Revalina

Revalina
Berpisah?



"Kamu baca buku ini deh, bagus banget loh," ujar Rai pada Reva sembari memberikan sebuah novel berjudul "Tuhan Kembalikan Dia."


Reva mengamati buku itu sejenak, lalu mengambilnya dari tangan Rai. Cukup lama mereka di toko buku itu barulah pulang ketika Reva sudah menemukan dua buku yang dicarinya.


Sesampainya mereka dirumah, Rai dan Reva segera membersihkan diri. Reva juga langsung menuju dapur setelah membersihkan dirinya untuk membantu Indah menyiapkan makan malam, tak lupa dia membawa buku novel yang Rai berikan tadi, karena setelah membantu Indah, dia ingin langsung membaca buku itu diruang tamu.


"Itu novel kamu Rev?" tanya Indah dengan pandangan mengarah pada buku yang Reva letakkan diatas kulkas.


"Iya ma, Rai yang suruh baca. Mama udah pernah baca novel itu?"


"Belum, tapi Bia pernah cerita tentang novel itu ke mama, Bia suka novel itu, katanya cinta diantara kedua tokohnya sangat tulus," Reva sontak terdiam, jadi ini alasan Rai ingin Reva membacanya, apa karena novel itu novel kesukaan Bia. "Reva, kenapa? mama ada salah ngomong yah?"


"Nggak kok ma," ujar Reva sembari tersenyum menutupi kesedihannya.


Reva berjalan menuju halaman rumah, dia duduk disalah satu kursi yang ada disana sambil tangannya memegang novel "Tuhan Kembalikan Dia" perlahan Reva membuka novel itu dan membacanya.


"Reva, ayo masuk, kok disini?" ujar Rai yang sudah berdiri dihadapan Reva. Reva terkejut kala melihat hari sudah gelap, berarti ini udah malam, astaga dia lupa waktu saking seriusnya membaca novel.


"Aku terlalu serius baca novelnya, Rai, jadi lupa waktu deh, aku kira masih sore," Rai tersenyum lebar membuat Reva heran, Reva persis Bia jika sudah membaca novel, dia akan lupa segalanya. Reva bertambah heran kala tangan Rai mengelus pipinya dengan lembut, perlahan wajah Rai maju ke wajahnya membuat Reva menahan salivanya dengan susah payah.


"Rai, are you okay?" ujar Reva sambil menahan tubuh Rai agar tak semakin dekat.


"Aku kangen kamu Bia," air mata Reva akhirnya terjatuh juga. Hatinya terasa begitu sakit, bahkan Rai membayangi bahwa dirinya adalah Bia. Kenapa suaminya itu selalu memberinya rasa sakit.


"Kamu udah keterlaluan!" Reva mendorong tubuh Rai dengan sekuat tenaganya membuat Rai tersadar, yang ada didepan Rai saat ini bukan lah Bia, tetapi Reva. "Aku bukan Bia, Rai!"


"Cukup!! kamu sadar nggak sih berkali-kali kamu nyakitin perasaan aku. Aku tau kamu kangen sama Bia, aku juga tau gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang, tapi kamu juga harus ingat Rai, yang jadi istri kamu itu bukan Bia, tapi kenapa kamu harus buat aku jadi bayang-bayangnya Bia,"


"Reva, Rai, ini ada apa?" tanya Indah yang baru saja datang dari dalam rumah diikuti dengan Bryan. Mereka terkejut kala mendengar suara keributan dari halaman rumah dan suara itu adalah suara Reva. Sepasang suami istri itu semakin terkejut kala melihat wajah Reva sudah berlinang air mata.


"Aku tau aku salah, aku minta maaf Rev, tapi aku nggak bisa lupain Bia," Indah dan Bryan mulai paham alasan keduanya bertengkar, Indah sudah menebak bahwa hal ini pasti akan terjadi.


"Aku nggak pernah nyuruh kamu buat lupain dia, Rai. Aku cuman nyuruh kamu buat berhenti nganggap kalau aku itu Bia dan stop nyuruh aku secara halus untuk jadi seperti Bia. Aku tau alasan kamu menikahi aku itu apa, tapi aku serius sama pernikahan ini Rai, tapi kayaknya kamu nggak ser..."


"Aku juga serius Rev, aku mau menikah sekali seumur hidup dan itu sama kamu," ucap Rai memotong ucapan Reva.


"Kamu bilang kamu serius?" Rai mengangguk. "Kalau kamu serius, kamu akan berusaha untuk mencintai aku, menerima aku dengan tulus sebagai Reva bukan karena jantung Bia ada sama aku. Tapi cuman aku, Rai, cuman aku yang serius dan membuka hati buat kamu. Kamu nggak, kamu masih terjebak dengan masa lalu kamu,"


"Reva, Rai, kita bisa bicara hal ini baik-baik didalam rumah dengan kepala dingin, nggak dengan emosi seperti ini," ujar Indah yang melihat suasana semakin memanas.


"Nggak ma, aku udah capek,"


"Reva kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, kamu harus tetap berjuang buat pernikahan kamu. Mama yakin suatu saat nanti Rai akan mencintai kamu sebagai Reva," ujar Indah sembari mengusap pelan bahu Reva untuk menenangkan gadis itu.


"Rai minta maaf lagi sama Reva, minta maaf sampai kamu di maafin sama dia," pinta Bryan membuat Rai langsung mengangguk.


"Maafin aku Rev, aku nggak akan ulangin kejadian ini lagi," Rai memegang tangan Reva dengan wajah penuh penyesalan, namun Reva langsung menarik tangannya, tak ingin disentuh oleh Rai.


"Memang nggak akan pernah kejadian lagi, karena aku mau kita pisah," ujar Reva membuat tubuh Rai seakan membatu ditempatnya.