesan masuk ke hp Reva, gadis itu mengernyitkan dahinya bingung karena nomor itu nomor baru.
Revalina
Ini siapa?
Nathan
Gue, Nathan
Revalina
Dapat nomor gue dari mana?
Nathan
Ada deh. Udah baikan nggak?
Revalina
Udah, makasih yah tadi udah nolongin gue
Nathan
Sama-sama, gue panik tau nggak sih liat lo kesakitan kayak tadi
"Rev, ngapain lo senyum-senyum sendiri?, bukannya tadi lo udah mau nangis," kata Silvi heran karena melihat Reva senyum-senyum ketika memainkan hpnya.
"Bukan gitu, cuman lo aneh aja,"
"Lo pernah jatuh cinta Sil?" tanya Reva membuat Silvi tersenyum. Silvi tau apa yang membuat gadis itu senyum-senyum sendiri, pasti karena cowok.
"Jatuh cinta yah lo?"
"Ntah, tapi gue rasa nggak mungkin secepat itu,"
"Emang lo suka sama siapa?" tanya Silvi penasaran.
"Nathan," Silvi sontak terdiam, dia membeku ditempatnya, bahkan matanya pun tak berkedip. Nathan, tapi lelaki itu baru saja bilang kalau dia masih mencintai Silvi, kasihan Reva kalau dia tau Nathan mencintai sepupunya.
"Lo yakin?"
"Belum sih,"
"Nathan itu playboy Rev!, nggak usah deh sama dia, mending lo jaga jarak sebelum lo benar-benar jatuh cinta sama dia, gue takut lo sakit hati nantinya," bukan karena Silvi cemburu atau menyukai Nathan makanya dia menjelek-jelekkan pria itu, hanya saja dia tak ingin perasaan Reva terluka.
"Masa sih, kalau gue lihat sih nggak,"
"Gue udah lama banget kenal sama dia, bahkan kita sahabatan dulu, dan dia suka gonta-ganti cewek," jangankan gonta-ganti, Nathan tak pernah sekalipun pacaran sebenarnya karena terus menunggu Silvi, tapi karena Silvi terus mengejar Rai, makanya dia tak pernah berbalik arah kearah Nathan.
"Ayo makan, papa udah tunggu kalian di meja makan," kata Sarah yang sudah membuka pintu kamar putrinya itu, Reva dan Silvi pun mengangguk lalu melangkah menuju meja makan bersama Sarah.
Apa benar yah Nathan playboy, tapi kenapa harus cowok playboy sih yang menarik perhatian gue, padahal selama ini nggak ada cowok yang berhasil narik perhatian gue, batin Reva.
Gue harus ngomong sama Nathan besok, dia harus lupain gue, kalau dia nggak mau, berarti dia harus jaga jarak sama Reva. Reva nggak boleh jatuh cinta sama Nathan, batin Silvi.
"Lo yakin udah baik-baik aja, nggak usah dipaksain ke kampus deh Rev kalau masih sakit, nanti gue izinin," kata Silvi pagi itu, dia khawatir kejadian kemarin akan terulang lagi.
"Cerewet banget sih Sil, udah baikan kok,"
"Lo yah orang khawatir malah dibilang cerewet," Reva langsung memeluk tubuh Silvi erat. Walaupun kedua orang tuanya meninggal, dia tak pernah kehilangan kasih sayang karena orang tua Silvi memberikan itu, yah walaupun terkadang ada titik dimana dia sangat merindukan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya sendiri, tapi setidaknya, Reva masih bisa merasakan arti kekeluargaan.
"Love you Sil,"
"Najis," kata Silvi sembari tersenyum.