
Kali ini diruang makan itu bukan hanya ada Reva, Indah, Bryan dan Rai, tapi Silvi juga berada disana. Dia tadi sebenarnya ingin pulang, namun Indah dan Rai memaksanya ikut makan lebih dulu.
Silvi yang hendak mengambil nasi bersamaan dengan Rai yang juga ingin mengambil nasi, alhasil tangan keduanya berpegangan disendok nasi. Hal itu sontak membuat Reva menatap Silvi dan Rai bergantian.
"Duluan aja Sil," ujar Rai. Tangannya juga sudah dia tarik kembali.
"Nggak papa Rai, kamu aja duluan,"
"Tapi..." ucap Rai terpotong oleh ucapan Reva.
"Aku saja duluan," Reva mengambil sendok nasi itu dan mulai menyendok kan nasi di piringnya dan di piring Rai. Mereka pun mulai makan dengan keheningan.
"Makasih makan malamnya om, tante, Rai, Reva," ujar Silvi seraya tersenyum.
"Sama-sama sayang, kamu pulang sama siapa?" tanya Indah.
"Palingan aku cari taxi aja didepan,"
"Rai, antar Silvi pulang, kasihan, udah malam, nggak baik juga anak cewek pulang sendirian," Rai pun mengangguk, sedangkan Silvi langsung melihat kearah Reva, dan Reva langsung mengalihkan wajahnya, tak ingin tatapannya beradu dengan tatapan Silvi.
"Nggak usah Rai, gue bisa pulang sendiri kok,"
"Nggak papa Sil, gue antar aja,"
"Silvi bisa pulang sendiri, Rai, dia bukan anak kecil lagi yang perlu kamu antar," semuanya sontak menatap Reva, mungkin kata-katanya tidak akan aneh jika bukan Reva yang mengucapkannya.
"Rev, kasihan Silvi dong kalau pulang sendiri, sementara aku bisa antar dia pulang,"
"Aku nggak izinin kamu buat antar Silvi pulang, kenapa Silvi nggak telfon Nathan aja buat jemput dia," ujar Reva.
"Benar yang dibilang Reva, Rai, gue bisa pulang sendiri," Silvi benar-benar tak suka suasana ini, suasana canggung dan nggak enakan antara dirinya dan Reva.
"Gue temenin sampai lo dapat taxi,"
"Nggak Rai, kam..."
"Reva, please!! kamu tuh kenapa sih, Silvi itu sepupu kamu sendiri loh, kok tega banget sama dia," ujar Rai memotong ucapan Reva. Kali ini istrinya keterlaluan, bukannya Reva dan Silvi saling menyayangi, lantas kenapa Reva bersikap seolah-olah membenci Silvi.
Rai pun keluar dengan Silvi, Silvi sungguh merasa tak enak pada Reva, dia terus menoleh kebelakang menatap Reva yang tak ingin menatapnya.
"Nggak kok ma. Aku ke kamar dulu yah," tangan Reva dicekal oleh Indah saat dia hendak pergi membuat Reva menatap pada mama mertuanya itu.
"Kalau ada masalah, cerita sama mama, jangan dipendam sendiri, akan jadi boomerang buat diri kamu sendiri nantinya,"
Sesampainya Reva dikamar, hpnya berdering dan ternyata Silvi yang menghubunginya, Reva pun mengangkat panggilan itu.
Dalam telfon.
"Assalamualaikum Rev, gue nggak bermaksud nyakitin perasaan lo," ujar Silvi merasa bersalah.
"Walaikumsalam. Lo masih sama Rai?"
"Udah nggak, gue udah di taxi dan Rai udah pulang,"
"Bagus deh,"
"Lo maafin gue kan Rev?" tanya Silvi.
"Gue nggak pengen bahas ini. Titip salam yah sama papa dan mama lo," Reva pun mematikan panggilan telfon itu, dia tak ingin berbicara lebih lama lagi dan berakhir mengucapkan sesuatu yang akan menyakiti Silvi.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan terpampang lah wajah Rai, Rai masuk dengan tatapan datar dan berhenti dihadapan Reva.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa sama Silvi?"
"Nggak ada masalah apa-apa,"
"Aku sebenarnya nggak pengen bertengkar sama kamu Rev, tapi aku harus tau alasan kamu bersikap seperti itu sama sepupu kamu sendiri," ucap Rai.
"Kamu nggak perlu tau Rai, ini masalah aku sama Silvi,"
"Aku sekarang suami kamu, jelas aku berhak tau," Reva dan Rai beradu tatapan, tatapan kecewa pada mata Reva dan tatapan emosi pada mata Rai.
"Kamu nggak berhak tau semua tentang aku, karena pernikahan kita bukan pernikahan pada umumnya Rai, aku dan kamu nggak saling mencintai," ujar Reva hendak melangkah pergi kearah kasur, namun Rai mencekal tangan istrinya itu. "Lepasin!!" Reva berusaha sekuat tenaga menarik tangannya namun Rai lebih kuat menahannya.
"Jantung kamu masih berpacu lebih cepat kan jika di dekat aku?" Reva tak habis pikir dengan pertanyaan Rai, disaat seperti ini, dia masih mengkhawatirkan tentang jantung Bia yang harus terus berdetak lebih cepat untuknya. Seharusnya Reva sadar, dia tak akan pernah mendapatkan cinta dari Rai.
"Nggak perlu khawatir, jantung Bia masih berpacu lebih cepat jika berada didekat kamu," Rai pun melepaskan cekalannya ditangan Reva, dia merasa bersalah saat melihat tangan Reva merah akibat cekalannya. "Rai, gimana kalau kamu cari orang lain yang bersedia terima jantung Bia, karena sekarang aku lebih takut hidup di dunia ini dari pada mati,"